
“Tindakan Tira benar-benar tidak bisa kumaafkan. Berani-beraninya dia dengan sengaja menolak permintaanku untuk bisa makan siang bersama dengan Ernest. Ternyata, dia ingin memonopoli Ernest sendiri. Cih… beraninya dia meremehkan aku yang yang tidak pernah sekalipun membuat para pria tidak tertarik padaku. Semua pria normal, pasti akan jatuh dalam pesonaku, termasuk Ernest… seharusnya dia juga begitu, kalau saja Tira tidak bertindak licik dengan menjauhkan Ernest dariku….” Angel masih saja mengomel dan tidak terima denga napa yang terjadi antara Ernest dan Tira.
“Aku harus mendapatkan lebih banyak info tentang apa yang dilakukan Tira pada Ernest. Bagaimana bisa laki-laki itu bisa begitu menyukai Tira hingga melakukan hal-hal semanis itu pada Tira….” Angel kembali mengomel sambil menggemgam erat kedua tangannya di samping tubuhnya.
Angel kembali teringat saat pertama kali bertemu dengan Ernest sebagai murid pindahan baru.
Saat itu Angel yang begitu terburu-buru karena harus mengembalikan buku yang dipijamnya dari perpustakaan sebelum dia mengikuti kelas, hampir saja menabrak Ernest, dan membuatnya kaget, sehingga justru membuatnya hampir jatuh terjengkang.
Untung saja saat itu Ernest bertindak sigap dengan menarik tangan Angel dan juta bahunya, sehingga tubuh Angel tidak keehilangan keseimbangan.
Melihat ada seseorang yang hampir membuatnya terjatuh, dengan dengusan kesal yang cukup keras, Angel berniat untuk memarahi Ernest.
Akan tetapi begitu melihat wajah tampan Ernest, juga senyum ramahnya yang selama ini belum pernah dia temukan pada laki-laki lain, membuat kemarahan Angel tiba-tiba hilang dan menguap entah kemana.
__ADS_1
Jantung Angel langsung berdegup kencang, suatu perasaan yang belum pelrnah dirasakan olehnya, dan saat itu juga dia langsung memutuskan untuk mendekati Ernest dan menjadikan dia sebagai laki-laki miliknya.
“Aku akan meminta Janetta untuk terus memberikan info kepadaku tentang aoa yang terjadi. Tidak sia-sia aku mengeluarkan banyak uang untuk menjadikan Janetta seorang informan.” Angel berkata sambil meraih kembali handphonenya dan bermaksud untuk menghubungi Janetta.
# # # # # # #
Setelah Janetta berpisah dari kami, segera ikuti kemanapun dia bergerak dan amati apapun yang dia lakukan.
Sebuah pesan yang dikirimkan Ernest secara diam-diam di tengah-tengah acara makan siangnya dengan Tira dan yang lain, langsung membuat Steven mengarahkan layar handphonenya kepada Edi.
Dengan cepat Steven langsung membalas pesan tersebut.
“Sepertinya Tuan Ernest menaruh kecurigaan juga terhadap nona Janetta, apdahal menurut pengamatanku dia hanyalah seorang tukang gosip yang suka kalau ada berita heboh di sekitarnya. Orang yang suka memancing keributan.” Edi berkata kepada Steven setelah membaca pesan dari Ernest.
__ADS_1
“Itu kan pendapatmu. Kau tahu kalau tuan Ernest dan tuan Erich, sudah terbiasa melakukan penyelidikan, pasti insting mereka lebih kuat dan sudah terasah dengan baik.” Kata-akta Steven membuat Edi mengangguk-anggukan kepalanya sambil bangkit dari duduknya.
“Kamu benar. Boleh dibilang, kita berdua ini mendapatkan keberuntungan yang begitu besar seperti menang lotre, karena kita dipilih untuk mendampingi tuan Ernest, sehingga bisa belajar banyak hal darinya. Kamu tahu, bahkan kakakku sangat mengidolakan tuan Ernest dan tuan Erich, pengawal kembar yang sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkannya. Belum lagi, baik yang mulia Alvero maupu permaisuri sepertinya sangat dekat dengan mereka berdua, seperti saudara.” Edi berkata sambil meraih jaket kulit miliknya yang tersampir di sandaran kursi.
“Benar. Yang mulia Alvero dan permaisuri Deanda, kita berdua beruntung memiliki raja dan permaisuri yang begitu hebat dalam memimpin kerajaan kita. Apa kamu akan pergi sekarang?” Steven mengakhiri perkataannya dengan sebuah pertanyaan karena dilihatnya Edi sudah bersiap pergi.
“Seperti perintah tuan Ernest, untuk mulai mengawasi nona Janetta. Aku akan menyusul ke café X dan melakukan pengintaian di sana, sehingga ketika mereka selesai makan siang, aku bisa langsung mengamtai pergerakan nona Janetta.” Edi berkata sambil meraih kunci sepeda motornya.
“Kamu sendiri, setelah selesai melakukan tugasmu untuk meretas rekaman cctv kampus, cepat lakukan tugas dari tuan Ernest untuk mengintai nama-nama orang yang sudah masuk ke dalam list yang ada.” Edi berkata sebelum benar-benar berjalan keluar dari apartemen.
“Oke, aku akan mulai dari bu Lena dan pak Luis.” Steven berkata sambil mengamati layar komputer di depannya dengan seksama, melihat berapa % data yang sudah terdownload di sana.
“Aku pergi dulu Steven, jangan lupa untuk memberikan rekaman itu kepada tuan Ernest begitu kamu menyelesaikannya….” Edi kembali mengingatkan Steven tentang tugas yang diberikan Ernest tentang rekaman cctv itu.
__ADS_1
“Jangan khawatir, aku juga akan segera pergi menjalankan tugasku yang berikutnya.” Steven segera menjawab perkataan dari Edi dengan mata masih menatap lurus ke arah layar komputer di depannya, menunggu semua data berhasil dia pindahkan 100 persen ke komputernya, dan dia bisa melakukan tugasnya yang lain.