MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
ROMANTISNYA PARA XANDERSON


__ADS_3

"Ist... dasar Ad, dia memang tidak bisa...." Laurel yang berniat mengolok-olok Ornado, tiba-tiba terdiam sebentar sambil mengelus perutnya, membuat Dave langsung menatap tajam ke arahnya.


"Kenapa mo cuisle? Apa terjadi sesuatu dengan perutmu?" Pertanyaan dari Dave membuat Laurel buru-buru menggelengkan kepalanya agar Dave tidak perlu merasa khawatir.


"Tidak apa-apa, hanya saja, entah kenapa tendangan baby kita terasa begitu keras di dalam sini." Laurel berkata dengan mata menatap ke arah perutnya yang masih dia elus dengan tangannya sendiri.


"Ah, dia pasti sedang melakukan protesnya karena kamu mencegahku untuk menunjukkan rasa sayangku pada calon suaminya...." Ornado yang sejak awal mengetahui kehamilan Laurel dan Cladia dan selalu berusaha menjodoh-jodohkan anak mereka yang masih ada di dalam kandungan, berkata dengan wajah menggoda kepada Laurel.


"Aduh...." Belum lagi Ornado melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ada suara pelan dari bibir Cladia, yang membuat Ornado langsung menoleh ke arahnya dengan wajah terlihat khawatir.


"Kenapa dengan perutmu amore mio?" Ornado langsung bertanya begitu melihat Cladia memegang perutnya seperti Laurel.


"Sepertinya, bukan hanya bayi Laurel yang protes karena karena kamu menggoda calon suaminya, tapi bayi kita jugan sepertinya sedang protes karena kamu menggoda calon mertua perempuannya." Kata-kata Cladia membuat yang lain langsung menoleh ke arah Cladia dan tertawa karena candaannya, sedang Ornado langsung meletakkan tangannya di atas tangan Cladia yang sedang memegang perut buncitnya.

__ADS_1


"Amore mio... apa itu artinya... kamu sudah setuju kita menjodohkan anak kita dengan anak Dave dan Laurel?" Ornado langsung berkata dengan wajah terlihat tidak percaya, menatap ke arah Cladia yang langsung terdiam, karena baru sadar, dia sudah memancing Ornado yang selama ini selalu memintanya setuju kalau mereka menjodohkan anak mereka dengan anak Laurel dan Dave.


Selama ini jika Ornado membahas tentang perjodohan, Cladia selalu menunjukkan sikap kurang setuju, karena dia tidak yakin kalau semua perjodohan yang dilakukan secara paksa akan berakhir bahagia, sehingga dia ingin anak-anaknya kelak memiliki hak untuk memilih siapa yang akan menjadi pasangan mereka sesuai dengan kata hati mereka.


Sedang Ornado yang sejak kecil sudah dijodohkan dengan Cladia, merasa bahwa perjodohan adalah hal yang terbaik yang bisa dia dapatkan untuk mendapatkan gadis yang dicintainya sejak mereka masih kanak-kanak.


"Dave! Dengar ya, Cladia sudah setuju dengan perjodohan ini, jadi tidak ada alasan kamu dan Laurel menolaknya ya. Ingat janjimu untuk membayar hutang nyawamu padaku dengan menjodohkan anak-anak kita." Kata-kata Ornado membuat tawa yang lain menjadi lebih lebar dan keras, termasuk Laurel dan Dave yang hanya bisa tertawa kecil mendengar bagaimana bersikerasnya Ornado terhadap masalah perjodohan anak-anak mereka itu.


"Kenapa sweety? Apa bayi kita juga sedang beraksi gara-gara perkataan Ornado? Ad, sepertinya anakku juga sedang protes, jadi persiapkan dirimu, karena sepertinya jagoan kita akan bersaing untuk mendapatkan cinta dari putri cantik milik Dave dan Laurel." Alvero berkata sambil menatap ke arah Ornado yang wajahnya tidak terima, dan ingin membalas kata-kata Alvero.


"Sepertinya anakmu harus berusaha dengan keras, karena anakku tidak akan mungkin mau mengalah dalam urusan wanita yang dicintainya. Jangan salahkan kalau akhirnya anakmu mengalami patah hati." Dengan wajah percaya diri, Ornado berkata kepada Alvero yang tampak menggedikkan kedua bahunya begitu mendengar perkataan Ornado.


"Sudah Al... kasihan nanti kalau mereka yang masih dalam perut, sudah kamu paksa untuk mengikuti acara perjodohan seperti ini." Kata-kata Cladia, meski diucapkan dengan sikap serius dan senyum manis di wajahnya, membuat yang lain kembali tertawa, apalagi mereka yang ada di tempat itu tahu bahwa perkataan Cladia adalah senjata paling ampuh untuk menjinakkan seorang Ornado yang tidak mengenal kata mengalah dalam hidupnya selama ini.

__ADS_1


Sedang Dave dan Laurel, hanya bisa saling berpandangan sambil melempar senyum satu sama lain mendengar perdebatan tentang bayi-bayi mereka yang bahkan masih berada di dalam perut dan belum mengerti apapun tentang kata dan arti cinta, kecuali cinta dari kedua orangtua mereka yang sudah bisa mereka rasakan lewat setiap sentuhan dan perkataan kedua orangtua mereka saat menyapa mereka.


Elenora dan James yang baru saja bergabung hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan tertawa geli, dan mereka juga belum bisa ikut serta dalam pembicaraan itu, karena mereka juga belum mendapatkan rejeki seperti ketiga pasangan romantis itu.


Sepertinya aku dan Elenora harus berusaha lebih keras agar ada bayi yang segera bertumbuh di rahim Elenora. Sepertinya aku harus mengajak Elenora bicara serius tentang menaikkan intensitas percintaan kami agar segera menunjukkan hasilnya.


James berkata sambil melirik Elenora, yang sekarang penampilannya tampak semakin cantik, bahkan cara berpakaian dan berdandannya seringkali membuat orang berpikir bahwa dia adalah seorang artis terkenal.


Merasa ada yang sedang memperhatikannya secara intens, Elenora segera menoleh dan langsung tersenyum lembut begitu melihat bagaimana mata James sedang menatapnya dengan mesra.


“Aist James…. Tidak kamu, tidak Ad, keturunan Xanderson benar-benar suka pamer kemesraan ya. Sepertinya kalian hanya menganggap orang lain menumpang di dunia ini.” Perkataan Laurel membuat arah pandangan mata yang lain berpindah ke arah James yang awalnya ingin melingkarkan tangannya di bahu Elenora, dan memeluknya erat.


Karena kata-kata godaan dari Laurel, mau tidak mau James akhirnya menurunkan kembali tangannya yang tadinya sudah berada di punggung Elenora bersiap untuk memeluk Elenora, dan hanya bisa meringis mendengar ejekan Laurel padanya.

__ADS_1


__ADS_2