
Walaupun acara perayaan ulang tahun Augistin Shaw baru akan diadakan beberapa hari lagi, dan Avero bersama dengan semua orang yang Tira kenal sengaja tinggal di mansion itu sampai acara selesai…
Akan tetapi hari ini Tira sengaja meminta Ernest untuk menjemputnya, karena selain dia ingin tahu isi hati Ernest tentang dirinya, Tira juga harus menyelesaikan tugas untuk merekam permainan pianonya yang tentu saja harus dia lakukan dengan piano miliknya di apartemen, karena dia merasa lebih nyaman menggunakan piano miliknya sendiri untuk mengerjakan tugas itu.
Tugas yang harus dia kirimkan paling lambat malam ini kepada dosen pengajarnya, membuat mau tidak mau Tira memang harus pulang ke apartemen untuk mengerjakan tugasnya.
Waktu yang dimiliki Ernest masih ada 2 jam lagi, dengan lama perjalanan hanya 15 menit dari apartemen ke mansion keluarga Shaw, tapi sejak satu jam yang lalu Ernest tampak terlihat sudah mandi dan terlihat begitu rapi, seolah sekarang ini sudah hampir waktunya untuk dia pergi mejemput Tira, dan dia begitu atakut untuk terlambat menjemput Tira.
Bahkan sedari tadi setelah mandi, Ernest berulang kali tampak tidak segera memutuskan pakaian mana yang akan dia pakai untuk pergi ke mansion keluarga Shaw.
Di lemari pakaian Ernest, dia memiliki beberapa pakaian yang merupakan setelah jas yang menjadi seragamnya sebagai pengawal Alvero.
Hari ini, karena dia pasti akan bertemu dengan Alvero, Ernest tahu dia harus mengenakan seragamnya sebagai pengawal pribadi Alvero.
Hanya saja, seperti orang bingung, diantara semua pakaian yang merupakan setelan jas seragam pengawalnya yang terlihat masih bagus semua dan tergantung rapi, Ernest terus membolak-baliknya, mencoba mencari yang terbaik diantara semuanya, seolah semua seragam itu tidak ada yang pantas untuk dia kenakan untuk meneui Alvero dan juga Tira.
Setelah dengan helaan nafas panjang memilih salah satu setelan jas itu, untuk waktu yang cukup lama Ernest terus berdiri di dpean kaca, dengan sikap canggung, menggerak-gerakkan tubuhnya ke ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan kalau pakaian yang dikenakannya sudah terlihat rapi dan baik-baik saja.
__ADS_1
Beberapa kali Ernest bahkan tampak membuka dan mengancingkan jasnya, mengulangnya sampai beberapa kali sambil mengamati dirinya sendiri di depan kaca, seperti seorang model yang sedang bersiap untuk melakukan sesi pemotretan.
Wajah tidak sabar, harap-harap cemas, dan juga bahagia begitu tampak pada sosok Ernest yang memilih untuk tetap berdiam di kamar sampai waktunya tiba untuk menjemput Tira, karena dia sadar dengan kondisinya sekarang yang beberapa kali tiba-tiba tanpa alasan tersenyum-senyum sendiri, pasti Edi dan Steven jika melihatnya akan bingung dan bertanya-tanya karena sikap anehnya saat ini.
“Akhirnya….” Ernest berkata pada dirinya sendiri setelah melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan waktu dimana sudah waktunya dia untuk menjemput Tira.
Dengan wajah penuh senyum bahagia, dengan setengah berlari, Ernest segera keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju pintu keluar apartemen.
“Selamat pagi Tuan Ernest….” Steven yang melihat sosok Ernest segera menyapanya, namun sayangnya, fokus Ernest yang ingin segera pergi menjmeput Tira, membuat laki-laki yang biasanya ramah itu, kali ini sama sekali tidak memperdulikan sapaan dari Steven, dan terus bergegas keluar dari apartemen, membuat Steven sedikit mengernyitkan dahinya dengna wajah heran, meskipun tetap saja dia memilih untuk tetap diam dan tidak bertanya apapun pada Ernest.
