MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
KUNJUNGAN TIDAK TERDUGA


__ADS_3

“Kenapa denganmu Ernest? Ayolah… kalau kamu tetap diam, cucian piringnya tetap akan menumpuk.” Tira berkata sambil tersenyum begitu meilhat Ernest yang masih duduk di tempatnya dengan wajah bingung dan bibir melongo.


“Ah ya….” Ernest berkata sambil bangkit dari duduknya dengan sikap terlihat canggung.


“Biarkan aku yang menyabun, dan kamu membilasnya.” Tira berkata sambil menyalakan kran air yang ada di depannya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Tira, Ernest hanya bisa berlaku seperti robot yang bergerak dengan gerakan kaku, karena sampai saat ini dia masih merasa begitu canggung untuk melihat bagaimana Tira mencuci piring bersamanya.


Tanpa sepatah katapun, Ernest dengan gerakan yang tidak gesit seperti biasanya, justru terkesan sangat lambat, mencuci piring di hadapannya dengan wajah terlihat bingung.


Melihat itu Tira yang sedari tadi beberapa kali mencoba melirik ke arah Ernest tampak menyungingkan senyum gelinya.


“Eh…” Ernest langsung bersuara dengan gerakan tubuh mundur ke belakang karena tersentak kaget, karena tiba-tiba, Tira mengusapkan sebongkah busa sabun ke hidungnya, setelah dengan sengaja Tira menggosok-gosok tangannya yang memegang sabun sehingga banyak busa di tangannya untuk dia usapkan dengan sengaja ke hidung Ernest.


“Ha ha ha ha….” Tira langsung tertawa tegelak begitu melihat hidung Ernest yang di bagian ujungnya tampak ada busa sabun dan mata Ernest tampak sedang melirik ke arah hidungnya yang mancung, sehingga dia bisa melihat busa sabun yang ada di sana.


Mau tidak mau, Ernest langsung tersenyum melihat bagaimana isengnya Tira kepadanya.


“Ini….” Dengan masih tertawa, Tira menyodorkan kepada Ernest secarik tissue ke arah Ernest yang langsung meraihnya.


Akan tetapi bukannya menggunakan tissue itu untuk melap busa sabun di hidungnya, Ernest justru langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Tira, mengarahkan hidungnya ke arah hidung Tira.


Melihat gelagat Ernest yang terlihat mencoba untuk membuat hidungnya membagikan busa sabun itu ke hidung Tira, dengan cepat Tira berniat melangkah mundur untuk menghindar.


Sayangnya dengan gerakan cepat, tangan Ernest yang masih mengenakan sarung tangan karet untuk mencuci, bahkan masih basah, langsung melingkar ke pinggang Tira, dan menariknya mendekat ke arah Ernest, membuat Tira tidak bisa lagi melarikan diri dari Ernest.

__ADS_1


Dan dengan senagaja, Ernest benar-benar mendekatkan hidungnya yang penuh busa sabun ke hidung Tira, mengucap-usapkannya kesana, sehingga busa itu ikut mengotori hidung Tira yang hanya bisa pasrah sambil tertawa-tawa geli karena tindakan Ernest padanya.


Sedang Ernest sendiri bibirnya terus menyungingkan senyumnya melihat bagaimana Tira yang sedang tertawa geli saat ini, membuatnya terlihat semakin cantik bagi Ernest, dan bisa membuat Tira tertawa lepas di depannya seperti sekarang ini, membuat Ernest merasa sangat bahagia bisa membuat putri cantik itu tertawa sebebas itu padanya.


Setelah beberapa kali Ernest mengusap-usapkan busa itu ke hidung Tira, mau tidak mau pada akhirnya busa itu meletus dengan sendirinya, dan meninggalkan cairan yang membuat basah kedua wajah Ernest maupun Tira.


Busa yang sudah berubah menjadi air dan membasahi wajah mereka berdua, tiba-tiba membuat mereka saling berdiam diri, dengan posisi kedua hidung mancung mereka saling bersentuhan di bagian ujungnya.


“Tira….”


“Ernest….”


Mereka berdua langsung tersenyum lebar begitu menyadari kalau mereka baru saja saling menyebutkan nama pasangannya dengan bersamaan.


“Kamu duluan.”


“Kamu duluan.”


“Oke… ladies first….” Ernest buru-buru mendahului Tira untuk mengucapkan kata-katanya.


(Istilah “ladies first”, yang sering digunakan untuk membiarkan perempuan melakukan sesuatu terlebih dahulu. Tapi tahukah Anda bahwa sebenarnya istilah ladies first awalnya ada bukan dikarenakan para pria yang ingin memberikan kesempatan lebih dahulu kepada para wanita sebagai bentuk penghormatan mereka kepada para wanita.


Apabila menengok dari sejarah, kata ladies first berawal dari abad ke delapan Masehi di Italia. Kisah cinta antara pemuda kaya keturunan bangsawan dengan gadis miskin.


