
“Apa maksudnya itu Erich?” Tira langsung bertanya.
“Putri tahu, kalau saya bukan orang yang ramah dan menyenangkan bagi kebanyakan orang. Tidak banyak orang yang mau dekat dengan saya, karena sikap saya kepada orang lain. Saya sadar sepenuhnya tentang hal itu. Akan tetapi, saya bisa melihat dan merasakan, bagaimana tatapan mata Cleosa selaln saja tertuju pada saya setiap kali kami memiliki kesempatan untuk bertemu.” Erich menghentikan kata-katanya sejenak sambil menghela nafasnya.
“Saya tidak tahu apa yang membuat Cleosa selalu memperhatikan saya dengan seintens itu, tapi yang pasti setiap kali matanya menatap saya, saya bisa melihat cinta yang begitu besar terlihat di pancaran matanya, dan itu membuat saya semakin jatuh cinta padanya setiap kali saya menatap matanya.” Erich mengucapkan kata-katanya dengan padangan menerawang jauh ke depan.
Erich mengakhiri penjelasan terakhirnya dengan sebuah senyum tipis di wajahnya, karena setiap kata-kata yang diucapkannya barusan, diucapkannya sambil membayangkan wajah cantik Cleosa yang seperti katanya tadi, selalu memandangnnya dengan tatapan penuh cinta,
Ernest… ternyata saudara kembarmu yang biasanya bersikap sangat dingin pada orang lain itu, aku baru tahu kalau dia memiliki sisi yang begitu hangat dan lembut seperti ini. Aku harap dia dan Cleosa bisa hidup hahagia bersama selamanya di masa depan. Ernest dan Erich, mereka berdua dalah orang-orang baik, yang berhak untuk merasakan kebahagiann bersama orang-orang tersayang yang mereka temukan di kehidupan mereka saat ini.
Tira berkata dalam hati sambil menyungingkan senyumnya.
“Ceritamu sungguh membuat bulu kudukku merinding Erich. Kisah cinta yang indah. Semoga sampai hari pernikahan kalian, semuanya berjalan dengan lancar. Jika ada kesempatan, rasanya ingin sekali aku ikut ke acara pernikahanmu.” Evelyn berkata sambil menghembuskan nafasnya, seolah dia yang baru saja menjalani kisah kehidupan Erich yang penuh dengan lika liku.
“Bagaimana kalau aku mengajukan diri untuk bisa menjadi pengiring wanita Cleosa di hari pernikahan kalian?” Mata Erich langsung terbeliak begitu mendengar apa yang baru saja ditawarkan oleh Evelyn padanya, sedang Tira langsung menepuk-nepuk pipi Evelyn, seperti orang yang sedang berusaha untuk menyadarkan orang yang sedang pingsan.
“Kenapa? Apa tidak boleh?” Dengan santainya Evelyn bertanya kepada Tira yang sedang manatapnya dengan wajah heran.
“Evelyn… bukannya kamu akan segera menikah dengan kak Leo? Bagaimana bisa kamu menawarkan diri menjadi pengiring wanita di pernikahan Erich?” Pertanyaan Tira bukannya membuat Evelyn berpikir, justru malah tertawa kecil.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Kan pernikahan Erich akan dilaksanakan sebulan sebelum pernikahanku dengan kak Leo. Itu artinya, masih ada kesempatan bagiku untuk menjadi seorang pengiring wanita.” Kali ini, bukan hanya menepuk-nepuk pipi Evelyn, tapi Tira langsung mencubitnya dengan cukup keras.
“Auwww!” Sebuah teriakan langsung terdengar dari bibir Evelyn.
“Kamu ini! Mau menikah masih saja memikirkan hal yanag tidak masuk akal. Apa mungkin kedua kakakmu Dave dan Bryan, apalagi orangtuamu mengijinkan kamu menjadi pengiring wanita sedangkan kamu sendiri harus bersiap untuk pernikahanmu sendiri? Jangan berpikir untuk berindak hal yang aneh-aneh.” Evelyn hanya bisa meringis mendengar nasehat dari Tira.
Putri Tira, benar-benar gadis yang menyenangkan.
Dalam hati, Erich berkata sambil menatap Tira dengan tatapan mata kagum, karena tidak menyangka kalau tanpa sadar dia bahkan mulai menikmati pembicaraan santainya dengan Tira dan Evelyn.
