
“Aku sudah mengaturnya Alvero. Jangan khawatir… dengan kemampuan Sam, tidak akan lebih dari 12 jam dari sekarang, dia pasti akan membawa informasi yang kita butuhkan.” Dengan percaya diri, Evan berkata kepada Alvero yang tampak menarik nafas panjang, dengan tangan Deanda yang ada di bawah meja, tampak menepuk-nepuk lembut paha Alvero, berusaha membuat Alvero tidak terlarut dalam emosinya.
Sebagai istri dari Alvero, dan sudah mengalami banyak hal bersama Alvero, Deanda tahu kalau Alvero sedang membutuhkan dukungan penuh darinya, agar bisa mengendalikan emosinya, saat membicarakan semua hal yang berkaitan dengan Eliana.
Tepukan lembut tangan Deanda di pahanya, membuat dada Alvero yang tadinya berdegup dengan kencang dan terasa panas, perlahan mulai tenang, sehingga dia bisa dengan cepaet mengatur emosi dan pikirannya kembali.
“Aku berharap masalah ini segera selesai. Andai saja bisa, aku ingin secepatnya bertemu Theo, dan melakukan interogasi sendiri dengannya.” Alvero berkata dengan nada suara yang mulai terlihat tenang kembali, setelah sebelumnya dia membalas tepukan lembut di punggung telapak tangan Deanda yang tadi menepuk pahanya untuk menenangkannya.
“Untuk saat ini, kita harus menunggu berita dari Sam. Erich, lebih baik sekarang kamu datangi panti asuhan itu bersama yang lain, sehingga kita bisa dengan cepat mendapatkan info tentang itu.” Evan yang baru saja menuliskan pesan balasan untuk Sam, berkata kepada Erich yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Baik, saya akan segera pergi bersama yang lain ke sana. Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu.” Erich berkata dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk untuk memberikan penghormatannya kepada Alvero dan yang lain.
# # # # # # # #
“Hallo Ernest.” Dengan suara yang terdengar jelas kalau saat ini dia sedang tersenyum lebar, Tira langsung mengangkat panggilan teleponnya begitu dilihatnya di layar ada nama Ernest tertera disana saat ada bunyi suara panggilan telepon masuk di handphonenya.
“Apa pembicaraanmu dengan kak Alvero dan yang lain sudah selesai?” Tira langsung bertanya tanpa membiarkan Ernest menjawab sapaan ramahnya barusan.
“Aah, ya… sebenarnya mereka semua masih melanjutkan pembicaraan tentang tuan Theo, tapi mereka juga tahu kalau aku juga harus segera mengantar Putri ke kampus, jadi mereka mengijinkan aku pergi terlebih dahulu.” Ernest menjawab pertanyaan Tira sambil menganggukkan kepala ke arah Enzo yang kebetulan berpapasan dengannya dan berencana menuju ruangan dimana Alvero dan yang lain masih berkumpul.
__ADS_1
Pagi tadi Enzo memang melewatkan waktu makan pagi bersama yang lain, karena kemarin malam ada teman kuliahnya dulu yang berasal dari Amerika, mengundangnya menginap semalam bersamanya, dan pagi ini setelah jam makan pagi lewat, Enzo baru kembali ke mansion keluarga Shaw.
“O, begitukah? Baguslah… berarti hari ini kamu akan tetap mengawalku ke kampus ya?” Pertanyaan Tira membuat Ernest tetap tersenyum.
“Tentu saja. Dan bukan saja mengawal, kita akan berangkat bersama dalam satu mobil, untuk membuat Luis menjadi semakin panas.” Ernest berkata dengan sedikit tertawa geli, karena di sana Tira juga terdengar sedang tertawa senang.
“Aku setuju sekali, rasanya mendengar bagaimana dia pernah berencana masuk ke apartemenku setelah berhasil membiusku membuat bulu kudukku merinding, dan membuatku ingin memakinya habis-habisan, meskipun kamu tahu sendiri, sebagai seorang putri Gracetian, mungkin makianku akan terdengar seperti kata-kata biasa dengan nada tinggi, karena aku tidak tahu banyak tentang kata-kata makian.” Tira berkata dengan tetap tertawa.
