
"Sebagai orang yang mengaku sudah berpengalaman dalam masalah percintaannya, sepertinya aku harus meragukan kemampuanmu itu Enzo." Evan yang sedang menyetir mobilnya menjawab pertanyaan Enzo dengan sikap tetap tenang.
"Apa maksudnya? Bukannya aku tadi sudah bilang kalau aku sudah bisa menebak kalau Luis itu suka dengan Tira? Tidak perlu memancingnya seperti yang tadi kamu lakukan." Enzo berkata sambil meringis, merasa percaya diri dengan kemampuannya melihat situasi dan kondisi tadi.
"Kamu tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesi. Kalau sekedar menyukai Tira, siapa yang bisa melarang? Tapi kalau dia sudah terobesi dengan Tira, itu beda cerita.... Apa kamu tidak melihat bagaimana cara Luis menatapku dan Tira tadi, ketika kami berdua berpura-pura saling bersikap manis?" Kata-kata Evan membuat Enzo terdiam sebentar dan memutar otaknya dengan cepat.
Ah... benar kata Ernest, tadi aku sempat kaget begitu melihat perubahan pada gestur tubuh dan tatapan mata Luis ketika melihat Evan yang bersikap mesra pada Tira, dan Tira yang dengan santainya mengelap wajah dan tangannya dengan saputangan dari Evan, sambil terus tersenyum manis pada Evan.
Enzo berkata dalam hati sambil berusaha mengingat kejadian tadi di restoran ketika Tira tanpa sengaja sudah menghirup teh panasnya dan menyemburkannya tanpa sadar.
Tatapan mata Luis tadi memang terlihat aneh, jauh berbeda dengan awal pertemuan kami dan ketika aku mengatakan bahwa aku dan Evan adalah saudara sepupu Tira. Benar kata Evan... cara Luis menatap Tira ketika menerima bantuan dari Evan tadi tampak... yah... sedikit mengerikan.
Enzo kembali berkata dalam hati dan menyadari ada sesuatu yang aneh pada Luis tadi.
"Apa kamu sedang berusaha mengatakan kalau sebenarnya Robin hanya dijebak dan pelaku teror yang sebenarnya adalah Luis?" Enzo langsung bertanya begitu otaknya memikirkan kemungkinan itu.
"Robin bukan sekedar kambing hitam, karena dia memang melakukan teror dari Tira. Melihat sekilas laporan dari Ernest, beserta bukti-bukti yang dia miliki, dan juga sedikit bocoran dari hasil ivestigasi polisi terhadap Robin, aku berani memastikan kalau Robin adalah orang yang benar-benar menjadi peneror Tira." Evan lagi-lagi menjawab pertanyaan Enzo dengan sikap tenang.
"Lalu Luis?" Enzo bertanya sambil menggerakkan tubuhnya ke samping, ke arah Evan, sehingga dia bisa dengan leluasa berbicara sambil menatap wajah Evan, karena pembicaraan mereka kali ini terasa begitu seru bagi Enzo.
"Kenapa dengan Luis? Daripada berpikir kalau Luis menjadikan Robin sebagai kambing hitam, kenapa kamu tidak terpikir kalau-kalau, sebenarnya... bisa saja pelaku teror pada Tira, dilakukan oleh lebih dari satu orang?" Sikap Evan yang tetap tenang walaupun sedang membicarakan masalah yang begitu serius, membuat Tira tersenyum tipis.
Pantas saja Evan bisa memenangkan hati Alaya. Dengan sikapnya yang terlihat tenang, tapi selalu dapat menguasai keadaan dan kondisi lawan dengan baik. Evan yang memang sangat jeli dan cerdas, bisa dipastikan kalau hanya orang seperti Evan yang bisa membuat Alaya jatuh cinta padanya.
__ADS_1
Tira berkata sambil mengingat bagaimana kisah cinta antara Evan dan Alaya yang penuh dengan drama, sampai-sampai Alaya sempat mencoba untuk mencari cara agar rencana perjodohan mereka dibatalkan, karena Alaya merasa Evan bukanlah laki-laki yang setia dan sudah ingkar janji padanya. Untung saja semua usaha Alaya bisa digagalkan oleh Evan, dan sekarang mereka memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia. Apalagi sekarang Alaya sedang mengandung.
Tira langsung tersenyum begitu mengingat semua kejadian antara Alaya dan Evan waktu itu.
Memang setelah semua kejadian itu lewat, Alaya pernah menceritakan kepada Tira tentang semua hal buruk dan juga aneh, yang pernah dilakukan Alaya untuk membuat Evan membatalkan pernikahan mereka.
Tapi sayangnya, dari semua yang dilakukan oleh Alaya, tidak ada satupun yang berhasil karena kemampuan Evan dalam menganalisa keadaan, dan kehebatannya yang justru membuat kondisi selalu berbalik, dimana pada akhirnya Alaya tidak bisa melawan Evan sama sekali.
Setiap jebakan, ataupun rencana licik Alaya pada Evan, selalu berakhir dengan Alaya sendiri yang jadi terjebak oleh Evan, dan tidak bisa menghindar dari pesona seorang Evan.