“Yang Mulia…. Saya akan menjemput Ernest di depan.” Erich yang baru saja mendapatkan panggilan telepon dari Ernest yang mengatakan kalau dia sudah sampai di mansion keluarga Shaw, langsung meminta ijin kepada Alvero.
Selain Erich menyusul Ernest untuk menunjukkan tempat dimana Alvero dan yang lain sekarang sedang berkumpul, Erich yang beberapa lama ini hidup terpisah dari Ernest, juga ingin segera bertemu Ernest dan menanyakan tentang bagaimana kabarnya selama ini.
Antara Erich dan Ernest, boleh dibilang belum pernah berpisah terlalu lama sejak mereka diangkut ke istana Gracetian dan dipersiapkan menjadi pengawal pribadi Alvero.
Paling lama, Erich dan Ernest akan berpisah selama tiga empat hari, tapi tidak pernah dalam hitungan minggu, membuat Erich harus mengakui bahwa tanpa Ernest berada di dekatnya, dia merasa rindu dengan kehadiran saudara kembarnya itu.
__ADS_1
“Oke Erich, aku juga ingin bertemu Ernest, kemarin ketika pertama kali datang ke Amerika bahkan kita belum sempat menyapanya. Bawa saja dia ke tempat ini, suoaya kitab isa mengobrol sebelum dia mengantar Tira pulang ke apartemennya.” Perkataan Alvero disambut dengan sebuah anggukan dan tubuh yang sedikit membungkuk dari Erich, sebelum dia berlalu pergi dari tempat itu.
“Sepertinya kamu cukup rindu dengan Ernest juga.” Deanda yang duduk di samping Alvero berkomentar dengan senyum kecilnya.
“Mmmm…. Bagaimanapun aku sudah hidup berdekatan dengan dia dala waktu yang sangat lama, sehingga kepergiannya ke Amerika juga membuat suasana di sekelilingku terasa tidak lengkap.” Alvero berkata sambil melirik ke arah Tira yang kebetulan terlihat sedang menggigit bagian bawah bibirnya, seperti orang yang sedang berpikir tentang sesuatu yang sangat penting da juga genting.
“Kamu kenapa Tira? Apa sedang ada masalah? Kenapa kamu terlihat tegang begitu?” Pertanyaan Alvero membuat Tira sedikit tersentak kaget, dan jujur saja tidak siap untuk menjawab pertanyaan Alvero yang begitu tiba-tiba, karena barusan dia melamun dan tidak fokus pada apa yang sedang dibicarakan oleh Alvero barusan.
“Eh… tidak Kak… tidak ada apa-apa. Hanya sedang memikirkan tugas kuliah yang belum selesai.” Dengan cepat Tira berusaha mencati alasan agar tidak ada yang tahu kalau saat ini dadanya sedang berdetak keras karena menunggu munculnya sosok Ernest tepat di depannya.
Sosok yang beberapa hari ini sudah membuat hatinya begitu sering berdebar, bahkan hanya dengan membayangkan hal-hal manis yang sudah dilakukan Ernest padanya, dan juga saat Deanda, Alvero atau yang lain menyebutkan nama Ernest dan membicarakannya.
“Eh, benar kata kakakmu Alvero, Tira. Sepertinya kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang penting?” Deanda yang melihat sikap aneh Tira ikut berkata, karena dia sedang menerka-nerka apakah sikap Tira itu berkaitan dengan rencana kedatangan Ernest untuk menjemputnya.
“Ah… tidak Kak….” Tanpa sadar Tira langsung menghentikan bicaranya begitu sosok tampan Ernest dengan pakaian resminya sebagai pengawal Alvero tampak berjalan mendekat ke arah mereka bersama dengan Erich.
Mata Tira terlihat langsung terpaku menatap ke arah Ernest, dengan dada yang semakin berdegup kencang, dan meskipun Ernest dan Erich memiiki wajah yang sama persis dan membaut orang sulit membedakan mereka berdua, tapi dengan sekali menatap ke arah mereka, Tira bisa langsung melihat yang mana Ernest dan yang mana Erich.
__ADS_1