
Untuk Deanda, dilihat dan dinilai oleh banyak orang, hal itu bukanlah hal yang mudah mengingat dia sejak kecil hidup dalam lingkungan orang-orang biasa tanpa mengerti banyak tentang segala aturan hidup sebagai seorang bangsawan, apalagi bangsawan dengan status tertinggi, tepat di bawah raja sebagai suaminya.
Tapi mengingat bagaimana Cladia yang memiliki traumanya sendiri dan tidak bisa berdekatan dengan sosok pria, selain Jeremy dan Ornado, Deanda yakin keberadaan Ornado yang selalu menjadi pusat perhatian, pasti menyulitkan bagi Cladia.
Untung saja Cladia memiliki suami yang bukan hanya hebat, tapi begitu menyayangi dan melindunginya, sehingga dia selalu tahu bagaimana cara terbaik unuk membuat Cladia nyaman dan aman di tengah-tengah banyak orang. Ornado yang begitu cinta mati pada istrinya itu, akan melakukan apapun untuk Cladia agar Cladia selalu bahagia.
Deanda berkata dalam hati sambil tersenyum sendiri begitu mengingat bagaimana sikap Ornado yang begitu possesif dan melindungi Cladia.
Dan jika ingat Ornado, mau tidak mau Deanda jadi ingat tentang Alvero, suaminya sendiri yang sikapa posesifnya tidak kalah tinggi levelnya dibandingkan dengan Ornado.
“Maaf Tira, aku harus segera bersiap untuk pergi ke bandara sekarang. Pokoknya, kamu bersiap saja ya. Karena acara makan malamnya sedikit tersemi, kamu harus berdandan cantik ya. Perlihatkan kepada mereka pesona kecantikan putri Gracetian yang dikenal bisa melelehkan hati pria manapun yang mereka inginkan.” Deanda berkata sambil tertawa kecil sebelum menutup panggilan teleponnya.
“Pasti menyenangkan bisa bertemu dengan kak Laurel dan kak Cladia. Aku harus ikut ke mansion keluarga Shaw agar bisa bertemu dengan mereka.” Tira bergumam pelan sambil bangkit dari duduknya dengan wajah penuh dengan senyuman.
Pertemuan terakhir mereka di penthouse milik Alvero yang dilakukan secara diam-diam karena waktu itu penthouse itu menjadi tempat persembunyian sekaligus bulan madu untuk Evan dan Alaya memberikan kenangan tersendiri yang begitu berkesan bagi Tira, dan jika ada kesempatan lagi untuk bisa bertemu dengan orang-orang hebat itu, tentu saja Tira tidak ingin melewatkannya, apalagi sikap mereka begitu ramah dan sudah seperti teman lama padanya yang sebenarnya belum terlalu mereka kenal.
# # # # # #
__ADS_1
“Putri….” Dengan suara ketukan pelan, Ernest mengetuk pintu kamar Tira sambil memanggil nama Tira yang sejak menerima panggilan telepon dari Deanda tidak lagi keluar dari kamarnya.
Ernest sendiri mengetuk kamar Tira karena ingin mengatakan bahwa mereka sudah selesai berberes dan mereka sendiri akan membersihkan diri sebelum bersiap untuk menyambut kedatangan Alvero dan rombongan lain dari Gracetian, yang menurut perkiraan Ernest akan datang paling lambat 60 menit lagi.
“Kenapa Ernest? Apa ada sesuatu yang kalian butuhkan?” Tira menjawab panggilan Ernest tanpa berniat untuk membuka pintu kamarnya.
“Kami sudah selesai membereskan apartemen ini. Kami ijin untuk membersihkan diri dulu untuk bersiap menyambut kedatangan yang mulia Alvero dan permaisuri yang sebentar lagi akan datang.” Perkataan Ernest dari balik pintu yang masih tertutup rapat itu membuat Tira tertegun sejenak, sebelum akhirnya Tira mendekat ke arah pintu dan berniat membukakan pintu kamarnya untuk menemui Ernest.
Tangan Tira sudah terulur ke arah handle pintu untuk membukakakn pintu kamarnya bagi Ernest, sebelum akhirnya Tira menahan gerakan tangannya karena teringat sesuatu yang harus dia lakukan pada Ernest.
“Tapi Putri….” Perasaan Ernest yang tiba-tiba merasa ada sesuatu yang membuatnya tegang, dan berdebar-debar membuatnya ingin menolak permintaan Tira dan ingin bergabung dengan yang lain untuk bersiap.
“Aku hanya akan meminta bantuan sebentar padamu Ernest, karena seperti yang kamu tahu di apartemen ini tidak akan ada orang lain yang bisa aku minta bantuan kalau aku butuh bantuan. Setelah mereka pergi, kamu bisa kembali ke kamarku untuk membantuku.” Kata-kata Tira mau tidak mau membuat Ernest tidak bisa mengelak dan menmukan alasan untuk menolak permintaan Tira yang memang pada dasarnya adalah majikan yang harus dilayaninya dengan baik.
“Baik Putri, saya akan memberitahu mereka untuk kembali terlebih dahulu ke tempat mereka tanpa saya.” Ernest berkata sambil bergerak menjauh dari depan pintu Tira yang sedang tersenyum di balik pintu sambil berjalan ke arah cermin.
Malam ini, aku akan membuatmu menjawab pertanyaanku, dan aku harus tahu, apakah aku harus maju, atau justru aku harus mundur dengan perasaanku padamu Ernest.
__ADS_1
Tira berkata dalam hati sambil merapikan anak rambutnya yang terlihat berjuntai di keningnya dan menatap wajah cantiknya di depan kaca yang ada di depannya, mencoba menilai dirinya sendiri apakah mala mini dia sudah tampil cantik untuk pergi ke jamuan makan malam di mansion keluarga Shaw, sekaligus untuk tampil di depan Ernest.
# # # # # # #
Sebenarnya bantuan apa yang dibutuhkan putri Tira dariku? Semoga putri Tira baik-baik saja. Apa aku harus memanggil Anna untuk membantunya?
Ernest mulai bertanya-tanya dalam hati sambil berjalan kembali ke arah kamar Tira, setelah Steven dan Edi kembali ke apartemen yang mereka tinggali.
“Putri Tira….” Ernest kembali mengetuk pintu kamar Tira sambil memanggil namanya.
“Masuklah Ernest.” Dengan ragu, Ernest membuka pintu kamar Tira setelah mendengar perintah dari Tira.
Begitu pintu terbuka dan Ernest melihat Tira yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur dengan gaun pesta berwarna biru tua dan rambut tergelung rapi dan menunjukkan leher jenjangnya yang memiliki kulit putih mulus, mau tidak mau, tanpa sadar Ernest langsung menelan ludahnya dengan begitu susah payah.
Cantik… sangat cantik… putri… memang benar-benar cantik….
Ernest berkata dalam hati dengan dada yang bergetar hebat memandang sosok cantik Tira yang tampak sedang membungkukkan tubuhnya, berusaha untuk memasang sepatu high heelsnya yang berwarna senada dengan gaunnya, yang tampak begitu serasi dan indah karena permata yang menghiasi hamoir seluruh permukaan sepatu itu.
__ADS_1