
“Jika dilihat dari waktu pembuatan lukisan itu, bisa dipastikan kalau memang benar tuan Theo adalah anak dari baroness Eliana, berarti dia adalah kakak dari putri Desya…”
“Cih… kamu masih saja menyebutkan nama Eliana dengan begitu hormat, padahal dia bukan lagi seorang baroness sejak statusnya sebagai bangsawan diturunkan menjadi rakyat biasa. Tidak ada hal istimewa dan baik dari seorang Eliana sehingga kita harus tetap bersikap hormat padanya.” Erich berkata setelah mendecih cukup keras begitu mendengar Ernest yang masih saja bersikap sopan saat menyebutkan nama Eliana di depan orang lain.
“Itu hanya sekedar kebiasaan, jangan terlalu diambil hati. Toh pada kenyataannya orang tahu kalau dia sekarang bukanlah seorang bangsawan.” Ernest berkata dengan senyum di wajahnya, sedang Erich masih dengan wajah tanpa senyumnya.
“Kamu memang terlalu baik hati pada semua orang.” Erich berkata sambil mematikan mesin mobil yang sudah terparkir di salah satu sudut lapangan yang digunakan oleh penghuni mansion keluarga Shaw sebagai tempat parkir.
“Tidak ada salahnya berbuat baik kan?” Ernest berkata sambil merangkul bahu Erich yang hanya bisa menarik nafas panjang mendengar apa yang diaktakan oleh Ernest.
Aku takut, suatu ketika kebaikan hatimu justru akan menyakiti dirimu sendiri, karena kamu tidak bisa mengendalikan diri untuk berbuat baik kepada siapapun, terutama orang-orang yang kamu sayangi dan istimewa bagi hatimu.
Erich berkata dalam hati sambil berjalan ke arah kamar yagn disediakan oleh pihak keluarga Shaw untuk ditempati mereka.
“Hah….” Begitu memasuki kamar yang emreka tempati, Ernest langsung menarik nafas panjang sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, menariknya untuk meregangkan otot-otot di tubuhnya, berusaha menghilangkan penat di tubuhnya setelah berhasil menyelesaikan misi penyusupan mereka.
“Sudah hampir pagi, sebaiknya kita mengirimkan pesan kepada yang mulia untuk melaporkan hasil penyusupan kita malam ini. Setelah itu kita bisa beristirahat sebentar sebelum menemui yang mulia pagi ini.” Ernest berkata sambil menatap ke arah Erich yang tampak mendekati tas kopernya, untuk mengganti pakaian yang dikenakannya dengan yang lebih nyaman.
Seperti kata Ernest barusan, sambil menunggu fajar menyingsing, Erich berencana untuk beristirahat sebentar.
Ernest sendiri segera melepaskan jas yang dikenakannya, dan mengeluarkan belasan amplop surat yang tadi dia bawa dari ruang kerja Theo.
Belasan amplop yang tadinya disembunyikan di balik sebuah lukisan yang hingga saat ini masih menimbulkan banyak pertanyaan di hati Ernest maupun Erich.
__ADS_1
Begitu semua amplop itu sudah berpindah dari pakaian yang dikenakannya menjadi di atas meja yang ada di depannya, Ernest mengambil salah satu dari amplop itu, dan berusaha mengamatinya dengan lebih teliti, karena dia tadi tidak sempat melakukan itu.
Begitu mendengar suara langkah banyak orang yang sedang bergegas bergerak di sekitar tempatnya berada, dalam pikiran Ernest tadi dia hanya terpikirkan untuk terlebih dahulu membawa amplop-amplop itu tanpa melihat dan menelitinya lebih lanjut, karena baginya itu bisa dilakukannya nanti setelah dia berhasil keluar dari kediaman Theo.
Setelah mata Ernest fokus melihat ke arah amplop-amplop itu, Ernest justru sedikit mengernyitkan dahinya karena melihat bagaimana ternyata, dari bagian luar amplop-amplop itu terlihat ada dua prangko yang tertempel.
Melihat itu, Ernest langsung mendekatkan amplop itu agar matanya bisa meneliti dengan lebih jelas lagi.
Hah… satu prangko memiliki stempel dari yang menunjukkan kalau surat itu dikirimkan dari Amerika, akan tetapi, di prangko yang satunya, selalu terdapat stempel yang yang menunjukkan surat itu berasal dari Gracetian.
