
Ernest memang tampil begitu berbeda dari biasanya. Dengan cara berpakaiannya sekarang, ditambah dengan tas ransel di pundaknya, dia sudah benar-benar seperti seorang mahasiswa sungguhan.
Tira berkata dalam hati sambil meletakkan tasnya, bersiap duduk dan mengikuti kuliah hari ini.
# # # # # # #
"Tolong kalian lebih fokus lagi dalam mengikuti pelajaran hari ini." Suara dosen yang memperingatkan beberapa mahasiswi yang masih sibuk mengajak Ernest berbicara langsung terdiam begitu mendapatkan teguran dari dosen mereka.
Tira yang duduk di depan, sedang Ernest beberapa bangku di belakangnya langsung menoleh dengan sedikit mendongakkan kepala karena tempat duduk mereka yang seperti tribun, sehingga posisi duduk Ernest ada di belakang Tira dan letaknya lebih tinggi dari tempat duduknya.
Dan bukan hanya Tira, tapi hampir semua mahasiswa yang duduknya di depan langsung menoleh ke arah mata dosen yang sedang menatap tajam dengan wajah protesnya ke arah para mahasiswi yang masih saja berusaha menarik perhatian Ernest.
Mendengar teguran itu, Ernest langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk berpindah duduknya lebih ke depan, menjauhi para mahasiswi yang sedari tadi memang terus berusaha mengajaknya bicara, meskipun dia sudah memberikan kode-kode bahwa kuliah sudah dimulai dan dia tidak ingin lagi meladeni mereka daripada ada masalah di jam kuliah mereka.
Tempat duduk yang masih cukup longgar kebetulan berada tepat di belakang Tira, di samping Janetta yang matanya tampak terbeliak kaget, tidak percaya karena Ernest memutuskan untuk duduk di sampingnya.
Tira yang sudah fokus kembali ke arah dosen yang sedang mengajar, hanya tersenyum tipisb sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana para mahasiswi sudah seperti semut mengerubungi gula saat melihat Ernest, yang mau tidak mau, Tira harus mengakui, mungkin di kampus itu belum ada laki-laki sekeren Ernest yang berhasil mencuri perhatian banyak orang di sekitarnya.
"Untuk tugas membentuk kelompok band untuk menyajikan lagu jenis instrumental. kalian ada waktu dua minggu untuk berlatih sebelum kalian tampil untuk mendapatkan penilaian." Perkataan Romeo sebelum berakhirnya sesi pelajaran kuliahnya membuat para mahasiswa dan mahasiswi saling berpandangan dan saling berbisik.
(Musik instrumental adalah musik yang dibuat dari satu atau lebih bunyi alat instrumen dan bukannya vokal atau suara manusia. Artinya, tidak ada lirik dalam musik instrumental. Di mana musiknya dibuat dari permainan sekelompok alat musik seperti gitar, bass, piano, drum, dan flute).
__ADS_1
"Hasil penampilan kalian akan menjadi pendukung utama nilai ujian akhir semester kalian, jadi lakukan dengan sebaik mungkin. Untuk anggota kelompok kalian, aku sendiri yang akan menetapkannya. Besok silahkan lihat di layar pengumuman untuk nama-nama anggota grup band kalian...."
"Hah...." Perkataan Rome disambut dengan suara dess...ssahan disertai tarikan nafas panjang oleh hampir seluruh peserta kuliah hari itu, karena mereka berharap, mereka bisa memilih sendiri anggota kelompok mereka.
Selain itu, banyak dari mereka yang mahasiswi, yang ingin menarik Ernest dalam kelompok mereka.
Sayangnya, Romeo sudah memutuskan untuk dia sendiri yang akan menetapkan nama-nama orang dalam masing-masing kelompok.
"Kita akhiri kuliah kita hari ini. Selamat pagi." Tanpa perduli dengan wajah-wajah kecewa yang ditunjukkan oleh para mahasiswi yang diajarnya, Romeo berkata sambil berlalu pergi dari panggung tempatnya mengajar.
"Kenapa sih kita tidak bisa memilih anggota grup kita sendiri?"
"Aduh, bagaimana kalau kita tidak satu grup Babe?"
"Aku harap aku tidak satu grup dengan orang yang tidak begitu aku kenal."
Suara-suara yang menyatakan kekecewaan mereka, langsung terdngar begitu Romeo meninggalkan kelas.
"Tira... bagaimana kalau kita berdua tidak satu grup? Padahal aku ingin sekali satu grup denganmu." Anna berkata sambil memajukan bibirnya dengan wajah kecewa.
"Ya harus dijalani Anna, kan memang sudah menjadi keputusan pak Romeo." Dengan sikap tenang, Tira berkata sambil meraih tasnya, dan menggantungkannya di bahu kanannya.
__ADS_1
# # # # # # #
"Hei Tira. Kamu sudah menunggu lama?" Angel langsung menyapa Tira dan duduk tepat di depan Tira yang sudah menunggunya di kantin bersama dengan Anna.
"Eh, baru saja. Bahkan aku belum sempat memesan makan siangku." Tira menjawab pertanyaan Angel sambil tersenyum.
"Kalau begitu...."
"Permisi... boleh aku duduk di sini?" Suara Angel langsung terputus begitu Ernest mendekat ke arah meja mereka dan meminta ijin untuk bergabung di meja mereka.
Melihat Ernest yang datang dengan membawa nampan berisi makanan, serta berkata ingin bergabung, baik Anna maupun Angel menatap ke arah Ernest dengan wajah tidak percayanya,
Baik Anna maupun Angel, saat ini sedang menatap Ernest dengan mata melotot, dan juga bibir terbuka karena melongo, sedang Tira hanya tersenyum tipis begitu melihat reaksi heboh kedua orang itu.
"Silahkan, aku tidak keberatan, dan aku rasa.... mereka berdua juga pasti tidak akan keberatan." Tira berkata sambil menunjuk kedua temannya yang langsung tersadar, dan dengan buru-buru mengatupkan bibir mereka yang terbuka di depan Ernest yang hanya tersenyum melihat tindakan dua gadis itu.
"Tidak keberatan." Baik Anna maupun Angel langsung menjawab tidak keberatan terhadap permintaan Ernest secara bersamaan.
"Terimakasih." Dengan sikap sopan, dan gerakan yang terlihat elegan, Ernest berkata sambil meletakkan baki berisi makanan yang dia bawa ke atas meja, melepaskan tas ranselnya, menggantungkannya di sandaran kursi, dan sedikit menarik kursi itu sebelum benar-benar duduk di sana.
Angel yang duduknya tepat bersebelahan dengan Ernest, karena di bagian depan Tira duduk di samping Anna, merasa begitu beruntung bisa duduk di samping Ernest yang mengernyitkan keningnya setelah menatap ke atas meja yang tampak hanya berisi nampan miliknya saja.
__ADS_1