
“Kalau begitu kita buat dia bertindak lebih aktif lagi.” Tira berkata sambil tersenyum lebar, seeolah sudah menemukan jalan keluar terbaik untuk bisa segera menemukan peneror tidak bertanggung jawab itu.
“Apa maksud Putri?” Baik Steven maupun Ernest langsung bertanya sambil menoleh ke arah Tira secara bersamaan, dengan wajah terlihat penasaran, karena mereka sendiri untuk saat ini masih mengandalkan rencana mengumpulkan info untuk mencoba menemukan siapa pelaku teror itu, belum ada ide lain.
“Untuk mendapatkan ikan, kita harus punya pancing dan umpan yang tentunya lezat bagi ikan yang akan kita pancing, umpan yang sesuai dengan kesukaan ikan itu. Benar begitu kan?” Tira justru bertanya balik kepada Ernest dan Steven.
“Apa maksud Putri? Apa Anda berniat membuat dia semakin marah sehingga dia semakin gencar beraksi?” Ernest berusaha menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Tira dengan hati kebat-kebit karena dia jelas tidak ingin gadis pujaannya itu dalam masalah dan kesulitan karena membuat peneror itu menyerangnya secara langsung.
“Benar Ernest. Selama ini kalian tahu apa isi dari surat-surat dan juga pesan dari peneror itu. Dia selalu saja menunjukkan rasa tidak sukanya dan selalu menagancam setiap laki-laki yang berusaha mendekatiku. Bagaimana kalau kita buat dia justru merasa marah dengan melakukan apa yang dia tidak sukai itu?” Dengan santainya Tira memberikan idenya.
“Apa maksud Putri?” Lagi-lagi baik Ernest maupun Steven mengucapkan perkataannya secara bersamaan.
Kali ini dengan wajah kaget dan tidak percayanya. Steven kaget karena itu akan membuat Tira semakin dalam bahaya, sedangkan Ernest, selain mengkhawatirkan putri cantik yang dicintainya itu, tentu saja ada rasa tidak rela jika Tira harus dekat dengan para laki-laki lain untuk menarik perhatian peneror itu.
__ADS_1
“Eh, kenapa memangnya dengan ideku? Bukannya itu masuk akal sekali? Dengan membuatnya marah, dia akan semakin gegabah dalam bertindak. Dan itu bisa memberikan banyak kemungkinan untuk dia melakukan kesalahan, sehingga membuka lebih banyak petunjuk….”
“Saya tidak setuju dengan ide Putri. Itu terlalu berbahaya untuk keselamatan Putri, karena peneror itu orang yang sepertinya tergolong nekat dan memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh.” Ernest tanpa sadar langsung memotong perkataan Tira, karena hatinya sungguh tidak rela Tira dalam bahaya dan harus dekat dengan laki-laki lain, paling tidak selama Ernest masih di Amerika, dia tidak ingin melihat kemesraan Tira dengan laki-laki lain.
Jika saja dia sudah kembali ke Gracetian, Ernest sadar mau tidak mau dia harus merelakan jika suatu ketika Tira menemukan laki-laki baik sebagai pasangan hidupnya di masa depan, tapi tidak sekarang, di saat dia masih berada di dekat Tira, yang pastinya hatinya tidak akan rela jika Tira bermesraan dengan laki-laki lain di depannya secara langsung.
Apalagi jika Ernest membayangkan harus melihat kemesraan Tira dan kekasihnya sementara dia masih menjadi pengawal pribadi Tira yang harus mengikuti Tira kemanapun dia pergi, Ernest tidak yakin hatinya akan tahan menghadapi itu.
Ernest bahkan hampir saja memalingkan wajahnya untuk membuat dia bisa mengendalikan jantungnya yang berdetak dengan begitu keras saat ini. Hanya saja sopan santun yang selama ini dia pelajari, dan juga sikap pengendalian dirinya sebagai seorang pengawal pribadi seorang Alvero, membuatnya mencegah dirinya sendiri untuk bersikap tidak professional seperti itu.
“Ide Putri akan membuat bukan saja Putri, tapi laki-laki yang dekat dengan Putri mendapatkan masalah, dan bisa jadi dia menjadi korban peneror yang mungkin adalah seorang psikopat berdarah dingin.” Penjelasan Ernest atas ketidaksetujuannya dengan ide Tira membuat Tira tersenyum.
“Apa kamu meremehkan kehebatan orang-orang kita Ernest? Bahkan kalau sampai kita butuh bantuan, ada kak Alvero dan juga duke Evan, termasuk kak Ornado yang pasti dengan senang hari membantu kita.” Tira berkata sambil mengerlingkan mata indahnya, membuat Ernest mau tidak mau jadi menahan nafasnya sejenak.
__ADS_1
"Tapi itu sangat berbahaya untuk lak-laki yang mendekati Putri, yang tidak sadar bahwa dia berada dalam bahaya, apalagi kalau dia tidak cukup memiliki keahlian untuk membela dirinya dan melidungi Putri.” Ernest masih berusaha membuat Tira melupakan idenya barusan.
“Apa itu artinya kamu tidak percaya dengan kemampuan dirimu sendiri Ernest?” Tira langsung bertanya sambil tersenyum lebar, membuat mata Ernest terbeliak lebar, karena mulai bisa menebak siapa pria yang dimaksudkan Tira untuk berpura-pura dekat dengannya.
Si…. Siapa… laki-laki yang dimaksudkan Putri… untuk berpura-pura dekat dengannya? Jangan… bilang… laki-laki itu adalah….
Dengan gugup Ernest berkata-kata dalam hati pada dirinya sendiri sambil menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
“Apa… yang Anda maksudkan… Putri? Siapa… laki-laki yang dimaksudkan oleh Putri?” Ernest mengucapkan kata-katanya dengan sedikit terbata dan wajah terlihat begitu serius, termasuk Steven yang terlihat berusaha untuk menebak siapa laki-laki yang sedang direncanakan Tira untuk berpura-pura mendekatinya itu.
“Kenapa kamu masih mempertanyakan siapa laki-laki itu Ernest? Laki-laki yang cukup menarik perhatian banyak orang, dan dengan kemampuan berpikir cepat, strategi dan beladiri hebat. Siapa lagi?” Tira berkata dengan senyum yang semakin membuat wajahnya terlihat cantik, dan membuat Ernest semakin tidak berkutik di hadapannya.
“Tentu saja laki-laki itu harus kamu Ernest….” Kata-kata Tira membuat detakan jantung Ernest di dalam sana semakin menggila dan membuatnya untuk beberapa saat mematung dengan mata menatap tidak percaya ke arah Tira yang masih saja memamerkan senyum dengan wajah ayunya di depan Ernest, yang membuat jantung Ernest seolah akan melompat keluar dari tempatnya.
__ADS_1