
“Selain itu, Aku mau Ernest benar-benar bisa sering-sering di dekatmu, karena itu… Erich….” Alvero berkata sambil menoleh ke arah Erich yang langsung bersikap sigap begitu Alvero menyebutkan namanya.
“Aturkan hari ini juga, agar Ernest mendapatkan status sebagai mahasiwa jurusan musik dari kampus yang ada di Gracetian, dan sedang menjalani proses pertukaran mahasiswa di kampus Tira.” Kata-kata Alvero kali ini membuat semua mata memandang ke arah Alvero dengan tatapan mata heran.
“Kenapa? Kita tidak boleh setengah-setengah dalam menjalankan rencana ini. Aku mau Tira benar-benar selalu dibawah pengawalan Ernest kemanapun dia pergi, termasuk saat dia menjalani kuliahnya. Karena itu, Ernest harus berpura-pura menjadi mahasiswa di kelas yang sama dengan Tira.” Alvero kembali menegaskan kenapa dia ingin agar Ernest berpura-pura menjadi seorang mahasiswa di kampus Tira.
“Maaf menyela Alvero. Tapi Erneset bukanlah orang yang pernah kuliah di jurusan musik? Apa itu nanti tidak akan menjadi masalah jika sampai ada yang tahu tentang itu?” Victor langsung bertanya kepada Alvero.
“Aku rasa tidak akan ada yang curiga tentang hal itu. Apalagi atas perintahku, aku akan meminta pihak kampus di kota Tavisha untuk membantuku mengeluarkan kartu keterangan mahasiswa milik Ernest, dan mengubah beberapa data pribadi Ernest untuk digunakan di Amerika. Kita memiliki kerjasama yang baik dengan Amerika, sehingga tidak sulit untuk meminta mereka melakukan pertukaran mahasiswa jika pihak Gracetian memintanya.” Alvero berkata dengan sikap tenang, seolah tidak perduli dengan orang lain yang ada di ruangan itu, yang masih tampak bingung dan merenung, memikirkan keputusan Alvero.
“Kenapa dengan kalian? Apa yang kalian khawatirkan? Justru dengan Ernest yang bisa ikut kuliah bersama Tira di kelas yang sama, bukannya itu akan memudahkan Ernest untuk menjaga Tira?” Alvero langsung bertanya dengan mata berkeliling menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu setelah melihat wajah ragu dan bingung yang tertangkap oleh mata jeli Alvero.
__ADS_1
“Bukan begitu, tapi Apa Ernest tidak akan mengalami kesulitan kalau harus berpura-pura menjadi seorang mahasiswa?” Deanda mencoba mewakili yang lain menyampapaikan pendapatnya.
“Memangnya kenapa? Ernest, meskipun usianya sudah hampir di penghujung angka 30an, tapi wajahnya yang awet muda, akan membuat orang percaya kalau kita mengatakan kalau Ernest masih berusia awal 20 an, bahkan 19 tahun mungkin.” Wajah Ernest langsung sedikit memerah mendengar pujian dari Alvero, yang sebenarnya tbukanlah sebuah basa basi, karena memang pada dasarnya, wajah Ernest dan Erich memang terlihat jauh lebih muda dari usia asli mereka.
“Eh, bukan masalah wajah, tapi apa Ernest mampu menjalani kehidupannya sebgai mahasiswa jurusan musik yang belum pernah dijalaninya sama sekali, dan begitu berbeda jauh dengan dunia asli Ernest….” Deanda menghentikan bicaranya sambil melirik kea rah Ernest yang memilih untuk diam seribu bahasa mendengar perdebatan orang-orang itu tentangnya, karena sebagai seorang bawahan, dia merasa hanya bisa mengikuti apa kata pemimpinnya dengan baik tanpa membantah.
“Seperti penjelasanmu tadi, keberadaan peneror itu belum ada petunjuk sama sekali, sehingga kita tidak tahu untuk berapa lama Ernest akan menjadi pengawal Tira. Untuk saat ini, kita tidak tahu perkiraan kapan orang itu bisa ditangkap. Jika itu membutuhkan waktu lama, bagaimana dengan nasib Ernest? Apa keberadaannya sebagai mahasiswa musik tidak akan dicurigai?” Deanda melanjutkan kata-kata yang diucapkannya dengan suara sedikit rendah, takut kalau itu menyinggung Ernest yang selama ini dia ketahui tidak memiliki kemampuan dalam bermain musik.
Bagi Alvero yang sudah bertahun-tahun mengenal Ernest, apa yang ditakutkan Deanda, tidak akan pernah terjadi, karena seperti yang dikatakan oleh Alvero, Ernest selalu memiliki akal untuk menyelesaikan masalah, dan dia juga bukan orang sembarangan yang bisa dianggap remeh, sehingga Alvero yakin saat dia tadi memutuskan untuk memilih Ernest.
“Itu sepenuhnya akan menjadi tanggungjawabmu untuk bisa berpura-pura sebagai mahasiswa jurusan musik. Apa kamu sanggup Ernest?” Pertanyaan Alvero membuat Ernest langsung memandang ke arah Alvero, dengan sedikit membusungkan dadanya dengan sikap tegap.
__ADS_1
“Sanggup Yang Mulia.” Jawaban dengan nada tegas dari Ernest, membuat Avlero langsung menyungingkan senyum di wajahnya, sedang Erich hanya bisa menahan nafas dengan sikap pasrah.
Kalau hal ini tidak bisa lagi dicegah, itu artinya aku harus selalu mengingatkan Ernest agar dia tidak salah langkah dan bisa merusak masa depannya.
Erich berkata dalam hati sambil melirik ke arah Tira, dimana gadis itu terlihat sedang tersenyum dengan wajah lega menatap ke arah Ernest yang sudah menyanggupi untuk menjadi pengawal pribadinya, meskipun Tira tidak yakin Ernest bisa melakukan dengan baik tentang masalah harus berpura-pura menjadi mahasiswa jurusan musik.
“Kalau begitu, semua sudah diputuskan. Hari ini, kamu harus segera mengurus semua hal tentang persiapan Ernest berangkat ke Amerika sebgai seorang mahasiswa Erich. Ernest, selesaikan semua tugasmu sebelum kamu benar-benar berangkat ke Amerika.” Alvero kembali mengulang rencananya di depan yang lain.
“Untuk Uncle Victor dan Auntie Ava, apa kalian ada sesuatu yang mau disampaikan?” Sebelum mengakhiri pertemuan mereka, Alvero bertanya kepada Ava dan Victor sebagai orangtua Tira.
“Tidak Alvero. Terimakasih karena kamu selalu memikirkan yang terbaik untuk saudara-saudaramu, termasuk Tira.” Kata-kata Victor membuat Alvero tersenyum tipis.
__ADS_1
“Jangan merasa sungkan Uncle, sudah tugasku sebagai pemimpin kleuarga Adalvino untuk memberikan yang terbaik untuk kalian…. Kalau begitu kalian bisa kembali beristirahat. Semoga peneror itu bisa secepat mungkin diketemukan, sebelum tingkah lakunya semakin menjadi.” Perkataan Alvero langsung disambut dengan anggukan kepala tanda setuju dari yang lain.