
Dengan gaya berpakaian kasualnya, calana jenis ripped jeans, dan kaos tanpa kerah berlengan pendek yang menunjukkan bentuk tubuh berotot sempurnanya, sambil menyanyikan lagu one call away dengan jari[jari tangannya yang bergerak lincah di atas tuts keyboard, penampilan Ernest yang sempurna itu membuat Tira terpana dan tidak bisa menyembunyikan bagaimana dia begitu terpesona oleh sosok Ernest saat ini.
(Seperti namanya, ripped jeans adalah jenis jeans yang memiliki robekan atau lubang pada kain denim. Umumnya robekan atau lubang ini terdapat pada bagian lutut atau bagian lainnya pada jeans. tren ini mulai populer pada tahun 80-an saat para musisi rock menggunakan celana jeans ripped ini).
Penampilan Ernest disempurnakan dengan sisiran rambutnya yang rapi tapi tidak menggunakan gel rambut, sehingga membuatnya tampil muda, energik dan tidak kalah dengan penampilan penyanyi aslinya yang memang seorang artis.
Sebuah penampilan Ernest yang selama ini belum pernah dilihat seklaipun oleh Tira, yang biasanya selalu melihat Ernest dalam balutan seetelan jas resmi dan rambut yang selalu tersisir rapi dan kaku, sebagai pengawal pribadi Alvero.
Tira benar-benar tidak menyangka bahwa sosok Ernest yang selama ini dia kenal sebagai pengawal pribagi Alvero ternyata bukan hanya pandai dalam hal bertarung, tapi dia juga memiliki suara begitu merdu yang dan terdengar romantis, disertai dengan kemampuannya memainkan keyboard dengan baik.
Wajah tampan, bentuk tubuh yang begitu ideal sebagai seorang pria dengan otot-otot tubuh yang terlatih, ditambahkan dengan suara merdu sekaligus terdengar romantis membuat tenggorakan Tira tersekat
Saat ini hati Tira benar-benar bergejolak karena pemandangan di depannya, suatu perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan saat dia menatap sosok seorang laki-laki.
__ADS_1
Sepertinya, aku benar-benar sudah... jatuh cinta pada Ernest....
Tira berkata dalam hati sambil menggigit bagian bawah bibirnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa sekarang dia tidak sedang bermimpi.
Sambil menyanyikan lagu itu, mata Ernest menatap lurus ke arah Tira, seolah-olah dia sengaja ingin menyampaikan perasaannya melalui lagu yang bernada cukup ceria itu, tapi isinya berhasil membuat hati Tira semakin sadar, bahwa dia memang telah jatuh cinta pada Ernest.
Entah sejak kapan dan dimana, Tira tidak bisa menjelaskannya, tapi yang pasti, tatapan mata Ernest, dan juga lagu yang sedang dinyanyikannya, membuat Tira semakin yakin bahwa dia sudah benar-benar terserang virus cinta.
Dan itu membuat jantung Tira berdisko ria di dalam sana tanpa bisa dia kendalikan, apalagi sepanjang Ernest menyanyikan lagu itu, selain tatapan mata coklatnya yang indah menatap lurus ke arah Tira, senyuman manis tidak pernah lepas dari bibirnya yang bagi Tira saat ini terlihat begitu sekkkk…ssiii, membuat hati Tira semakin tidak berkutik karena pesona Ernest hari ini.
“Ehem….” Dengan langkah berusaha untuk senormal mungkin, meskipun dadanya berdegup dengan begitu kencang, mau tidak mau Tira melangkah maju mendekat ke arah teman-temannya yang sudah berkumpul.
Memang mereka tadi sudah sempat sedikit berbicara tentang rencana tugas kuliah mereka, setelah itu menghabiskan waktu dengan mencoba memainkan satu lagu sambil menunggu kedatangan Tira.
__ADS_1
“Ah, kamu sudah datang Tira?” Bram langsung menyapa Tira, seolah baru menyadari kedatangan temannya yang satu itu.
“Iya, untung kemacetannya segera berkahir begitu petugas kepolisian dan mobil derek datang.” Tira menajwab pertanyaan Bram sambil mencoba menjauhkan pandangan matanya dari Ernest.
Untuk saat ini, Tira merasa bersyukur Bram sudah bertanya lebih dahulu padanya dibandingkan dengan Ernest, karena sampai detik ini bayangan Ernest yang baru saja menyanyikan lagu one call away membuat dada Tira masih berdegup dengan kencang, dan sulit baginya untuk bisa menatap Ernest secara langsung tanpa membuatnya gugup dan kikuk.
“Oke teman-teman, kalau begitu, kita berkumpul dulu untuk membahas tugas kelompok kita karena anggota kelompok kita sudah lengkap.” Bram berkata sambil bangkit dari duduknya dan meletakkan stik drum di tangannya, disusul oleh Janetta yang melepaskan gitar dari bahunya dan Ernest yang berdiri dari duduknya di depan keyboard.
“Sebelum kita menentukan lagu yang akan kita mainkan, sebaiknya kita bahas alat musik apa yang akan dimainkan oleh masing-masing dari kita yang ada di sini." Bram berkata setelah mereka berempat duduk dalam posisi melingkar.
Awalnya dengan sengaja Tira duduk tepat di depan Ernest, bukan di sampingnya sambil dia berusaha mengendalikan debaran jantungnya, akan tetapi pilihan Tira sungguh salah, karena justru posisinya duduk saat ini membuatnya mau tidak mau bertatapan langsung dengan Ernest setiap kali dia mengangkat kepalanya.
"Karena tugas kita memainkan lagu instrumental, sepertinya lebih cocok kalau kita menggunakan piano, bukan keyboard. Dan seperti kita tahu, diantara kita, Tira adalah yang terbaik dalam permainan keyboardnya. Jadi bisa dipastikan, dia yang akan memainkan piano." Perkataan Sam disambut dengan anggukan kepala dari Janetta dan Ernest.
__ADS_1
Aduh... bagaimana dengan nasib Ernest kalau begitu? Meskipun dia tadi telrihat handal dalam memainkan keyboardnya, kalau dia hanya bisa memainkan keyboard saja, akan jadi masalah kalau dia harus memegang alat musik lainnya. Apalagi tugas ini adalah memainkan musik intrumental tanpa adanya penyanyi, sehingga tidak mungkin menempatkan Ernest sebagai vokalis meskipun suaranya sangat merdu.
Tira berkata dalam hati dengan sikap khawatir, tanpa berani mengatakan apapun pada Sam sebagai ketua kelompok, karena takut kalau orang curiga dia dan Ernest sudah lama saling mengenal dengan baik, sedangkan untuk saat ini hal itu tidak boleh diketahui oleh orang lain.