
“Wuih, sebegitu banyaknya kado yang kamu dapat, apa tidak lebih baik kita sumbangkan saja ke orang lain?” Anna berkata sambil memasukkan benda-benda yang merupakan kado dari orang tidak dikenal itu ke dalam kardus berukuran sedang.
“Aku sedang memikirkannya, yang penting singkirkan dulu dari kamar tamu.” Tira berkata tanpa menoleh ke arah Anna.
“Tolong pisahkan barang yang bagus dan pantas diberikan pada orang lain, dan barang yang harusnya dibuang.” Tira berkata seperti itu, karena baginya ada beberapa barang yang terlihat cukup mengerikan, dan tidak selayaknya itu diberikan kepada orang lain.
Kalau Anna sedang sibuk memasukkan kado-kado itu ke dalam kardus, Tira sibuk mengeluarkan semua kartu ucapan yang biasanya datang bersamaan dengan kado[kado itu, dan selama ini dia simpan dalam laci di laci nakas yang ada di kamar ruang tamu juga.
“Melihat benda-benda ini, sepertinya yang memberimu kado bukan orang sembarangan, dia pasti memiliki cukup banyak uang untuk bisa membeli semua kado-kado yang tidak murahan ini.” Anna berkata sambil menelisik kembali satu persatu benda yang sedang dibereskannya sekarang, meskipun sebenarnya setiap kali Tira mendapatkan kado-kado itu, dia akan memberitahukannya kepada Anna dan membiarkan Anna untuk melihatnya.
Bahkan kadang Tira sengaja menunggu Anna untuk membukanya bersama-sama dengan sahabatnya itu.
“Kita bisa mulai memikirkan, siapa kira-kira orang di sekitarmu yang memiliki cukup banyak uang. Kita mulai dari….”
“Apa yang kamu maksudkan Anna? Siapa nama yang mau kamu sebut? Orang yang aku kenal adalah orang-orang di lingkungan kampus. Dan kamu tahu, baik dosen ataupun mahasiswa di tempat ini, rata-rata berasal dari keluarga kaya.” Tira langsung menanggapi perkataan Anna yang hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Benar juga….. Lalu darimana kita bisa mulai darimana untuk menyelidiki siapa pelaku teror yang sebenarnya?" Anna berkata seolah bertanya pada dirinya sendiri yang sampai detik ini, belum terbayang siapa sosok yang mungkin melakukan teror pada Tira itu.
"Untuk sekarang aku tidak mau memikirkannya, karena kita bukan detektif….”
“Eh, Tira, bagaimana kalau kita menyewa detektif untuk menyelidiki siapa orang gila yang sudah menerormu itu?” Seolah mendapatkan pencerahan, Anna langsung mengajak Tira untuk mencari detektif untuk menyelesaikan masalahnya.
“Tidak mau. Lebih baik aku meminta bantuan kak Alvero daripada detektif. Daripada nanti justru masalah akan semakin bertambah runyam, apalagi kalau detektif itu tahu aku adalah putri Gracetian, takutnya dia mengambil keuntungan dengan menjadikan masalah ini sebagai bahan untuk mendapatkan uang dengan memberitakannya di media.” Tira langsung menolak ide Anna.
“Bagaimanapun, ini di Amerika, bukan di Gracetian, yang sepenuhnya bisa berada dalam kendali orang-orang di keluargaku. Kamu tahu kehidupan para bangsawan di Gracetian, terutama keluarga istana selalu menjadi sorotan duni yang begitu penasaran dengan kami. Aku tidak mau mengambil resiko yang tidak jelas seperti itu.” Tira kembali menjelaskan alasannya untuk tidak mau menyewa detektif di Amerika.
Bukan karena dia tidak percaya dengan kemampuan para detektif itu, tapi dia harus memikirkan statusnya sebagai putri Gracetian yang rentan diserang gosip bagi orang-orang yang ingin mendapatkan berita.
“Memang sampai saat ini, boleh dikata, negara dengan sistem pemerintahan absolut yang paling besar, sukses, dan kaya adalah negara Gracetian. Negara dengan sistem kerajaan yang masih menganut dengan taat semua aturan baku tata cara hidup jaman kerajaan kuno, tapi tetap mengikuti kemajuan jaman. Tidak heran orang-orang seperti kami, yang ada di luar Gracetian begitu penasaran dengan kehidupan kalian.” Anna mencoba memberikan pemikirannya tentang hal itu.
“Karena itu lebih baik aku menyelsaikan masalah ini bersama dengan kak Alvero. Dia pasti punya solusi terbaik tanpa harus membuat masalah ini terekspos.” Tira berkata sambil mengangkat karton yang sudah di tutup rapi oleh Anna.
__ADS_1
“Aku akan menyimpannya di gudang. Kalau ada waktu luang, aku akan menyumbangkannya ke panti asuhan.” Tira berkata sambil berjalan ke arah salah satu ruangan kecil di bagian belakang apartemennya untuk menyimpan karton berisi hadiah-hadiah dari penerornya itu.
“Oke. Aku akan membuang bagian yang tidak ingin kamu simpan ini.” Anna menanggapi perkataan Tira sambil mengambil kantong plastik berisi beberapa kado yang bagi Tira tidak layak untuk diberikan orang lain, dan memasukkannya ke tempat sampah yang ada di ujung lorong bangunan apartemen itu.
# # # # # # #
“Anna! Waktunya kita berangkat ke bandara.” Tira yang melihat sosok Anna baru keluar dari toilet kampus langsung memanggil temannya itu.
“Oke… tunggu sebentar.” Anna yang hari ini memang berjanji untuk mengantar Tira menjemput kedua orangtua Tira langsung menjawab.
“Janetta, tolong kembalikan buku ini ke perputaskaan supaya bisa kamu pinjam atas namamu.” Anna berkata sambil menyodorkan buku yang dia pinjam di perpustakaan dan saat ini Janetta membutuhkan buku itu untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
“Oke Anna, aku akan mengurusnya hari ini.” Sebuah tepukan pelan di bahu Anna dilakukan Janetta sebelum dia pergi menjauh.
“Ayo kita pergi sekarang. Rasanya tidak sabar bertemu dengan kedua orangtuamu. Beruntungnya aku bisa menjadi orang yang bisa bertemu dengan dua orang penting dari Gracetian.” Anna berbisik pelan sambil menggamit lengan Tira menuju tempat parkir.
__ADS_1
# # # # # # #
“Apa kabarmu nak?” Begitu bertemu dengan Tira, Ava Adalvino, adik kandung Vincent yang merupakan ibu kandung dari Tira langsung merentangkan tangannya dan begitu Tira mendekat ke arahnya, sebuah pelukan erat dan hangat langsung dilakukan oleh Ava, dan menghujani Tira dengan ciuman dengan penuh rasa rindu.