Dengan wajah kaget Erich langsung bangkit dari duduknya secara tiba-tiba begitu matanya melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangannya, karena ternyata, bukan hanya satu dua atau bahkan 20 menit, tapi pembicaraan mereka barusan ternyata sudah memakan waktu sekitar satu setengah jam.
“Eh, mau kemana kamu Erich?” Evelyn yang melihat Erich sudah mengeluarkan tanda-tanda untuk pergi dari tempat itu, segera bertanya kepada Erich, yang jadi menghentikan niatnya untuk berpamitan.
“Saya harus segera kembal....”
“Aah, kalian ada di sini rupanya.” Sebuah suara langsung terdengar sehingga Erich membatalkan niatnya untuk melanjutkan kata-katanya.
Suara yang begitu dikenalnya, membuat Tira dengan cepat menoleh ke arah belakang, dan langsung menyungingkan senyumnya begitu melihat sosok Ernest yang sedang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
“Selamat sore Putri Tira, Nona Evelyn…” Dengan sikap hormat, Ernest segera menyapa kedua gadis yang sedang menoleh ke arahnya itu.
“Selamat sore Ernest.” Baik Evelyn maupun Tira langsung menjawab sapaan Ernest, dan tanpa sepengetahuan siapapun, Evelyn mengucapkan salamnya dengan siku tangannya menyenggol ke pinggang Tira, dengan lirikan mata yang terlihat jelas sedang menggoda Tira yang sedang dikunjungi oleh pangeran impiannya.
“Kenapa kamu menyusulku ke tempat ini? Apa ada hal penting yang perlu kita bicarakan tentang rencana tadi siang.” Erich menjawab pertanyaan Ernest dengan sikap enggan, membuat Ernest terpaksa mengalihkan pandangan matanya dari Tira.
“Sebenarnya tidak ada hal mendesak. Hanya saja, tadi aku cukup kaget ketika melihat jam, ternyata kamu sudah cukup lama keluar dari kamar dan tidak kembali. Hampir satu setengah jam lamanya. Karena itu aku berusaha untuk mencarimu, berpikir kalau kamu sedang membutuhkan bantuan.” Penjelasan Ernest membuat Tira dan Evelyn saling berpandangan dengan wajah kaget, begitu juga Erich.
Astaga! Ternyata selama itukah aku mengobrol dengan nona Evelyn dan putri Tira? Padahal, dengan orang yang merupakan teman sekerjaku saja, saja aku tidak berbincang dalam waktu yang sedemikian panjang. Apalagi nona Evelyn dan putri Tira yang boleh dibilang hampir tidak pernah berbincang-bincang denganku.
Erich berkata dalam hati dengan wajah kagetnya, tidak menyangka kalau pembicaraan mereka bertiga tadi cukup untuk membuatnya bertanya-tanya kenapa dia tanpa sadar sudah bersikap sedemikian nyaman saat berada di samping Tira dan Evelyn, seolah-olah mereka berdua teman yang sangat akrab dengannya.
“Tidak… ada masalah apapun padaku. Aku hanya sedang menceritakan beberapa hal tentang aku dan Gracetian pada mereka berdua.” Jawaban Erich membuat Ernest merasa heran, tapi dia memutuskan untuk tetap bersikap tenang, agar Erich tidak merasa curiga kalau Ernest merasa senang melihat bagaimana Erich yang sudah mau mengobrol dengan Tira dan Evelyn.
“Kalau begitu, sekarang sebaiknya kita kembali ke kamar, karena yang mulia Alvero barusan menghubungiku, dan meminta kita bersiap untuk makan malam sebelum nanti malam kita melaksanakan misi kita di rumah Theo.” Perkataan Ernest cukup untuk membuat Erich berjalan mendekat ke arahnya dengan sikap bergegas.
“Apa yang dikatakan oleh yang mulia Alvero? Itu tidak berkaitan dengan pembatalan rencana kita malam ini ya?” Erich yang begitu khawatir kalau-kalau Alvero pada akhirnya menghentikan rencana penyusupan mereka nanti malam, langsung berkata kepada Ernest yang langsung tersenyum.
“Tidak ada pembatalan. Tenang saja Erich, yang mulia hanya ingin bertemu kita sebelum kita berangkat melaksanakan tugas malam ini.” Jawaban Ernest membuat Erich menghembuskan nafas leganya.
__ADS_1