
Begitu tangan Ernest sudah berada di bagian punggung dan bagian belakang lutut Tira, Ernest segera bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke tepian tempat tidur, agar dia bisa meletakkan tubuh Tira di sana.
"Hah... siapa sebenarnya orang yang sudah berani berniat menyakitimu sampai bertindak kurang ajar kepadamu seperti ini? Siapapun dia, aku tidak akan melepasnya begitu saja. Aku akan segera menemukannya dan memastikan dia mendapatkan hukumannya." Ernest berbisik pelan sambil memandang ke arah Tira yang masih terlihat tidak sadarkan diri.
Setelah memastikan posisi tubuh Tira sudah terbaring dengan nyaman, Ernest memandang ke lantai, dimana kepingan keramik masih tersebar di sana dan juga menatap tajam ke arah tas kertas dimana di dalamnya tadi dia lihat berisi sebuah botol dengan cairan bening yang bisa dipastikan Ernest merupakan obat bius berbentuk spray, yang merupakan Chlorophyll Spray.
Dengan setengah dari wajahnya masih tertutup rapat dengan sapu tangannya, Ernest membungkukkan tubuhnya, dan meraih tas itu dan mengamati botol yang ada di dalamnya tanpa mengeluarkannya.
Dengan gerakan pelan, Ernest berusaha membuka tas kertas itu dengan lebih lebar sampai Ernest mendengar bunyi ces, dan ada sesuatu yang terlihat menyemprot keluar dari dalam tas itu, membuat dengan gerakan reflek yang cepat, Ernest langsung memalingkan wajahnya, dan berusaha untuk menjauhkan tas kertas itu dari wajahnya.
Begitu cairan itu berhenti menyemprot, Ernest kembali mendekatkan tas kertas itu dan mencoba mengamati tas itu, kenapa tiba-tiba cairan obat itu bisa menyemprot dengan sendirinya. tanpa dia menyentuh botol di dalamnya, ketika dia mencoba membuka tas kertas itu.
Mata Ernest yang jeli langsung melihat bagaimana ada sebuah benda yang ditempelkan pada bagian atas tas kertas, yang terhubung pada bagian botol yang jika ditekan, akan membuat cairan di dalam botol itu menyemprot keluar, dan begitu tas kertas itu dibuka, benda berbentuk pipa kecil itu langsung bergerak dan menekan bagian botol untuk menyemprotkan cairan di dalam botol.
__ADS_1
Jadi begini cara orang itu menjebak putri Tira sehingga dia tanpa sengaja menghirup cairan obat bius ini. Orang itu benar-benar sungguh licik, tapi dia juga tidak bisa dianggap remeh karena ternyata dia orang yang terlihat begitu profesional dalam melakukan kejahatannya.
Ernest berkata dalam hati sambil meletakkan kembali tas kertas beserta isinya setelah dia berhasil menemukan penyebab dan memperkirakan bagaimana Tira pingsan dengan tiba-tiba.
"Hah...." Ernest menghela nafas panjang sambil menggerakkan wajahnya kembali, menatap ke arah Tira yang kondisinya seperti orang yang sedang tertidur lelap.
Putri benar-benar adalah gadis yang sangat cantik dan menarik, tidak heran kalau orang bisa begitu tergila-gila padanya hingga gelap mata. Tapi tindakan orang yang membius putri, tidak bisa dibenarkan sama sekali.
Wajah cantik gadis itu, membuat Ernest langsung berpikir bahwa orang yang sudah dengan sengaja membius Tira pasti memiliki rencana buruk terhadap Tira, apalagi jika pelakunya adalah orang yang sama dengan yang melakukan teror pada Tira selama ini, orang yang terobsesi kepada Tira dan sepertinya juga seorang psikopat, jika melihat dari kata-kata maupun hadiah yang seringkali dikirimkan kepada Tira.
Membayangkan bagaimana orang yang membius Tira bisa saja berencana untuk menculik, melecehkan bahkan berniat membunuh Tira, membuat bulu kuduk Ernest merinding dan hatinya bergetar hebat.
"Bagaimana bisa... aku membiarkanmu menghadapi hal buruk seperti ini putri? Meskipun aku tidak datang terlambat, tapi aku sungguh-sungguh menyesal, kamu harus mengalami hal seperti ini. Ke depannya, aku akan selalu memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Semuanya aman-aman saja untukmu putri." Ernest berkata lirih dengan hati dan pikiran yang terasa kacau begitu mengingat pikiran jahat yang mungkin sedang direncanakan orang lain terhadap Tira.
__ADS_1
Ada rasa tidak rela yang langsung menerjang hati Ernest begitu dia memikirkan hal buruk yang bisa saja terjadi pada Tira jika orang itu berhasil menemukan Tira dalam kondisi pingsan sebelum dia.
Baru kali ini, Ernest merasakan bagaimana dia merasa begitu takut seseorang melakukan hal buruk pada orang lain, dan itu adalah seorang gadis.
Meskipun selama beberapa tahun ini boleh dikata sebagai pengawal pribadi Alvero, Ernest seringkali menghadapi kondisi genting yang bisa saja sewaktu-waktu membuat mau menjemputnya, tapi dia tidak pernah takut sedikitpun.
Tapi sekarang, keberadaan Tira yang dengan sadar menjadi gadis yang begitu dicintainya, membuat hanya memikirkan hal buruk apa yang bisa saja terjadi pada Tira, membuat Ernest merasa begitu khawatir dan takut.
Jika saja itu Erich, satu-satunya saudara yang begitu dekat dengannya, atau Alvero, sebagai orang yang telah diikutinya selama puluhan tahun, atau bahkan Deanda, permaisuri Gracetian yang begitu perhatian padanya, Ernest tidak pernah begitu khawatir pada mereka, karena Ernest tahu kemampuan mereka dalam membela diri mereka sendiri.
Akan tetapi, sosok Tira yang sedang diamatinya sekarang ini, Ernest tahu putri cantik itu tidak memiliki kemampuan sedikitpun dalam hal beladiri, karena sejak kecil, kondisi Tira memang tidak sebaik putri yang lain, sehingga dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam istana, belajar bermain musik, merangkai bunga, ataupun melukis, yang jelas tidak membutuhkan fisik sekuat Deanda atau Alea.
"Aku tahu semakin mencintaimu, semakin aku taku kamu terluka dan takut untuk kehilanganmu, tapi maaf putri... aku tidak bisa menghentikan rasa cinta yang ternyata semakin lama semakin dalam terhadapmu." Ernest berkata lirih, antara rasa sesal, cinta, juga takut, bercampur jadi satu dalam dadanya.
__ADS_1