
“Selain itu, kita juga harus menemukan siapa sebenarnya ayah dari Theo. Siapa laki-laki yang berhubungan dekat dengan Eliana waktu itu. Apa dia seorang pira yang sangat memalukan sehingga Eliana bahkan mencoba menghapuskan jejaknya dari kehidupannya.” Ornado menambahkan perintah dari Evan.
“Benar katamu Ad….” Alvero bergumam pelan.
“Ah ya… Aku juga akan meminta Sam untuk mulai melakukan penyelidikan di Gracetian. Supaya lebih cepat. Kalian berdua selesaikan penyelidikan panti asuhan yang ditempati oleh Theo dulu, biar penyelidikan di Gracetian, diselesaikan oleh Sam.” Evan berkata sambil memandang tumpukan surat lainnya, yang masih ada di atas meja.
“Erich, sepertinya setelah ini kamu harus mengajak yang lain untuk melakukan penyelidikan itu. Aku lupa kalau Ernest masih ada hal yang harus diselesaikannya. Bukannya hari ini Ernest masih harus mengantar Tira ke kampus? Kita tidak bisa membiarkan Tira begitu saja karena Luis, sebagai peneror masih berkeliaran di kampus.” Evan melanjutkan kata-katanya sambil menghela nafasnya.
“Baik Duke Evan.” Lagi-lagi baik Ernest maupun Erich menjawab perintah Evan dengan sikap hormat.
Perkataan Evan, mau tidak mau membuat Ernest melirik jam di pergelangan tangannya, dimana sebenatar lagi memang sudah waktunya untuk mengantar Tira ke kampus, dan menjalankan rencana mereka untuk memancing Luis agar laki-laki itu kembali melakukan teror, sehingga mereka bisa menangkap Luis dengan bukti yang kuat.
“Mohon maaf Yang Mulia, seperti kata duke Evan, sepertinya sebentar lagi saya harus pergi ke kampus bersama dengan putri Tira….” Ernest berkata kepada Alvero yang langsung memandangannya.
“Kamu boleh pergi sekarang Ernest, biar masalah Theo, sementara ini kami yang mengurusnya. Terimakasih untuk kerja kerasmu bersama Erich semalam.” Alvero langsung memberikan ijin kepada Ernest.
“Kalau begitu, saya pamit dahulu Yang Mulia. Selamat siang, Permaisuri Deanda, Dukee Evan, Tuan Ornado….” Dengan sikap sopan dan hormat Ernest berpamitan kepada semua yang ada di tempat itu, dengan sedikit melirik ke arah Erich, yang jujur saja, ada rasa tidak nyaman di dadanya begitu Ernest berniat mengantar Tira ke kampus, setelah beberapa kali, Erich merasa Ernest sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan entah kenapa, Erich begitu yakin itu semua ada hubungannya dengan Tira.
__ADS_1
Kenapa denganku? Apa yang sebenarnya terjadi pada Ernest? Selama ini, feelingku terhadap Ernest tidak pernah meleset? Apa kali ini juga seperti itu? Aku sungguh berharap, kali ini instingku benar-benar salah.
Erich bertanya-tanya dalam hati, meskipun setelah itu dia berusaha mengabaikan pikirannya, dan kembai fokus pada masalah Theo.
“Semoga Luis bisa segera tertangkap saat dia melakukan aksinya, sehingga dia tidak bisa lagi menghindari hukuman untuknya.” Deanda langsung menjawab perkataan Ernest yang barusan berpamitan kepada mereka, dan tangan Alvero memberikan kode kepada Ernest, agar dia bisa meninggalkan tempat itu sekarang juga.
Setelah itu akhirnya, satu persatu mereka membuka semua surat-surat, yang rata-rata menceritakan kondisi Theo saat menuliskan surat-surat itu.
Dari semua yang tertulis di sana, Theo berusaha menceritakan kondisinya kepada Eliana di saat-saat hari istimewanya.
Ada yang menuliskan bagaimana Theo yang bisa meraih nilai terbaik saat kelulusan sekolahnya, ada yang menceritakan tentang saat Theo mendapatkan penghargaaan karena keberhasilannya menjadi juara saat perlombaan olahraga di sekolahnya, juga saat-saat die memenangkan penghargaan lain sebagai murid teladan.
Sayangnya, semua surat itu, dikembalikan lagi pada Theo, entah Eliana membaca surat itu atau tidak.
Pada semua surat itu, di bagian akhirnya, Theo selalu menuliskan: Aku harap Nyonya mau menjawab pertanyaanku, apakah benar aku adalah putra kandungmu?
