
“Jangan bilang kamu sebagai Xanderson ke depannya juga akan bersikap seperti kedua saudaramu itu Afro.” Bryan yang berada di samping Afro berkata pelan sambil terkekeh kecil melihat Afro tidak menyangkal kata-kata Bryan, justru tersenyum dengan pandangan menerawang jauh, mengingat sosok kekasihnya yang sedang tidak ada bersama dengannya sekarang.
“Entah kutukan atau berkah, sepertinya itu sudah mandarah daging pada semua laki-laki keturunan Xanderson. Yang pasti, siapapun wanita yang akan mendampingi kami, dia akan menjadi wanita paling bahagia, karena kami para Xanderson akan mencintai dan melindungi mereka bahkan dengan nyawa kami…”
“Wah….”
“Cie…..”
“Suit… suit…”
Perkataan Afro yang ternyata diperhatikan yang lain langsung membuat mereka langsung bersorak dengan nada menggoda, bahkan James tampak langsung bersiul sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Afro karena sangat setuju denga napa yang dikatakan oleh Afro.
Kehangatan yang selalu terjadi saat mereka bertemu, meski kadang dibumbui dengan perdebatan atau omong kosong dan candaan, membuat mereka semua merasa bahagia bisa mendapatkan kesempatan untuk berkumpul seperti ini.
Tira yang melihat candaan maupun keakraban mereka mau tidak mau ikut tertawa geli dan itu justru membuatnya tiba-tiba saja merindukan sosok Ernest, apalagi ingatannya kembali kepada bagaimana hangatnya sentuhan bibir Ernest tadi di apartemennya.
Kalau begini terus, bagaimana aku bisa menenangkan diri dan siap untuk bertemu Ernest kembali? Sedangkan setiap kali teringat padanya, dadaku selalu saja tidak bisa dikendalikan dengan baik. Padahal saat aku siap, aku ingin segera membereskan urusanku dengan Ernest.
Tira melenguh dalam hati sambil memegang dadanya yang kembali berdetak dengan keras ketika dia teringat akan sosok Ernest.
__ADS_1
Aku sungguh merindukan Ernest, padahal kami baru saja berpisah, bahkan belum melewati malam ini. Kala dadaku selalu memberontak seperti ini, kira-kira kapan aku siap untuk bertemu Ernest lagi?
Tira kembali berkata dalam hati, sedikit melamun sampai tangan Elenora meraih pergelangan tangannya, dan mengajaknya untuk menikmati makan malam mereka.
# # # # # # #
“Kalau memang kamu harus tetap ke kampus hari ini, biarkan Erich mengantarmu karena Ernest tidak ada di sini sekarang.” Perkataan Alvero di tengah-tengah acara makan pagi mereka bersama dengan yang lain membuat Tira yang sudah hampir memasukkan sendok makanan ke mulutnya, menghentikan gerakan tangannya di udara, dan meletakkan kembali sendok yang masih berisi sup ke mangkuk di depannya.
Bagaimana bisa aku pergi diantara oleh Erich? Itu akan benar-benar buruk untukku jika aku diantar oleh Erich yang dinginnya sudah seperti gunung es. Apalagi wajahnya yang sungguh bak pinang dibelah dua dengan Ernest... terasa sedikit menggangguku.
Tira berkata dalam hati sambil menatap ke arah Alvero yang memang serius ingin memerintahkan Erich untuk mengantar Tira.
“Tidak perlu repot-repot seperti itu Kak.” Dengan buru-buru, Tira langsung mencegah Alvero melakukan panggilan teleponnya dengan Erich.
“Kenapa?” Alvero bertanya dengan singkat.
“Aku bisa menyetir sendiri….”
“Memang siapa yang meragukan kemampuanmu menyetir? Aku tidak akan mengijinkanmu pergi sendiri tanpa pengawalan, karena ada seseorang yang sedang mengincarmu. Kalau terjadi apa-apa denganmu, bagaimana aku harus bertanggung jawab pada papamu?” Perkataan Alvero membuat Elenora yang kebetulan mendengar perkataan Alvero langsung menoleh ke arah mereka berdua.
__ADS_1
Aduh… kira-kira apa yang bsia aku katakan untuk membuat kak Alvero tidak membuat Erich mengantarku?
Tira berkata dalam hati dan berusaha dengan cepat memikirkan cara untuk menghindari rencana Alvero.
“Kak, bukan begitu, Kakak tahu kalau Ernest sedang menyamar sebagai seorang mahasiswa, kalau ada orang yang melihat sosok Erich sebagai saudara kembar Ernest mengantarku ke kampus, aku yakin itu akan membuat heboh kampus, apalagi pagi ini Ernest ada jadwal kuliah juga. Dan itu tidak baik untuk penyamaran Ernest maupun aku di masa depan.” Ucapan Tira membuat Alvero sedikit mengernyitkan dahinya.
Alvero merasa heran dengan penolakan Tira karena info kemarin malam yang diberikan Erich tentang ada sesuatu yang mencurigakan antara Ernest dan Tira setelah Erich saling bertukar pesan dengan Ernest, yang baginya juga sedikit bersikap aneh tadi malam.
Namun setelah Alvero memikirkan apa yang dikatakan oleh Tira ada benarnya, akhirnya dia menghela nafas panjang.
“Kalau begitu, biarkan yang lain mengantarmu. Kalau kamu tidak merasa nyaman dengan pengawal dariku, kamu hubungi Steven atau Edi. Minta mereka menyusul kalian agar pengawalan selanjutnya bisa digantikan oleh mereka.” Akhirnya keputusan Alvero membuat Tira hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena baginya, itu jauh lebih baik daripada harus Erich yang mengantarnya pergi ke kampus.
“Apa ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi pada Tira? Kenapa dia memerlukan pengawalan seketat itu?” Elenora langsung berbisik pelan begitu Alvero dan Tira selesai berbincang tentang masalah pengawal untuk Tira.
Pertanyaan Elenora membuat Deanda menceritakan tentang apa yang sednag terjadi secara singkat kepada Elenora sambil berbisik, karena tidak ingin cerita itu membuat yang lainnya merasa khawatir dan mengganggu suasana ceria pagi ini di meja makan.
# # # # # # #
“Terimakasih” Sebelum keluar dari mobil yang sengaja hanya berhenti di depan pintu gerbang kampus, Tira mengucapkan terimakasihnya kepada Steven dan Edi.
__ADS_1
“Putri, apa tidak sebaiknya kami mengantar Putri sampai ke dalam kampus agar bisa bertemu dengan tuan Ernest? Kamu khawatir kalau tiba-tiba peneror itu bertindak sedang kami tidak ada di dekat Putri.” Edi berkata dengan tatapan mata serius ke arah Tira yang sedari tadi bersikeras agar mereka hanya mengantar sampai gerbang kampus agar tidak terlihat mencolok.