MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PERTEMUAN DENGAN JANETA


__ADS_3

”Oke kalau begitu Ernest, selamat melanjutkan tugasmu mengawal Tira. Jaga adik sepupuku itu dengan baik, karena kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, orang pertama yang akan aku hajar dan minta pertanggungjawabannya adalah kamu Ernest.” Enzo berkata dengan nada terdengar ceria di telinga Ernest.


“Baik Pangeran Enzo.” Ernest kembali menjawab perkataan Enzo yang setelah itu langsung memutuskan sambungan teleponnya.


# # # # # #


“Tira… Tira….” Dengan suara lembut Ernest yang sudah memarkir mobilnya di parkiran café tempat mereka merencanakan pertamuan dengan Janeta memanggil-manggil dengan suara lembut Tira yang masih saja tertidur, hingga mereka sampai di tempat tujuan.


“Tira…”


“Oahemmm….” Dengan gerakan pelan, Tira yang mendengar namanya dipanggil beberapa kali oleh Ernest mulai terjaga dan langsung menguap.


“Ah… apa aku terlalu lama tertidurnya? Maaf, aku tertidur tanpa tersadar, padahal aku seharusnya menemanimu.” Dengan wajah sedikit malu, Tira bertanya kepada Ernest yang bukan hanya membalas senyuman itu, tapi jari jemari Ernest langsung bergerak ke arah wajah Tira, dan mengelusnya dengan lembut.


“Kalau saja kita tidak terlanjur membuat janji dengan Janeta aku akan membawamu ke tempat yang nyaman, agar kamu bisa tidur lebih lama lagi.” Perkataan Ernest membuat Tira dengan cepat menggerakkan tubuhnya yang setengah berbaring, jadi berdiri tegak lurus.


“Tidak Ernest, sebaiknya kita segera selesaikan masalah Janeta atau nanti malam aku akan mengalami kesulitan tidur lagi.” Tira berkata sambil menarik nafas dalam-dalam.


“Baiklah kalau itu maumu, kita pergi sekarang.” Ernest menjawab perkataan Tira sambil melepaskan sabuk pengaman yang dikenakannya yang masih terkunci.

__ADS_1


# # # # # # #


“Bagaimana ini… darimana aku harus memulainya?” Janeta bergumam pelan dengan giginya yang sibuk mengigit-gigit ujung-ujung kukunya, untuk mengurangi rasa cemas yang dia rasakan saat ini.


Ketika keluar dari tempat parkir kampus tadi, memang Janeta mengendarai mobilnya dengan cukup kencang, sehingga jauh meninggalkan Ernest dan Tira di belakangnya.


Ernest sendiri, karena sedang menerima panggilan telepon dari Enzo sambil menyetir, tidak berani terlalu kencang membawa mobil yang dikendarainya.


Apalagi tadi Tira sedang menikmati tidurnya, sehingga Ernest begitu berhati-hati dalam menyetir agar tidak mengagetkan Tira.


“Apa yang harus aku katakan pada Ernest dan Tira? Bagaimana cara aku untuk membicarakan masalah ini?” Janeta langsung menghentikan gumamannya begitu melihat sosok Tira dan Ernest yang berjalan ke arahnya sambil bergandengan tangan.


Janeta berkata dalam hati sambil mengingat bagaimana dia tidak bisa mundur lagi, karena semua uang yang dia dapat dari dia menjual semua informasi itu, juga sudah habis dia gunakan untuk bersenang-senang dan membeli barang-barang branded yang dia inginkan.


Sebenarnya Janeta berasal dari keluarga yang cukup mampu. Akan tetapi keluarganya pasti akan memarahinya habis-habisan jika dia berani meminta uang pada kedua orangtuanya, untuk mengembalikan semua uang yang sudah dia terima dari Angel dan juga orang aneh yang sekarang membuat Janeta merasa gusar dan ketakutan.


Bukan masalah uang yang harus diganti oleh Janeta yang menurut Janeta akan membuat keluarganya marah, tapi bagaimana dia yang sudah berani menjadi informan bagi orang yang berniat jahat kepada temannya yang akan menjadi masalah bagi keluarga.


Keluarganya bukan hanya marah, tapi pasti akan kecewa berat jika tahu apa yang sudah dilakukan Janeta demi uang, menjual temannya sendiri.

__ADS_1


“Maaf membuatmu menunggu lama.” Ernest segera meminta maaf dan bersama Tira yang wajahnya masih terlihat mengantuk langsung mengambil posisi duduk tepat di depan Janeta.


“Eh… tidak apa. Justru aku yang sudah memaksa kalian untuk ikut denganku di tempat ini.” Janeta buru-buru berkata sambil dengan gerakan tangan yang sedikit bergetar, meraih sedotan, dan mencoba sedikit membasahi tenggorakannya dengan minuman yang sudah dia pesan, untuk mengurangi rasa gugupnya saat ini.


“Apa… kalian tidak memesan terlebih dahulu?” Pertanyaan Janeta membuat Ernest dan Tira saling berpandangan, dan dengan gerakan pelan, Ernest memanggil salah satu pelayan yang lewat di dekatnya.


Begitu pelayan itu selesai menuliskan pesanan minuman untuk Tira dan Ernest, kedua orang itu kembali memandang ke arah Janetta yang mau tidak mau harus mempersiapkan diri untuk menceritakan apa masalah yang sedang dia hadapi sekarang.


“Ernest… terutama kamu Tira… aku sungguh-sungguh menyesal dan meminta maaf padamu…” Perkataan Janeta membuat Tira mengernyitkan dahinya dengan wajah bingung.


“Kenapa denganmu Janeta? Kenapa harus meminta maaf padaku? Aku tidak merasa kamu pernah melakukan hal yang salah padaku.” Tira segera menolak permintaan maaf dari Janeta, yang baginya tidak pantas untuk dia terima, karena selama ini hubungan mereka baik-baik saja.


“Mmm… anu… ah….” Janetta tampak begitu giugup setelah mendengar kata-kata Tira.


Aku benar-benar bodoh… bisa-bisanya aku melakukan hal memalukan sekaligus mengerikan seperti itu pada Tira. Padahal Tira adalah seorang teman yang baik hati, dan tidak pernah melakukan hal buruk pada orang lain, termasuk padaku.


Janeta berkata dalam hati, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri agar dia bisa menceritakan apa yang sudah terjadi padanya kepada Tira dan Ernest.


“Aku sudah bersalah pada kalian berdua, terutama Tira, karena selama beberapa waktu ini, aku sudah menjual informasi apapun tentang Tira dan menyusul info tentang Ernest. Aku memberikan info itu kepada Angel dan juga satu orang lain yang tidak aku kenal. Bahkan sempai saat ini, aku tidak tahu siapa orang itu.” Akhirnya Janeta memaksa dirinya sendiri untuk membuat pengakuan di depan Ernest dan Tira

__ADS_1


__ADS_2