
Aku tidak suka kalau Luis dengan mudahnya mendapatkan pemandangan tampilan cantikmu hari ini.
Akhirnya Ernest menuliskan pesan yang membuat Tira tidak bisa menahan tawanya dengan wajah sedikit memerah.
Maaf Ernest, tapi ini sudah terlanjur, aku tak mungkin meminta duke Evan untuk memutar balik mobil ini ke mansion hanya karena aku ingin berganti pakaian. Aku berjanji, lain kali akan meminta pertimbanganmu ketika memilih baju yang harus aku dikenakan. Jangan khawatir Ernest, seperti aku yang tidak bisa mengganti pakaian yang aku kenakan untuk saat ini, aku juga tidak akan bisa mengganti rasa cintaku padamu. Selamanya kamu akan menjadi satu-satunya yang aku cintai dimana aku ingin tampil cantik hanya di depanmu saja.
Kata-kata balasan dari Tira mau tidak mau membuat Ernest tersenyum dengan wajah terlihat begitu bahagia sekaligus sedikit memerah dengan hidung yang sedikit mengambang karena rasa bangga yang nenyeruak dihatinya karena kata-kata manis Tira untuknya.
Dan tanpa sadar hal tersebut diperhatikan oleh Erich yang sebenarnya sudah mengamati Ernest dalam diam.
“Pesan dari siapa? Kenapa kamu terlihat begitu bahagia?” Suara pertanyaan dari Erich yang diucapkannya secara tiba-tiba membuat tubuh Ernest sedikit tersentak kaget.
Gawat… apa Erich menyadari bahwa aku sedang berkirim pesan dengan Tira saat ini?
Ernest berkata dalam hati sambil berusaha menalan ludahnya sendiri secara diam-diam untuk dapat mengendalikan dirinya di depan Erich.
“Eh… bukan….bukan apa-apa Erich.... Maksudku bukan pesan seperti yang sedang kamu pikirkan.” Ernest segera mencoba berkelit sebisa mungkin.
“Memang aku sedang memikirkan apa?” Erich langsung bertanya balik, membuat Ernest justru semakin salah tingkah melihat sikap dingin Erich saat ini.
“Fokus saja terhadap tugas dari yang mulia Alvero untuk saat ini. Jangan dengan mudah kamu mengalihkan perhatianmu terhadap hal tidak penting lainnya.” Erich kembali berkata dengan nada dan sikap dinginnya pada Ernest, terlihat tidak lagi perduli dengan apa yang terjadi pada Ernest, padahal saat ini sebenarnya dalam hati Erich begitu mengkhawatirkan Ernest.
__ADS_1
“Iya, maaf sudah mengganggu fokusmu.” Akhirnya Ernest berkata sambil memasukkan handphonenya ke saku jasnya, tanpa sempat membalas pesan manis dari Tira barusan, demi agar Erich tidak semakin curiga padanya.
Tanpa menanggapi permintaan maaf dari Ernest, Erich tarus memandang lurus ke arah jalanan di depannya dengan sikap tetap dingin.
# # # # # # #
“Kenapa denganmu Tira? Sepertinya dari tadi kamu justru asyik sendiri duduk di belakang sendirian?” Pertanyaan dari Enzo membuat senyum di wajah Tira langsung hilang, digantikan dengan wajah tegang.
Tenang… tenang Tira….
Tira berusaha menenangkan dirinya sendiri dalam hati sebelum akhirnya dia berani mengangkat wajahnya dariblayar handphone dan menatap ke arah Enzo yang sedang menoleh ke bangku belakang, tempat Tira duduk di sana
“Eh, bukan apa-apa Kak Enzo, Cuma sebuah pesan dari teman kampus.” Tira mencoba menjawabnya dengan sikap sebiasa mungkin.
“O ya? Tapi menurut isntingku sebagai laki-laki yang sudah banyak melanglang buana di dunia percintaan, wajahmu saat ini menujukkan ciri-ciri gadis yang sedang jatuh cinta. Benarkan tebakanku?” Dengan sikap percaya dirinya, Enzo berkata kepada Tira yang hanya bisa menelan ludahnya pelan-pelan dan berusaha bersikap sebiasa mungkin yang dia bisa.
“Enzo… tidak baik menggoda seorang gadis seperti itu.” Evan yang tidak tega melihat bagaimana Enzo yang sudah bersiap untuk menggoda Tira habis-habisan, langsung menengahinya.
“Tapi Evan, apa kamu tidak lihat kalau wajah Tira hari ini sungguh terlihat berbeda dari sebelumnya? Bahkan dia terus tersenyum sepanjang bersama kita hari ini. Sikapnya dan wajahnya benar-benar menunjukkan ciri khas orang yang sedang jatuh cinta.” Enzo yang memang belum berencana menghentikan godaannya kepada Tira berkata sambil mengamati wajah Tira yang akhirnya memerah karena malu akibat kata-kata Enzo.
“Enzo, kita sudah hampir sampai, jangan menggoda Tira lagi.” Evan berkata sambil tersenyum tipis dan langsung menarik nafas lega begitu melihat Enzo sudah duduk dalam posisi normal, tidak lagi mencondongkan tubuhnya ke bangku belakang untuk menggoda Tira.
__ADS_1
“Kita sudah sampai…” Evan berkata sambil memutar setir mobil yang dia kendarai untuk memasuki kawasan sebuah restoran mewah yang ada di tengah kota, tempat dimana mereka mengadakan janji temu dengan Luis untuk mengucapkan terimakasih mereka mewakili pihak keluarga Tira atas ditangkapnya Robin sebagai peneror yang selama ini begitu mengganggu kehidupan Tira.
# # # # # #
Beberapa kali Luis tampak membetulkan posisi duduknya, terlihat begitu gelisah karena pertemuan hari ini dengan keluarga Tira.
Sikap Luis saat ini seperti orang yang sedang menghadapi ujian wawancara untuk dapat masuk ke sebuah perusahaan besar dan bergengsi.
Selain itu, sikap gugup dan gelisah Luis, seperti seorang pria yang sedang menunggu sosok gadis yang menjadi kencan butanya hari ini dengan rasa penasaran sekaligus dada yang berdetak cukup kencang karena tidak sabar ingin melihat seperti apa pasangan kencan butanya yang akan muncul hari ini.
Seperti sebuah magnet bagi Luis, begitu pintu restoran terbuka dan Tira melangkah masuk ke dalam restoran bersama dengan Enzo dan Evan, mata Luis langsung fokus ke arah sana.
Sosok cantik Tira yang mengenakan gaun sepanjang lutut berwarna lembut membuat mata Luis tidak berkedip sama sekali sejak sosok Tira masuk ke dalam area dalam restoran itu.
Bagi Luis, penampilan Tira hari ini terlihat begitu sempurna, meskipun keberadaan Enzo dan Evan, dua laki-laki tampan di samping kana kiri Tira yang sedang mengiringi Tira saat ini membuat sebuah tanda tanya besar dalam diri Luis.
Siapa kedua pria muda itu? Kenapa mereka yang datang bersama Tira?
Pada awalnya ketika Luis mendapat info keluarga Tira akan datang padanya untuk mengucapkan terimakasih atas tertangkapnya Robin karena jasanya, Luis berpikir bahwa yang akan datang bersama Tira menemuinya adalah laki-laki yang pantas sebagai sosok orangtuanya.
Tapi siapa sangka, yang datang bersama Tira saat ini justru dua laki-laki tampan yang pantasnya disebut sebagai kakak atau bahkan kekasih Tira.
__ADS_1