“Kalau Putri mau, mungkin saya bisa memberikan info beberapa kata makian dan mengajarkan bagaimana cara mengucapkan kata makian kepada Putri, sehingga Putri bisa puas memaki Luis.” Penawaran dari Ernest membuat tawa Tira semakin keras, tidak menyangka bahwa Ernest bisaa mengatakan hal seperti itu padanya.
“Kalau kak Alvero mendengar kamu sudah berani mengajariku memaki dengan kasar, bisa-bisa kak Alvero menghukummu.” Tira berkata sambil menghapus sudut matanya yang mengeluarkan sedikit airmata karena tertawanya barusan.
“Putri, apa Anda sudah siap untuk pergi ke kampus? Ada dimana Anda sekarang? Biar saya kesana untuk menjemput Putri….”
“Aku ada di kamarku sekarang, tunggu aku di tempat parkir agar tidak mencolok di mata yang lain.” Dengan buru-buru Tira memotong perkataan Ernest.
Dari ruang tempat pertemuan Alvero bersama Ernest dan yang lain tadi, jika Ernest pergi ke kamar Tira, harus melewati ruangan yang saat ini sedang digunakan oleh yang lain untuk mengobrol, sehingga membuat Tira memilih lebih baik Ernest menunggunya di kamar.
Meskipun itu adalah bukan hal yang aneh, jika Ernest menyusul Tira ke kamarnya untuk mengantaranya pergi ke kampus, untuk saat ini, Tira lebih memilih untuk tidak membuat orang lain menaruh curiga tentang hubungannya dengan Ernest yang sebenarnya sudah menjadi sepasang kekasih.
__ADS_1
Meskipun mereka berdua sepakat untuk sementara waktu menyembunyikan tentang hubungan mereka, tapi Tira sadar sepenuhnya bahwa saat orang sedang jatuh cinta, pasti akan sulit untuk setiap saat menyembunyikannya, karena dia sendiri, begitu melihat sosok Ernest, inginnya langsung mendekat ke arah laki-laki itu dan memeluk lengannya atau hanya sekedar menggenggam tangannya.
Melihat orang yang begitu dicintainya, Tira merasa begitu sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak mengekspresikannya saat bertemu Ernest, karena itu dia memilih untuk tidak terlihat sedang berduaan dengan Ernest di depan orang lain.
“Hari ini Putri mau menggunakan mobil Putri, atau ingin saya menyiapkan mobil yang lain?” Ernest bertanya sambil tangannya merogoh kantung celananya, dimana dia bermaksud mengambil kunci mobil milik Tira yang kemarin digunakan untuk mengantar Tira ke mansion.
“Tentu saja mobilku, karena itu pasti akan membuat pak Luis semakin terpancing rasa cemburunya.” Dengan cepat Tira menjawab pertanyaan dari Ernest yang hanya bisa tersenyum melihat bagaimana besarnya semangat Tira untuk segera menangkap Luis.
Padahal dengan semakin cepat tertangkapnya Luis nanti, berarti akan semakin cepat Ernest harus kembali ke Gracetian, dan semakin cepat untuk berpisah dengan Tira.
Mengingat tentang hal itu, hanya bisa membuat Ernest menahan nafasnya diam-diam, agar Tira tidak bisa membaca situasi bahwa saat ini Ernest sedang galau.
Di satu sisi Ernest tentu saja ingin Luis segera tertangkap, sehingga Tira sebagai kekasihnya bisa menyelesaikan kuliahnya dengan aman dan damai tanpa ada gangguan lagi.
Akan tetapi, di satu sisi, meninggalkan Tira yang baru saja menjadi kekasihnya, dimana mereka masih begitu dimabuk oleh cinta, bukanlah hal yang mudah bagi Ernest, apalagi sejak bertahun-tahun, dia sudah menyimpan perasaan cinta itu seorang diri dalam diam, dan sekarang dia bisa mengekspresikannya dengan bebas.
Rasanya, satu hari yang lamanya dua puluh empat jam, bagi Ernest masih saja terasa kurang saat dia bersama dengan Tira.
Jika saja mungkin, saat sedang bersama dengan Tira rasanya Ernest ingin bsia menghentikan laju jarum jam di seluruh dunia, agar dia memiliki waktu lebih panjang.
__ADS_1