"Dan yang satu peneror itu adalah Luis... benar begitu?" Enzo dengan cepat menjawab pertanyaan Evan.
"Betul sekali..." Evan dengan tegas menjawab pertanyaan Enzo, yang pada akhirnya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Evan, mendengar penjelasanmu barusan, rasanya aku menyesal sekali sudah bersusah payah mendapatkan Gitar Reach Out to Asia Fender Stratocaster untuknya, sampai harus meminta bantuan Amadea, adik sepupu Ornado yang menjadi model idola anak pemilik gitar itu sebelumnya." Enzo berkata dengan wajah penuh penyesalannya.
Bukan masalah uang puluhan miliar yang sudah dikeluarkan untuk membeli gitar itu yang membuat Enzo menyesal, tapi bagaimana dia berusaha keras untuk tahu tentang hal yang disukai Luis, dan berjuang untuk memberikannya, sebagai tanda penghargaan, ucapan terimakasih karena sudah menolong Tira, tapi pada kenyataannya Luis sendiri juga melakukan teror kepada Tira, itu yang membuat Enzo merasa kecewa dan menyesal.
"Apa kamu menyesal karena uang puluhan miliar untuk gitar itu? Bukannya Alvero yang membayarnya untuk itu? Lagipula... daripada sebuah gitar sekelas Gitar Reach Out to Asia Fender Stratocaster, keselamatan Tira jauh lebih berharga kan? Karena itu biarkan saja dia menerima gitar itu, dan menunggu waktunya untuk dia mempertanggungjawabkan semua tindakannya pada Tira." Evan kembali berkata sambil terus melajukan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan sedang, menuju kantor polisi.
"Apa itu artinya, kamu tadi dengan sengaja memang mengatakan kepada Luis tentang Tira yang jauh lebih berharga daripada gitar itu? Kata-katamu tadi, sudah seperti sebuah ancaman bagi Luis...."
"Bagus kalau dia sadar, khawatirnya, dia justru menjadi dan tidak sadar diri. Setelah ini, aku harus bertemu Ernest dan memintanya untuk meningkatkan kewaspadaan dalam urusan menjaga Tira." Evan berkata sambil memperlambat laju mobilnya setelan memasuki area parkir kantor polisi yang memanggil Tira untuk memberikan kesaksian tentang teror yang dilakukan oleh Robin padanya.
__ADS_1
# # # # # # # #
"Apa itu adalah tempat tinggal pria yang selama ini terlihat sering mengunjungi Eliana di Gracetian?" Ernest yang duduk bersama Erich di dalam mobil yang dalam posisi berhenti itu, bertanya kepada Erich yang langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan info, hasil dari penyelidikan Sam, asisten Evan waktu itu, sebenarnya Erich ingin segera terbang ke Amerika dan melakukan sendiri penyelidikan tentang laki-laki itu.
Akan tetapi waktu itu, Alvero dengan tegas melarang Erich untuk melakukan itu, apalagi beberapa hari setelahnya, mereka memang harus berangkat ke Amerika untuk menghadiri undangan dari Ornado yang mengadakan pameran, dan Dave yang papanya sedang berulang tahun.
Mengingat rasa sakit dan trauma serta kemarahan yang sudah ditorehkan kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Eliana, yang begitu membekas di hati Erich, Alvero sengaja meminta Erich mengajak Ernest untuk melakukan penyelidikan agar emosi Erich tidak terpancing dengan mudah.
"Sepertinya dia orang yang cukup kaya kalau dilihat dari rumah tempat tinggalnya, kalau memang itu adalah rumah milik orang itu." Ernest berkata sambil mengamati rumah yang ada di seberang jalan, tempat mereka sedang memarkirkan mobil yang digunakan oleh Erich dan Ernest.
"Pastinya orang kaya, kalau tidak, mana mungkin dia bisa begitu bebasnya keluar masuk ke Gracetian untuk sekedar mengunjungi Eliana. Aku sudah mencari info, bahwa orang itu datang ke Gracetian hanya untuk menjenguk Eliana, setelah itu dia akan kembali terbang ke Amerika." Ernest sedikit menaikkan salah satu sudut bibirnya begitu mendengar penjelasan Erich.
"Kalau begitu... bisa jadi dia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Eliana, sampai-sampai dia rela melakukan hal seperti itu." Komentar Ernest membuat Erich menahan nafasnya cukup lama dengan mata mencoba menatap sekelilingnya dengan sikap awas.
"Theo...." Erich bergumam pelan sambil menatap tajam ke arah rumah megah tempat yang disinyalir sebagai tempat tinggal pria misterisu yang akhir-akhir ini sering mengunjungi Eliana itu.
"Hah? Siapa maksudmu?" Ernest langsung bertanya begitu mendengar Erich menggumamkan nama itu.
"Nama panggilan laki-laki itu... Theo...." Erich menjawab pertanyaan Ernest dengan sikap acuh tak acuh, seolah dia begitu malas menyebutkan nama pria itu.
"Ini semua info yang bisa didapat oleh Sam saat menyelidiki tentang siapa Theo sebenarnya." Erich kembali berkata sambil menyodorkan sebuah map ke arah Ernest, yang segera meraihnya dari tangan Erich karena merasa penasaran.
__ADS_1