
Siapa kedua laki-laki itu? Aku belum pernah melihat mereka berdua di sekitar Tira.
Luis yang menatap Enzo dan Evan bergantian, tampak bertanya-tanya dalam hati dengan tubuh mematung.
Pria berambut gelap yang satu itu... mungkin adalah saudara Tira, karena mereka memiliki sedikit kemiripan. Bisa jadi dia adalah kakak atau sepupu Tira...
Luis mencoba menebak siapa Enzo begitu melihat dan mengamati sosok Enzo yang sedang berjalan bersama Tira dan Evan ke arahnya.
Lalu... siapa pria berambut emas itu? Apa dia... kekasih, atau bahkan tunangan Tira?
Dengan rasa penasaran yang begitu besar, Luis kembali mencoba untuk menebak siapa Evan dan hubungan apa yang dimiliki antara Evan dan Tira, yang membuatnya merasa tidak senang.
Luis masih sibuk berkutat dengan rasa penasarannya, sampai ketiga orang itu berdiri tepat di depannya.
"Selamat siang Pak Luis." Dengan sikap sopan, Tira menyapa Luis yang sedikit tersentak kaget karena sedang melamun, dan dengan buru-buru Luis langsung berdiri dari duduknya, dan mengulurkan tangan ke arah Enzo.
"Enzo." Begitu tangan mereka saling berjabatan, Enzo segera menyebutkan namanya, dan Luis ganti mengarahkan tangannya ke arah Evan.
"Evan." Dengan mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh Enzo, Evan ikut menyebutkan namanya saat Luis menjabat tangannya.
"Silahkan duduk Pak Luis, kita bisa bersikap santai kan di kesempatan ini?" Enzo berkata sambil menarik salah satu kursi untuk dia duduki.
__ADS_1
"Ah ya... tentu saja Pak Enzo. Ini bukan pertemuan resmi yang mengharuskan kita bersikap terlalu kaku." Luis berkata sambil dia sendiri kembali duduk di kursi yang dia tempati sebelumnya.
"Terimakasih untuk kedatangan Anda Pak Luis." Enzo langsung membuka pembicaraan mereka begitu semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing.
Saat ini, posisi duduk Tira masih sama dengan posisi dimana mereka datang tadi. Tida duduk di bagian tengah, dengan Evan dan Enzo duduk di samping kanan dan kirinya, sedang Luis, duduk tepat di hadapan mereka, dengan sebuah meja yang memisahkan posisi mereka.
"Sebelum kita mulai pembicaraan kita, ada baiknya kami memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena untuk Pak Luis, kami sudah banyak mendengar tentang Anda sebagai salah satu dosen yang mengajarnya di kampus saat ini. Tapi mungkin Pak Luis belum mengenal siapa kami." Enzo mengucapkan kata-katanya sambil tersenyum ke arah Luis, yang berusaha membalas senyum ramah dari Enzo dengan sikap kaku, sambil sedikit menganggukkan kepalanya di hadapan mereka bertiga.
Selain Luis memang bukan orang yang ramah dan mudah memberikan senyumnya pada orang lain, saat ini hati Luis sedang dipenuhi banyak tanda tanya tentang siapa kedua laki-laki yang datang bersama Tira itu.
"Kami berdua adalah saudara sepupu Tira."
"Oh...." Sebuah gumaman pendek dan pelan langsung terdengar keluar dari bibir Luis, begitu Enzo menjelaskan hubungan antara Tira dengan dua pria di sampingnya itu.
Evan berkata dalam hati dengan mata yang terus mengawasi setiap gerak gerik dari Luis dan perubahan yang terjadi pada Luis, sekecil apapun itu.
Evan duduk di samping Tira, dengan sikap diamnya yang tampak elegan, dan kaki duduk menyilang, dengan kedua tangan terlipat di depan perut, tampak tersenyum ke arah Luis dan sedikit menggerakkan kepalanya untuk mengangguk ke Luis, begitu mendengar Enzo mengatakan kalau mereka berdua adalah saudara sepupu Tira, dan Luis langsung menoleh ke arah Evan dan sedikit menyungingkan senyum kepada Evan.