Meskipun semua surat itu kembali padanya, tampak jelas bahwa Theo tidak berputus asa dan terus menuliskan surat-surat itu, yang diakhiri dengan pertanyaan apakah dia adalah putra kandung Eliana.
__ADS_1
“Sepertinya setiap kali ada hal yang membanggakan yang berhasil dia capai, Theo akan menuliskan surat pada Eliana. Terlihat jelas dia begitu ingin Eliana tahu akan kondisinya, meskipun dari surat-surat yang dikembalikan ini, terlihat jelas bagaimana Eliana tidak ingin berhubungan dengan Theo.” Ornado berkata setelah dia memperhatikan dengan detail beberapa surat yang dituliskan Theo itu.
“Benar-benar seperti anak terbuang.” Alvero berkata sambil mendesis pelan, sedang Evan sudah sibuk memberikan tugas kepada Sam perihal penyelidikan tentang alamat yang dituliskan oleh Theo di suratnya itu.
Dengan cepat Evan meminta Sam mengerahkan orang-orang mareka untuk segera memulai penyelidikan, bahkan Evan meminta Sam untuk mencari data penerbangan orang-orang yang melintas antara Amerika dan Gracetian, di kurun waktu yang kira-kira sama dengan waktu, dimama Eliana mengalami masa-masa kehamilan dan melahirkan.
Bagi Alvero, melihat bagaimana sifat kejam Eliana ketika itu, Alvero tidak merasa kaget sama sekali kalau wanita yang dianggapnya licik seperti ular itu dengan teganya membuang darah dagingnya sendiri dan bersikap kejam seperti itu kepada Theo.
“Setiap kata-kata di akhir surat menuliskan pesan yang sama, menunjukkan sampai saat itu Theo tetap belum mendapatkan pernyataan dari Eliana bahwa dia memang anak dari Eliana.” Evan berkata sambil melirik lembaran kertas yang tampak berserakan di atas meja yang ada di hadapan mereka itu.
Kertas-kertas yang merupakan isi dari amplop-amplop surat milik Theo.
“Tapi Evan, apa kamu memperhatikan… kalau setiap tahun di hari yang dianggap Theo sebagai ulang tahunnya, Theo selalu menuliskan surat untuk Eliana, tapi pada ulang tahunnya yang ke delapan belas tahun, dia tidak lagi menuliskan surat kepada Eliana.” Ornado berkata sambil mengetuk-ketukkan jari telunjuknya di atas meja.
Ornado mengatakan hal itu karena periode terakhir dari surat-surat itu tertera tanggal pengiriman surat tepat pada saat Theo berulang tahun ke tujuh belas, setelah itu sudah tidak adalagi surat-surat Theo pada Eliana.
“Benar Ad, aku juga memikirkan tentang hal itu. Bukan saja cerita Theo tentang hari ulang tahunnya kepada Eliana yang terhenti, tapi ulang tahunnya yang ke tujuh belas sepertinya menjadi surat terakhir Theo kepada Eliana. Entah apakah ada surat-surat lain yang tidak ditemukan oleh Ernest dan Erich, atau Eliana mulai menerima surat-surat Theo dan tidak lagi mengirimkannya kembali, atau memang Theo tidak lagi menuliskan surat-surat kepada Eliana karena merasa putus asa karena tidak pernah mendapatkan balasan, justru harus menerima kembali surat-surat itu.” Evan berkata panjang lebar, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi.
__ADS_1
“Dan itu hanya Theo saja yang mungkin bisa menjelaskannya kepada kita, tentang semua pertanyaa-pertanyaan itu.” Alvero langsung menanggapi perkataan Evan dan Ornado.
“Evan, tolong minta agar Sam segera memberikan hasil penyelidikannya. Erich, seperti kata Evan, segera selidiki panti asuhan tempat Theo dirawat. Dengan semua info yang ada, aku berniat membuat Theo menemui kita. Baik dengan cara baik-baik ataupun dengan paksaan, kita harus bertemu dengan Theo.” Alvero berkata dengan tangannya yang ada di atas meja di depannya, tampak terkepal dengan cukup erat, karena hal ini berkairan erat dengan sosok wanita yang bagi Alvero sangat kejam, dan meninggalkan luka hati pada banyak orang terhadap orang-orang di sekelilingnya, orang-orang yang disayanginya, termasuk dia sendir yang mengalami trauma karena kejahatan Eliana yang sudah dilakukannya pada Alvero di masa kanak-kanaknya.