MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PETUNJUK BARU?


__ADS_3

Tapi tanda yang ditunjukkan pada handphone Tira, dimana ada notifikasi yang memberikan tanda bahwa pesan itu terkirim, dan juga dibaca oleh penerima pesan, langsung membuat Ernest mengambil handphonenya, dan menghubungi Steven.


"Hallo, selamat siang Tuan Ernet...."  Steven yang melihat adanya panggilan telepon dari Ernest segera mengangkat telepon itu.


“Steven, segera lacak, dimana posisi nomer telepon yang akan aku kirimkan padamu.” Dengan cepat, tanpa sempat menjawab sapaan dari Steven, Ernest segera memberikan perintah kepada Steven, dan mengetikkan nomer yang mengirimkan pesan kaleng kepada Tira tadi.


“Baik Tuan Ernest.” Steven yang menerima perintah Ernest, segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Ernest.


“Jika saja memungkinkan, tolong Tuan Ernest usahakan agar pemilik nomer itu tidak mematikan handphonenya, agar saya bisa memiliki cukup waktu untudk melacak keberadaannya.” Steven berkata dengan jari-jari tangannya yang sudah bergerak cepat di atas keyboard laptopnya.


“Aku akan usahakan sebisa mungkin Steven, meskipun aku tidak bisa menjamin jika tiba-tiba pemilik nomer itu mematikan handphonenya.” Ernest yang masih memegang handphone milik Tira, berkata sambil mengetikkan kembali pesan kepada nomer tidak dikenal itu.


Bagiku, kamu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Ernest yang berani menyatakan perasaannya padaku di depan banyak orang. Meskipun aku belum tentu menerima perasaan Ernest, paling tidak dia bukan pengecut sepertimu.


Ernest sengaja mengetikkan kata-kata yang membuat emosi peneror itu terpancing, sehingga dia tidak langsung mematikan handphonenya, dan terus membaca pesan-pesan itu.


Melihat bagaimana pesan-pesan yang dikirimnya langsung terkirim dan bahkan langsung dibaca oleh orang itu, membuat Ernest menyunggingkan senyumnya, karena ternyata umpan yang dia berikan, dimakan oleh sang peneror.


Seperti dugaanku, orang yang menjadi peneror putri, adalah orang yang memiliki emosi tidak stabil dan jika aku bisa menemukan cara yang tepat, dia pasti akan terpancing emosinya, dan tanpa sadar membuatnya melakukan kesalahan.

__ADS_1


Ernest berkata dalam hati sambil terus mengetikkan kata-kata yang sengaja bisa membuat peneror itu semakin emosi, dan semakin lama menggunakan nomer itu untuk berkomunikasi dengannya.


“Beri saya waktu satu menit untuk segera mengetahui lokasi pemilik nomer itu.” Steven yang masih berusaha melacak lokasi dimana nomer itu sedang digunakan oleh peneror itu.


“Tenang saja Steven, aku akan bersuaha untuk terus menahannya agar tetap online.” Ernest berkata dengan sikap percaya diri, karena sampai apda pesan yang terakhir, dia masih melihat tanda bahwa peneror itu menerima dan membaca pesan itu.


“Aku sudah menemukan lokasinya Tuan Ernest.” Steven segera berkata sambil tersenyum dengan wajah bangga begitu dia berhasil menemukan lokasi pengirim pesan itu.


“Dimana lokasinya?” Pertanyaan Ernest membuat Steven segera memperbesar titik yang dia temukan sebagai lokasi tempat terbacanya sinyal dari nomer handphone itu berada.


“Sepertinya… di dalam kampus putri Tira, Tuan Ernest. Tepatnya di….” Steven menghentikan bicaranya sebentar dengan mata menyipit untuk bisa mengetahui dimana lokasi yang sedang dia cari itu.


“Perpustakaan? Kalau begitu segera ambil rekaman cctv dan kita akan coba selidiki siapa saja yang ada di sana di jam ini.” Ernest yang merasa kembali menemukan titik terang berkata sambil tersenyum, sedang Tira yang duduk di depannya, sedari tadi memilih diam sambil mengamati apa yang terjadi dan mendengarkan pembicaraan antara Ernest dan Steven dengan wajah serius.


Ernest… sepertinya terlihat senang sekali karena menemukan lagi sebuah petunjuk. Apa dia senang karena jika dia berhasil menangkap dengan cepat, berarti dia bisa segera kembali ke Gracetian?


Tira berkata dalam hati dengan hati terasa galau, membayangkan kalau sebentar lagi, bisa saja Ernest pergi meninggalkannya sendiri lagi di Amerika.


Tidak… aku tidak mau kalau sampai Ernest kembali pulang ke Gracetian, tanpa aku tahu bagaimana perasannya kepadaku. Jika dia sudah kembali ke sisi kak Alvero, pasti akan sulit bagiku untuk bisa bertemu atau memiliki waktu untuk bersamanya, dan mengorek isi hatinya padaku.

__ADS_1


Tira kembali berkata dalam hati dengan cemas.


Sebelum dia pergi… aku harus membuatnya menunjukkan apa yang ada di hati dan pikirannya tentang aku… dan jika bisa... aku akan membuatnya jatuh cinta padaku.


Dengan sebuah tekad bulat dalam hati, Tira mulai memikirkan cara yang mungkin bisa dia lakukan untuk memancing Ernest agar menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.


“Aku akan menunggu informasi selanjutnya darimu Steven. O ya….” Ernest yang awalnya ingin mengakhiri panggilan teleponnya, langsung terhenti begitu mengingat sesuatu dalam otaknya.


“Bagaimana Tuan Ernest?”


“Nanti malam yang mulia Alvero dan permaisuri Deanda akan mampir ke apartemen ini. Tolong kamu dan Edi, membereskan apartemen dengan baik agar tidak memalukan saat beliau berdua nanti mampir.” Perkataan Ernest membuat Steven maupun Edi langsung saling berpandangan dengan wajah terlihat kaget.


Meskipun apartemen yang mereka tinggali terlihat rapi dan bersih, kedatangan seorang raja dan permaisurinya, bagi mereka yang memang belum pernah menjadi pengawal pribadi Alvero merupakan hal yang sangat istimewa, sehingga mereka berdua jadi seperti dua orang yang terhipnotis saking kagetnya.


Bukan hanya Steven dan Edi, Tira pun tampak kaget begitu mendengar apa yang baru disampaikan oleh Ernest barusan.


Kak Alvero dan kak Deanda mau datang ke Amerika? Dan mampir kesini? Aduh… bisa gawat kalau mereka berdua tahu kalau semalam Ernest tidur di apartemenku. Meskipun kami tidak melakukan apa-apa di sini. Kalau sampai mereka tahu… bahkan sampai memberitahu papa… habislah aku…. Bisa-bisa papa akan langsung meminta kak Alvero membawaku kembali ke Gracetian malam ini juga.


Dengan sikap khawatir, Tira berkata dalam hati.

__ADS_1


“Aku sudah menyampaikan rencana penting hari ini. Aku akan tutup dulu teleponnya.” Ernest berkata sambil menutup sambungan teleponnya dengan Steven, setelah itu menoleh ke arah Tira yang sedang memandangnya dengan tatapan bingung, bertanya-tanya, gugup, bercampur menjadi satu.


__ADS_2