Ernest berkata dalam hati dengan mata terus memandang ke arah dua buah prangko yang terdapat di amplop itu.
Beberapa saat kemudian, mata Ernest berpindah kepada amplop-amplop yang lain.
Ernest juga bisa melihat bahwa tgl yang tertera di prangko itu, selalu saja prangko yang berasal dari Amerika tanggalnya lebih awal daripada yang tertera pasa stempel prangko yang berasal dari Gracetian.
Apa ini adalah surat-surat yang dikirimkan oleh Theo dari Amerika kepada Eliana yang tinggal di Gracetian, dan Eliana mengirimkan kembali ke Amerika? Sehingga pada amplop ini memiliki 2 buah prangko.
Ernest kembali menebak-nebak dalam hati.
“Kenapa kamu masih berdiri di sana dan tidak mengganti pakaianmu?” Erich yang sudah berganti pakaian dengan celana boxer dan kaos oblong yang justru menunjukkan otot-otot di bagian kaki dan lengannya yang terbentuk sempurna, berkata sambil berjalan mendekat ke arah Ernest.
“Apa yang sedang kamu lihat dengan wajah seserius itu?” Erich kembali bertanya dan ikut memandangi amplop-amplop yang tergeletak di atas meja itu.
__ADS_1
“Ada yang aneh dengan amplop-amplop ini…”
“Kita lanjutkan penyelidikan kita besok sekaligus kita bertemu dengan yang mulia Alvero. Lebih baik sekarang kita memberikan laporan kita kepada yang mulia Alvero melalui pesan.” Erich berkata sambil mengambil handphone miliknya dari saku pakaiannya.
“Biar aku yang memberikan laporan kepada yang mulia. Lebih baik kamu tidur saja lebih dulu.” Ernest buru-buru menghalangi Erich untuk mengirimkan laporan kepada Alvero, karena dia sendiri sejak tadi sudah memiliki rencananya sendiri untuk bisa mengirimkan pesan kepada Tira bahwa dia sudah kembali dengan selamat.
Mengingat sifat Tira yang lembut dan penuh perhatian kepada orang lain, Ernest yakin kalau kekasihnya itu hingga saat ini belum bsia memejamkan matanya dengan tenang.
Meskipun sebenarnya Ernest belum sempat melihat pesan terakhir yang dikirimkan Tira tadi sebelum dia berangkat, tapi Ernest sudah bisa menduga kalau Tira pasti sedang menunggu kabar darinya, dan pastinya tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum menerima kabar dari Ernest yang memberitahukan bahwa dia baik-baik saja.
“O… kalau begitu, jangan lupa kamu beritahukan juga tentang jam tangan dengan simbol keluarga baroness milik Eliana yang aku temukan di kamar tuan Theo tadi.” Erich berkata sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan kea rah tempat tidur.
Meskipun sama-sama menjalani misi bersama Ernest, tapi tenaga Erich rasanya lebih terkuras dibandingkan dengan Ernest, karena selain fisik, secara pikiran dan emosional, Erich yang lebih banyak menyimpan rasa sakit hati dan trauma pada Eliana, membuatnya menjadi jauh lebih lelah dibandingkan dengan Ernest.
“Aku tidur duluan. Jangan lupa untuk mematikan semua lampu kalau kamu sudah selesai memberikan laporan kepada yang mulia Alvero.” Erich kembali berkata dengan tubuh sudah berbaring di atas tempat tidur, memaksakan kedua matanya untuk terpejam.
Walaupun Erich meminta Ernest melanjutkan tugas mereka untuk mengirimkan laporan pada Alvero, tapi pikiran Erich yang terus berputar-putar karena semua yang dialami dan juga semua info yang dia dapatkan tentang Eliana dan Theo, membuat pikirannya cukup kacau dan membuatnya jadi sulit untuk langsung tertidur seperti rencana awalnya.
Ernest sediri, begitu melihat Erich sudah dalam posisi bersiap untuk tidur, segera meraih handphonenya, dan mengirimkan pesan kepada Alvero sebagai laporan tentang hasil misi yang berhasil mereka selesaikan dengan baik malam ini.
Aku harus mengirimkan pesan pada putrid terlebih dahulu, karena laporan kepada yang mulia pasti akan menghabiskan waktu cukup lama. Aku tidak mau gara-gara menunggu kabar dariku, putri jadi tidak bisa tidur semalaman.
Ernest berkata dalam hati dan membuka layar handphonenya.
__ADS_1