Seperti halnya cinta Romeo dan Juliet atau sebuah cerita asmara di sinetron. Perbedaan strata dan status menjadi halangan untuk menyatukan dua hati. Alhasil jalan untuk mengakhiri hidup secara bersama-sama menjadi pilihan. Namun, cerita ini sedikit berlainan. Setelah sang pemuda meloncat dari batu besar. Sang perempuan mengurungkan niatnya untuk bunuh diri, Ia malah mengkhianati ikrar cinta sehidup semati dan memilih untuk menikah dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Dari peristiwa ini, banyak pria yang akhirnya tidak mempercayai perempuan. Hilangnya kepercayaan kaum pria kepada perempuan inilah yang mengilhami Tentara Barat untuk selalu mengedepankan perempuan berjalan lebih dahulu. Jadi, apabila ada bom atau jebakan di depan, perempuan terlebih dahulu yang akan terkena.


Sumber lain mengatakan bahwa di masa Perang Dunia I, perempuan dipersilakan keluar terlebih dahulu dari ruangan agar dapat ditembak oleh musuh. Artinya perempuan tersebut yang melindungi para tentara. Hal ini sebagai cara balas dendam pria atas pengkhianatan perempuan.


Mengawali segala sesuatu dengan mempersilahkan perempuan terlebih dahulu layaknya ajang uji coba. Pria enggan mengalami peristiwa buruk. Dengan kata lain, lebih baik mengorbankan nyawa para perempuan dibandingkan nyawa sendiri (pria) yang terenggut. Perlakuan seperti ini merupakan wujud kebencian atas pengkhianatan kepercayaan.


Sementara di era saat ini, ungkapan ladies first lebih merujuk kepada mendahulukan segala hal yang baik untuk perempuan. Sikap mengalah yang dilakukan laki-laki ini, akan menunjukkan kehebatan. Bahkan ucapan ini diidentikkan dengan pria Inggris berpenampilan rapi dan berdasi.


Berbagai penjelasan terkait sejarah ladies first dulunya lebih mengarah kepada hal-hal berbau negatif. Artinya mendahulukan perempuan dari zaman dahulu bukanlah sebuah hal spesial. Namun berawal dari ketidakpercayaan dan berakhir kepada kebiasaan untuk mendahulukan.


Pada zaman serba modern dan tinggi mobilitas seperti sekarang, ungkapan ladies first diasosiasikan dengan kegiatan-kegiatan di tempat umum. Saat Anda naik kendaraan umum, pria akan mengalah memberikan tempat duduk kepada perempuan. Bila Anda sedang mengantri tetapi di belakang Anda ada seorang perempuan. Anda akan mempersilahkan perempuan tersebut untuk mengambil alih posisi Anda.


Di jaman modern ini, istilah ladies first banyak dilakukan untuk menunjukkan bagaimana pria yang ingin melindungi dan menghormati kaum perempuan).


“Ah….” Tira mende…ssahh pelan dengan bibir tetap tersenyum.


“Tidak ada yang perlu aku katakan terlebih dahulu… hanya saja… I love You Ernest.” Tira berkata sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Ernest yang sedang menundukkan kepalanya ke arah wajah Tira, dan memandangi wajah cantik itu tanpa berkedip.


“I love you too Tira….” Ernest berbisik pelan, dengan wajah yang semakin mendekat ke arah Tira, dan langsung mencapai bibir Tira dengan bibirnya, mencium Tira dengan perasaan yang penuh dengan cinta yang begitu menggebu-gebu terhadap Tira.


Sentuhan lembut bibir Ernest pada bibirnya, membuat Tira dengan cepat membalas ciuman yang terasa memabukkan baginya itu, sesuatu yang selalu saja ingin dia lakukan saat berada di dekat Ernest, membiarkan hati dan pikirannya melayang karena rasa bahagia.


Karena begitu saling menikmati keberadaan orang yang dicintainya, pada akhirnya, Tira dan Ernest tidak menyadari bagaimana ada orang yang membuka pintu apartemennya, dan langsung terbeliak kaget begitu melihat pemandangan, dimana Tira dan Ernest sedang saling berpelukan dan menikmati ciuman mereka.


“Tira!” Sebuah pekikan yang cukup keras langsung terdengan dari bibir seorang wanita yang tadinya memang sengaja ingin memberikan kejutan kepada Tira, sehingga dengan begitu hati-hati dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara masuk ke dalam apartemen Tira.

__ADS_1


Suara pekikan yang menyebutkan namanya itu, membuat Ernest dan Tira langsung menoleh kaget, dengan posisi masih berpelukan, meskipun tautan bibir mereka sudah terlepas.


“Ma… ma? Pa…pa?” Suara Tira yang menyebutkan kedua orangtuanya yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu, rasanya terhenti di tenggorakannya yang tiba-tiba terasa seperti tercekik begitu melihat siapa yang datang dan meneriakkan namanya itu.


__ADS_2