
Pantas saja waktu itu pak Luis tidak terlihat marah meskipun Tira dan Anna hampir terlambat, bahkan sempat bertabrakan dengan pak Luis. Ternyata… pak Luis adalah serang psikopat yang menyukai Tira. Bukan… bukan sekedar menyukai, tapi itu sudah terobsesi…
Janeta berkata dalam hati tanpa bisa berkedip, menatap ke arah Luis yang sedang tersenyum ke arahnya.
Bagi orang yang tidak mengenalnya melihat sosok Luis sedang tersenyum, adalah pemandangan yang cukup membuat orang teralihkan pandangannya kepada yang lain, dan memandang kagum ke arah Luis.
Akan tetapi… bagi Janeta yang sudah tahu siapa sebenarnya Luis, membuatnya jadi merasa takut, dan ingin buru-buru berlari dari hadapan Luis, naamun dia segera ingat sesuatu yang membuatnya tidak bisa melakukan itu di depan Luis.
Tahan… tahan… Janeta, kamu harus bersikap biasa. Seperti kata Ernest, jangan sampai Luis curiga kalau aku sudah tahu siapa dia yang sebenarnya. Kalau sampai dia tahu, semua rencanaku bersama Tira dan Ernest untuk menjebak pak Luis tidak akan berhasil. Kalau dia sampai curiga dan akhirnya tahu, aku bsia benar-benar dalam bahaya.
Dengan cepat, Janeta menahan dirinya sendiri untuk tidak menimbulkan kecurigaan pada Luis, dan meskipun saat ini kakinya sebenarnya bergetar, dia mencoba untuk tetap bertahan berdiri di tempatnya.
“Selamat sore Pak Luis… maaf… saya tidak sengaja membuat pak Luis menabrak keranjang dorong yang tidak saya letakkan dengan hati-hati.” Dengan susah payah, Janeta berusaha berkata pada Luis dengan suara yang tidak terlalu bergetar.
“Kamu baru pulang dari kampus?” Tanpa menjawab permintaan maaf Janeta, Luis balik bertanya kepada Janeta.
__ADS_1
Gawat… aku harus menjawab bagaimana? Kalau aku berkata baru pulang dari kampus… takutnya dia juga baru dari kampus dan tahu aku berbohong. Kalau aku bilang baru saja bersama Ernest dan Tira… dia pasti curiga dengan alasan apa aku bisa bersama dengan Ernest dan Tira.
Janeta berkata dalam hati dengan sikap bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Luis dengan hati-hati, supaya dia tidak memancing kecurigaan Luis.
“Saya baru saja bersama Tira dan Ernest, untuk membicarakan tugas kelompok kami.” Akhirnya dengan cepat Janeta yang teringat tentang hal yang bisa menjadi alasan untuk dia bertemu dengan Ernest dan Tira menjadikan itu sebagai alasan di depan Luis.
Meskipun pagi tadi Janeta mendapatkan pesan dari orang misterius yang memintanya untuk memisahkan Ernest dan Tira, tapi saat ini Janeta tidak boleh membuat Luis sadar bahwa dia sudah tahu bahwa orang misterius itu adalah Luis.
“Ooo, Ernest dan Tira ya? Kalian ada dalam kelompok yang sama dalam tugas kuliah?” Dengan suara dan tatapan mata yang menyelidik Luis bertanya kepada Janeta, membuat Janeta harus sedikit menahan nafasnya agar tidak salah berbicara di depan Luis.
“Begitukah?” Hanya satu kata yang menjadi pertanyaan dari Luis, tapi sudah menjadi sesuatu yang membuat hati Janeta bergetar karena rasa tidak nyaman bagaimana sikap Luis yang dianggapnya terlihat memojokkan dirinya dengan sikap dan tatapan matanya.
Rasanya, Janeta ingin segera menyingkir dari hadapan Luis, tapi saat ini belum berani melakukan itu.
“Iya… Pak…”
__ADS_1
“Mmmm. Aku dengar berita tadi pagi bahwa Ernest dan Tira sudah resmi berpacaran? Apa benar begitu?” Pertanyaan dari Luis yang sedari tadi sudah diperkirakan oleh Janeta, akhirnya keluar juga dari bibir Luis, membuat Janeta harus semakin hatihati dalam menjawab pertanyaan Luis.
“Saya dengar berita itu juga. Hanya saja… tadi ketika saya bersama mereka… sepertinya mereka sedang ada masalah, dan ada sedikit pertengkaran yang saya dengar sebelum berpisah dari mereka berdua sore ini.” Kata-kata Janeta yang diucapkan dengan begitu hati-hati, membuat Luis sedikit mengernyitkan dahinya.
Apa benar terjadi hal seperti itu? Apa Janeta sudah melakukan perintahku tadi pagi dengan baik? Hebat sekali dia, berhasil membuat api di tengah-tengah orang yang baru saja menjalin hubungan cinta yang pastinya masih sangat menggebu-gebu karena masih baru…
Janeta… dia adalah gadis yang baisanya cukup cerewet, tapi hari ini terlihat seperti orang gagap. Apa Janeta sedang menyembunyikan sesuatu dariku?
Luis berkata dalam hati dengan mata mencoba menatap Janeta, mencari tanda-tanda apakah ada sesuatu yang mencurigakan dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Janeta barusan.
“Maaf pak Luis… saya harus segera pulang ke rumah….” Dengan sikap tetap hati-hati akhirnya Janeta mencoba untuk berpamitan dengan Luis agar bisa menyingkir dari hadapan orang yang sudah membuat bulu kuduknya berdiri dan punggungnya berkeringat dingin karena berada di depannya.
“Oke. Aku juga masih banyak urusan yang harus aku selesaikan.” Dengan sikap acuh tak acuh, Luis menjawab perkataan Janeta.
“kalau begitu, selamat sore Pak Luis, saya pergi dahulu.” Tanpa menunggu jawaban Luis, Janeta buru-buru menggerakkan tubuhnya ke samping, dan segera pergi meninggalkan Luis, yang beberapa waktu setelahnya terus menatap ke arah sosok Janeta yang terlihat buru-buru keluar dari toserba itu dengan pandangan mata tajam, tanpa berkedip.
__ADS_1