MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
TIDAK SABAR MENUNGGU


__ADS_3

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu Janeta? Apa ada sesuatu yang kamu tahu tentang masalah teror itu? Apa….”


“Tidak… tidak Ernest… aku juga baru mendengarnya kemarin dari beberapa teman.” Ernest hanya tersenyum mendengar bagaimana Janeta yang langsung memotong perkataannya.


Aku tidak mungkin mengatakan kepada Ernest bahwa sebenarnya aku curiga bahwa orang yang seringkali membeli informasi dariku adalah peneror itu. Bisa-bisa aku ikut terserat masuk ke pernjara, karena dianggap ikut membantu pelaku teror. Akh… aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk masalah ini.


Janeta berkata dalam hati dengan sikap tidak tenang, karena dia baru menyadari bahwa kemarin ada kasus penangkapan Robin yang dicurigai sebagai peneror dan sudah melakukan banyak ancaman pada Tira.


“Aku juga tidak menyangka kalau Robin bisa bertindak nekat seperti itu. Padahal selama ini Robin orang yang dikenal ramah dan sopan. Bukannya begitu menurutmu?” Ernest bertanya seolah-olah tidak tahu bahwa sebelumnya dia sudah menemukan rekaman cctv yang memang menunjukkan bagaimana Robin yang sedang mengancam Tira di perpustakaan waktu itu.


Meski begitu, Ernest tetap berusaha bersikap tenang dan tidak mengintimidasi agar Janeta tidak merasa terpojok dan justru membuatnya tidak bersikap jujur di hadapan Ernest.


Senyum Ernest yang memang selalu saja menenangkan bagi orang di sekitarnya, membuat Janeta menghela nafas panjang.


“Sebenarnya….”


“Janeta!” Suara seseorang yang memanggilnya membuat Janeta membatalkan niatnya untuk bicara terus terang pada Ernest.


Aduh, sepertinya aku belum benar-benar siap untuk mengatakana hal yang sebenarnya pada Ernest. Aku benar-benar takut dianggap menjadi satu komplotan dengan peneror itu.

__ADS_1


Janeta berkata sambil melangkah menoleh ke arah sumber suara dimana tampak Angel yang sedang melambaikan tangannya.


“Ernest, sepertinya aku harus pergi sekarang. Lain waktu mungkin kita bisa bertemu dan membicarakan tentang hal itu.” Seolah panggilan itu meyakinkan Janeta untuk segera menjauh dari Ernest agar Angel tidak mencurigainya, berpikir kalau dia mengatakan pada Ernest tentang bagaimana selama ini dia selalu menjadi informan Angel juga.


“Aku akan menunggunya Janeta, dan jangan khawatir karena aku orang yang bisa diandalkan dan bisa menjaga rahasia.” Dengan sengaja Ernest berkata dengan nada yang cukup suara pelan sambil tersenyum, agar Janeta merasa nyaman untuk menceritakan apa yang ada dalam pikirannya pada Ernest.


“Tidak sekarang Ernest, tapi aku akan menceritakan sesuatu padamu saat aku siap…. Maaf… aku harus pergi sekarang.” Janeta membalas perkataan Ernest dengan suara yang terdengar jauh lebih pelan, dan dengan buru-buru dia segera menjauh dari Ernest.


“Sebenarnya apa yang terjadi, sikap Janeta benar-benar membuata penasaran dan mencurigakan. Apa dia tahu sesuatu tentang Robin sebagai peneror?” Ernest berkata sambil berpura-pura tidak lagi perduli dengan kepergian Janeta dan langsung melangkah pergi menuju ruangan Romeo, untuk mengecek apakah Tira masih ada di sana.


Sekaligus… tentunya juga untuk mengecek apakah Luis masih saja bersama Tira hingga saat ini.


Setelah Ernest berjalan cukup jauh dari kelasnya tadi dan tidak banyak orang yang lalu lalang di sekitarnya, Ernest segera melakukan panggilan pada Romeo.


“Kenapa Pak? Apa ada kabar terbaru tentang peneror itu?”


