
"Besok di kampus, pasti akan menjadi hari yang menyenangkan untuk aku lewati." Dengan bergumam pelan, Tira melangkah menuju kamarnya.
Bagi Tira, yang sudah sadar sepenuhnya bahwa dia ternyata sudah jatuh cinta pada Ernest, menunggu apa yang akan dilakukan Ernest besok untuk mulai berpura-pura mengejarnya membuat hati Tira terus terasa dag dig dug dengan bibir yang terus menyungingkan senyum bahagianya.
Untuk beberapa saat lama pikiran Tira yang melayang-layang membuatnya sulit untuk tidur, tidak ada bedanya dengan Ernest yang ternyata sedari tadi hanya bisa berguling ke kanan dan ke kiri di atas tempat tidur dengan pikiran yang juga tidak tenang karena mulai besok, dia akan mulai untuk mencari cara menunjukkan pada semua orang bahwa dia sedang mengejar-ngejar Tira.
Waktu terus berjalan dengan dua orang yang pikirannya sama-sama tidak bisa tenang untuk menghadapi hari esok, sampai akhirnya mereka sama-sama mengantuk dan akhirnya tertidur lelap, dan tanpa sadar andari saja tidak ada dinding pemisah apartemen mereka, sebenarnya saat ini mereka berdua, saling tertidur dengan posisi saling berhadapan, terpisahkan oleh tembok kamar mereka yang kebetulan tepat bersebelahan, dengan posisi tempat tidur, sama-sama menempel di dinding pembatas kedua kamar tidur mereka.
# # # # # # #
"Tira... tunggu aku." Sebuah suara panggilan yang menyebutkan namanya membuat Tira menghentikan langkahny menuju kelas mata kuliah yang diajarkan oleh Luis.
"Kenapa kamu sampai berlari-lari seperti itu Angel?" Tira yang melihat bagaimana Angel sibuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlarian ke arah Tira sambil sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kedua lututnya, bertanya sambil mengernyitkan dahinya.
Selama ini Angel yang dikenal sombong, dan sangat pemilih saat menjalin hubungan pertemanan, bagi Tira terasa aneh gadis cantik itu terlihat berlarian hanya untuk menyapanya, apalagi mereka tidak mengikuti kelas yang sama pagi ini dan hubungan mereka sebenarnya tidak pernah dekat, ditambahkan lagi karena Angel adalah senior bagi Tira.
__ADS_1
"Hah... masih ada waktu kan untuk kita bicara sebentar?" Angel bertanya setelah berhasil mengatur nafasnya yang mulai teratur kembali.
"Apa ada hal penting yang perlu kita bicarakan?" Pertanyaan Tira membuat Angel tersenyum sambil menepuk bahu Tira dengan cukup keras.
"Tentu saja ada. Siang ini... kita makan siang bersama di cafe kampus, dan kamu ajak Ernest makan siang bersamamu, agar aku juga bisa berbincang-bincang dengannya." Meskipun Tira sejak awal tahu kalau Angel tertarik pada Ernest, kata-kata Angel barusan emmbuat Tira merasa tidak nyaman.
"Tidak, siang ini aku sudah berjanji makan siang dengan Janetta dan Anna di luar kampus." Dengan halus, Tira mencoba menolak permintaan dari Angel.
Bagi Tira, bagaimana mungkin dia membantu Angel untuk mendekati Ernest, laki-laki yang juga dia sukai. Apalagi sesuai dengan rencana mereka kemarin malam, hari ini Ernest akan mulai melakukan aksinya untuk menunjukkan kalau dia tertarik pada Tira.
"Maaf Angel, aku sudah terlanjur ada janji dengan yang lain. Tidak mungkin secara mendadak aku batalkan seperti ini. Bisa-bisa mereka dianggap tidak penting." Tira tetap berusaha untuk menolak permintaan Angel.
Hanya dengan membayangkan bagaimana centilnya Angel saat nanti bertemu dengan Ernest untuk makan siang, sudah membuat dada Tira berdesir, mana rela dia membiarkan Angel berduaan menikmati makan siangnya dengan Ernest, sedangkan dia sendiri akan makan siang dengan teman-temannya yang lain.
"Bagaimana kalau kamu hanya perlu membuatku makan siang bersama Ernest, setelah itu tinggalkan kami berdua, dan kamu bisa menyusul yang lain, makan siang bersama mereka sesuai dengan rencana awalmu." Ide Angel bagi Tira cukup masuk akal, hanya saja, siapa yang rela memberikan kesempatan gadis lain untuk makan siang bersama dengan laki-laki yang disukainya.
__ADS_1
“Maaf Angel, aku tidak bisa membantumu kali ini.” Dengan suara pelan, Tira berkata kepada Angel.
“Eh, maaf Agel, aku harus pergi ke kelas pak Luis sekarang, atau aku akan terlambat dan diusir oleh pak Luis dan mendaptkan nilai E….” Tira berkata sambil bergegas untuk menuju kelasnya pagi ini.
“Tunggu Tira….” Suara panggilan dari Angel tidak lagi diperdulikan oleh Tira yang sebenarnya tahu masih ada waktu sebentar lagi jika dia mau berbincang dengan Angel, tapi dia memilih untuk melarikan diri dari hadapan Angel.
“Dasar Tira… sok jadi orang penting! Lihat saja! Dengan kemampuanku sendiri, aku akan menaklukan hati Ernest. Aku tidak perlu meminta bantuan dari gadis sombong seperti Tira!” Angel mengakhiri kata-katanya dengan sebuah geraman yang menunjukkan kejengkelannya akibat penolakan Tira untuk membantunya mendekati Ernest.
# # # # # # # #
“Aku sudah meenunggumu Tira, aku sudah mencarikan tempat duduk untukmu.” Anna yang melihat Tira berjalan ke arahnya, langsung melambaikan tangannya, untuk ikut duduk di sampingnya.
“Terimakasih Anna.” Sebuah senyum lebar langsung tersungging di wajah Tira yang mengikuti permintaan Anna untuk duduk di kursi yang di sediakannya.
Baru saja Tira duduk di samping Anna tidak lebih dari 5 detik, dengan tiba-tiba, Ernest berjalan ke arah Tira sambil meniup saxsofon miliknya, dan berakhir dengan berdiri tepat di samping Tira duduk yang langsung mendongakkan keepalanya dengan wajah kaget sekaligus tidak percaya melihat Ernest yang dengan terang-terangan membawakan sebuah lagu cinta untuknya, teredengar mengalun lembut dari saxsofon yang ditiupnya dengan wajah yang begitu menghayati lagu yang dibawakannya itu.
__ADS_1
Hari ini memang mata kulian Luis adalah tentang musik klasik sehingga beberapa mahasiswa membawa alat musik mereka pribadi, tapi siapa menyangka sebelum Luis datang, Ernest memainkan sebuah lagu romantis untuk Tira, membuat semua orang langsung berpikir bahwa Ernest menyukai Tira dan sedang menyatakan cintanya.