
Ernest yang ada di kamar mandi, dan baru saja mengenakan t shirt tanpa kerah, setelah membersihkan dirinya di kamar mandi langsung menoleh kaget dan menoleh ke arah dinding kamarnya yang berbatasan dengan kamar Tira, sehingga dia dapat mendengar suara dari arah kamar Tira karena kerasnya.
“Putri Tira….” Dengan gerakan cepat, Ernest segera berlari keluar dari kamarnya tanpa sempat menyisir rambutnya yang masih setengah basah.
“A[a yang terjadi Tuan Ernest?” Edi yang meleihat Ernest berlari keluar dengan wajah cemas dari kamarnya, langsung bertanya dan mengalihkan pandangan matanya dari layar komputer yang ada di depan Steven, karena sebelumnya Edi dan Steven memang sedang mengamati hasil rekaman cctv yang berhasol mereka retas.
“Steven! Edi! Segera lakukan penjagaan di sekitar pintu apartemen putri Tira. Sepertinya ada yang terjadi dengan tuan putri saat ini.” Ernest memberikan perintah, tanpa mengurangi kecepatan larinya.
“Baik Tuan Ernest. Ayo Steven!” Edi langsung menjawab perintah Ernest sambil meraih pistol yang tadinya dia geletakkan di atas meja yang biasa dia gunakan bersama Steven untuk bekerja, dan meneylipkannya di pinggannya, lalu menutupinya dengan kemeja yang dikenakannya.
Sedangkan Steven, tanpa berkata sepatah katapun, langsung mematikan komputernya, dan mengikuti tindakan Edi untuk bersiap keluar dari apartemen mereka, menyusul Ernest yang Sudha lebih dahulu berlari ke arah apartemen Tira dan membuka pintu apartemen dengan sidik jarinya, begitu beberapa kali dia menekan bel tapi tidak ada tanggapan dari Tira.
Belum lagi panggilan telepon yang dilakukan Ernest juga diabaikan oleh Tira, membuat Ernest semakin khawatir dengan apa yang sudah terjadi pada Tira di dalam sana.
“Steven, cepat awasi setiap orang yang masuk dan berada di seekitar apartemen putri dari arah dalam. Untukmu Edi, segera periksa lingkungan sekitar apartemen, khususnya bagian yang berada tepeat di bawah apartemen putri.” Ernest langsung melakukan grup call dan memberikan perintahnya kepada Steven dan Edi beegitu melihat kondisi yang mencurigakan sudah terjadi pada Tira.
__ADS_1
“Jika ada orang terlihat mencurigakan, segera tangkap orang itu dan bawa dia untuk diselidiki. Sepertinya, peneror itu mulai beraksi kembali.” Ernest lembali memberikan perintah tanpa memutuskan panggilan teleponnya pada Steven dan Edi, lalu mulai berjalan masuk ke dalam apartemen Tira.
Suara tadi berasal dari arah kamar putri. Aku harus segera kesana, dan memastikan apa yang sudah terjadi pada putri.
Ernest berkata dalam hati sembil dengna sikap siaga, memegang pistol dengan kedua tangannya, dan matanya mengamati sekelilingnya, mencoba melakukan pengecekan apakah ada yang mencurigakan atau tidak.
Sebentar Ernest berdiri di tepat di depan pintu kamar Tira dengan tangannya masih memegang erat pistol di tangannya, sambil menempelkan telinganya ke pintu kamar Tira.
Begitu Ernest tidak mendengar apapapun dari dalam sana, dengan gerakan hati-hati, Ernest memegang handle pintu dan membukanya dengan pelan.
Meskipun Ernest belum bisa memastikan apa yang sedang terjadi pada Tira, akan tetapi Ernest langsung melakukan proteksi lebih awal terhadap semua kemungkinan yang ada, termasuk kecurigaannya bahwa Tira pingsan karena adanya obat bius yang telah dihirupnya tadi.
Suara teriakan Ernest yang memanggil Tira dengan nada khawatir membuat Edi maupun Steven yang masih dalam kondisi beradai dalam call grup langsung menahan nafasnya secara bersamaan, meskipun mereka saat ini berada pada lokasi yang berbeda.
“Berhenti!” Belum lagi Ernest mendekat ke arah Tira, terdengar suara teriakan Edi yang melihat seseorang dengan jaket tebal, memakai masker dan topi terlihat dengan gerak gerik mencurigakan sedang berdiri tepat di bawah kamar apartemen Tira, sambil membawa gulungan tali di yang tersampir di bahunya tapi begitu menoleh dan melihat keberadaan Edi, sosok tidak dikenal itu segera lari dengan cepat menjauh dari tempat itu, sehingga Edi spontan berteriak keras padanya.
__ADS_1
“Hei! Jangan lari!” Dengan gerakan tidak kalah cepatnya, Edi segera berlari, berusaha mengejar sosok asing itu.
“Siii… all!” Sosok yang dikejar oleh Ernest berteriak kecil sambil mempercepat larinya, dan dengan sengaja membuang tali yang tadinya berada di bahunya, agar dia bisa berlari dengan lebih kencang setelah beban di bahunya akibat tali itu berkurang.
“Tuan Ernest, apa saya perlu menyusul Edi?” Steven yang mendengar teriakan Edi langsung bertanya dengan sikap siaga.
Sebelum menjawab pertanyaan Steven, Ernest berkata sambil meraih tas kertas yang tergeletak di dekat Tira, dan mengecek apa yang ada di dalamnya. Sebuah botol berisi cairan di dalamnya, yang dicurigai oleh Ernest adalah jenis cairan yang merupakan obat bius semprot jika dilihat dari wadahnya.
“Jangan! Kamu tetaplah berjaga di tempatmu, karena untuk saat ini kita tidak tahu apakah dia sendiri atau ada yang lainnya.” Ernest berkata sambil meletakkan jari teluinjuk dan jari tengahnya ke hidung Tira, memastikan kalau gadis cantik itu masih bernafas dengan normal.
Setelah itu Ernest mengarahkan kedua jarinya ke leher Tira, mulai menghitung detakan jantung Tira melalui denyut nadi yang ada di leher Tira.
(Kita dapat menemukan denyut nadi di leher, yaitu dengan menempatkan dua jari dan menekan lembut di sudut antara leher dan rahang bawah kanan atau kiri. Dewasa (di atas 10 tahun): 60 – 100 detak jantung per menit).
Sebuah hembusan nafas yang menunjukkan rasa lega terlihat keluar dari hidung Ernest setelah memastikan bahwa detak jantung Tira juga terhitung normal.
__ADS_1