“Tidak… tidak ada hubungannya dengan itu. Kita sudah menyerahkannya kepada polisi, biarkan mereka yang mengurusnya. Aku mau memberitahumu bahwa Tira baru saja dari tempat ini.” Romeo berkata sambil tersenyum.


“Apa ada hal penting yang sudah Bapak sampaikan pada Tira?” Dengan hati penasaran Ernest segera bertanya.

__ADS_1


“Aku baru saja mengatakan padanya kalau lebih baik dia segera mengucapkan terimakasihnya kepada Luis, dan pihak kampus berencana memberikan promosi untuk dia bisa menjadi dekan. Dengan di usia semuda itu bisa menjadi dekan di kampus ini, akan membuat Luis semakin menonjol dan memiliki karir yang menjanjikan di kampus ini.” Perkataan dari Romeo membuat Ernest menghentikan langkah-langkah kakinya dan mencari tempat untuk dia duduk.


Ada perasaan tidak tenang mendengar bagaimana saat ini semua orang sedang memuji dan kagum dengan tindakan Luis.


“Kata Tira, untuk masalah pertemuan untuk mengucapkan terimakasih kepada Luis, kamu yang sudah mengaturnya, karena itu aku tadi ingin menghubungimu….”


“Jangan khawatir Pak Romeo, aku sudah mengatur tempat dan waktu pertemuan itu. Dari Gracetian akan ada perwakilan dari keluarga Tira untuk mengucapkan terimakasihnya pada Luis.” Jawaban Ernest membuat Romeo terlihat puas, karena berpikir bahwa tindakan Luis pasti akan membawa dampak besar bagi kampus, karena pihak kerjaan Gracetian pasti sangat berterimakaih pada Luis, meskipun sampai saat ini Luis belum tahu bahwa Tira adalah putri Gracetian.


“Bagus kalau begitu, semoga semuanya berjalan dengan baik. Oke, aku akan menutup teleponnya, karena aku harus mengajar setelah ini….”


“Eh tunggu Pak Romeo… dimana Tira sekarang? Apa dia masih di sana?” Sebelum Romeo benar-benar menutup teleponnya, dengan buru-buru Ernest segera menanyakan tentang keberadaan Tira.


“O, tidak, aku menghubungimu setelah Tira pergi dari tempat kerjaku. Mungkin dia sudah pulang, karena tadi aku sempat mendengar dia berbicara dengan orang bernama Edi, yang katanya akan menjemputnya.” Romeo menjawab pertanyaan Ernest tanpa sadar bahwa itu membuat Ernest merasa kecewa, tidak berhasil mendapatkan waktu untuk sedikit berbicara dengan Tira sebelum besok dia menjemput Tira ke mansion.


“Kalau begitu terimakasih Pak Romeo. Selamat siang.” Ernest berkata sebelum menutup panggilan teleponnya.


“Hah….” Ernest langsung menghela nafas panjang begitu sambungan telepon telah terputus, lalu dengan langkah sedikit lesu, Ernest berjalan ke arah tempat parkir, setelah sadar tidak ada gunanya lagi untuk dia tetap berada di kampus, sedang gadis pujaannya ternyata sudah tidak berada di sana lagi saat ini.


# # # # # # #

__ADS_1


Meskipun semalam Ernest begitu mengalami kesulitan untuk dapat menikmati tidurnya, tapi pagi ini dia tampak begitu segar dan begitu bersemangat karena 2 jam lagi adalah waktu yang sudah ditetapkan oleh Tira untuk dia minta dijemput oleh Ernest di mansion keluarga Shaw agar dapat pulang ke apartemennya.


Bukan Edi atau Steven, tapi jelas-jelas Tira memintanya untuk menjemputnya, membuat dada Ernest terus berdegup kencang membayangkan sebentar lagi dia bisa bertemu dengan Tira, bahkan akan berada dalam satu mobil, setelah sekian lama tampak jelas baginya Tira terus menghindar darinya tanpa dia tahu apa alasan Tira melakukan semua itu.


__ADS_2