"Kami berdua datang ke tempat ini untuk mewakili kedua orangtua Tira yang tidak bisa hadir karena seperti yang mungkin Pak Luis tahu, negara asal Tira adalah Gracetian, sehingga jarak dan waktu cukup menjadi penghalang untuk mereka hadir di tempat ini. Saya sebagai kakak sepupu Tira mohon maaf untuk mereka berdua, yang tidak bisa secara langsung bertemu dengan Pak Luis." Enzo langsung memulai pembicaraan mereka.
"Tidak masalah. Semua orang punya kesibukannya masing-masing, dan saya bisa mengerti dengan baik tentang hal itu. Ah ya, jika ditilik dari usia Anda, sepertinya Anda dan juga Pak Evan memiliki usia hampir sama, yang artinya hampir sama juga dengan usiaku. Aku harap, kita tidak bersikap kaku dengan menggunakan sebutan yang terlalu formal diantara kita." Kata-kata Luis, membuat Enzo maupun Evan tersenyum kecil, sedangkan Tira lebih senang berpura-pura fokus pada minuman hangat yang tersedia di depannya.
__ADS_1
Mau tidak mau, penjelasan Ernest kepadanya tentang kenapa Ernest mencurigai Luis juga merupakan seorang peneror, membuat Tira merasa tidak nyaman berada di dekat Luis, dan mencoba untuk memastikan apakah kata-kata Ernest tentang Luis benar adanya.
Kalau dilihat-lihat secara cermat, dan diperhatikan lebih jauh lagi, seperti kata Ernest, meskipun dia adalah dosen tampan yang diidolakan oleh banyak mahasiswi, tapi pandangan pak Luis saat menatapku, memang terasa sedikit dingin dan... mengerikan...seolah ingin menelanku bulat-bulat dan melemparku keluar dari tempat ini.
Tira yang mengucapkan kata-katanya dalam hati hampir saja tubuhnya bergidik ngeri di depan Luis, untung saja dia segera mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, begitu dirasakannya mata Luis terasa menakutkan baginya.
Ketampanan Luis yang diakui oleh semua orang yang pernah bertemu dengannya, bagi Tira justru menakutkan seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
"Kalau Anda tidak keberatan, saya dan saudara saya Evan, akan dengan senang hati memanggil Anda dengan menyebutkan nama Anda langsung... Luis?" Dengan suara ramah dan cerianya, Enzo berkata kepada Luis yang tersenyum lebar karena kata-kata Enzo.
"Mmphhhh...." Tanpa sadar, Tira yang terlalu fokus pada Enzo yang sedang mengajak Luis bicara langsung menyemburkan teh panas yang terasa membakar bibirnya.
Karena terlalu fokus pada Enzo dan Luis, Tira jadi tidak sadar kalau teh yang sedang dipegangnya masih sangat panas, sehingga begitu menyentuh bibirnya, Tira langsung menyemburkannya.
Untung saja tangan Tira bergerak cepat dan Tira langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya, sehingga semburan teh itu hanya mengotori bibir dan tangan Tira, dan sedikit menetes di pakaiannya, tanpa mengenai yang lain, terutama Luis yang duduk tepat berhadapan dengan Tira.
"Tira...." Baik Enzo, Evan, maupun Luis langsung menyebutkan nama Tira dengan kaget.
Bahkan Luis langsung mengulurkan tangannya, berniat untuk menolong Tira, tapi sayangnya, Evan bergerak dengan lebih cepat dengan manarik saputangan dari saku pakaiannya, dan bukan saja menyodorkannya kepada Tira, tapi dengan sengaja, Evan langsung mengarahkan saputangannya ke bibir Tira, untuk bisa mengeringkan bekas semburan teh yang mengotori tangan dan bibir Tira, dan mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Tira.
"Maaf, tapi tetaplah berpura-pura diam dan menerima kebaikanku di depan Luis." Dengan suara pelan, Evan berbisik pelan ke telinga Tira.
__ADS_1
Tira yang cerdas, otaknya langsung berpikir dengan cepat, sehingga dia menuruti permintaan Ernest, dan bersikap manis kepada Evan di depan Luis.