MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PEMBICARAAN DENGAN ROMEO


__ADS_3

Pandangan mata semua yang hadir di sana langsung tertuju pada pintu ruangan Romeo yang tiba-tiba terbuka dan tampak dua orang polisi sedang menggelandang Robin dengan wajahnya yang tertunduk dan kedua tangannya diborgol di depan tubuhnya.


"Mereka sudah keluar!" Sebuah teriakan dari salah seorang mahasiswa yang sedari tadi sedang menunggu apa yang terjadi selanjutnya membuat suasana menjadi riuh.


"Mohon menyingkir dan tidak menghalangi jalan untuk kami menjalankan tugas kami." Salah satu petugas kepolisian yang ada langsung meminta orang-orang yagn sedang berkerumun memberikan jalan pada mereka untuk bisa pergi meninggalkan kampus dengan membawa Robin bersama mereka.


"Ernest...." Suara desisan dari bibir Robin dan pandangan mata yang begitu tajam dan penuh amarah dari Robin saat melewati Ernest membuat Ernest hanya bisa terdiam dengan mata memandang ke arah Robin tanpa ekspresi.


“Ernest….” Melihat bagaimana cara Robin memandang kepada Ernest dengan wajah tegang dan tatapan mata penuh dengan dendam membuat mahasiswa yang tadi memberikan banyak penjelasan kepada Ernest menunjukkan simpatinya dengan menepuk bahu Ernest seolah ingin memberikan rasa tenang pada Ernest, karena dalam bayangannya, jika dia menjadi Ernest pasti perasaan dan hatinya akan kacau, dan juga dipenuhi dengan ketakutan.


Dan bukan hanya mahasiswa itu, beberapa orang yang berada di tempat itu ikut memandang Ernest dengan tatapan simpati melihat bagaimana cara Robin yang memandang Ernest seperti itu, padahal dalam hal ini Ernest tidak bersalah sama sekali.


“Terimakasih untuk dukungannya.” Ernest berkata sambil melebarkan senyumnya untuk membuat mahasiswa itu dan yang lainnya tahu bahwa dia baik-baik saja.


“Lebih baik kalian bubar sekarang, sudah tidak ada yang perlu dilihat.” Suara dari Romeo membuat mereka yang tadinya masih berkerumun perlahan-lahan, satu demi satu bubar dan pergi.

__ADS_1


Termasuk Lena dan juga Luis yang juga terliaht beranjak pergi meninggalkan ruangan Romeo.


“Ernest… ikut aku sebentar….” Suara Romeo yang memanggil dan mengajaknya membuat Ernest yang memang ingin berbicara dengan Romeo langsung berjalan mengikuti langkah-langkah Romeo masuk ke dalam ruangannya, dengan Edi yang juga ikut dengannya melangkah mengikuti Ernest.


Seolah mengerti tentang siapa Edi, Romeo membiarkan saja sosok Edi berjalan mengikuti dia dan Ernest, meskipun sebelumnya, Romeo hanya menyebutkan nama Ernest.


“Tolong tutup pintunya dengan rapat.” Romeo berkata sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di belakang meja kerjanya, sedang Ernest dan Edi berjalan mendekat ke arahnya setelah menutup pintu ruangan itu.


“Duduklah.” Romeo berkata sambil matanya menatap ke arah kursi yang ada di depannya, dipisahkan oleh meja kerjanya.


Bagi Romeo yang sudah tahu tentang adanya teror terhadap Tira sehingga membuat Ernest harus masuk ke dalam lingkungan kampus dan menyamar, dia merasa senang akhirnya peneror itu ditemukan, berhasil ditangkap dan diamankan.


Akan tetapi begitu mengingat bahwa sebenarnya Robin adalah salah satu mahasiswanya yang berbakat dan selalu bisa mendapatkan nilai bagus di hampir semua mata kuliah yang diambilnya cukup membuat Romeo bersedih dan sedikit kecewa karena kenyataan pahit itu.


Selama puluhan tahun dia mengajar di tempat itu, Romeo tidak pernah menghadapi kasus yang membuatnya pusing seperti ini.

__ADS_1


Banyak kejadian di lingkungan kampus yang kadang harus membuatnya turun tangan, tapi semuanya selalu bisa diselesaikan dengan baik, dan tidak perlu melibatkan polisi karena semua kejadian itu bukan kejadian yang berhubungan dengan tindakana kriminal.


Akan tetapi kasus Robin kali ini sudah membuat heboh dan Romeo tahu dampaknya akan besar dan sulit untuk ditangani karena sudah terlanjur diketahui oleh orang banyak.


“Sepertinya bukan Anda yang sudah menemukan bukti bahwa Robin adalah pelaku teror.” Melihat dari raut wajah Romeo, Ernest langsung mengungkapkan pemikirannya yang langsung disambut dengan sebuah helaan nafas panjang oleh Romeo.


“Apa menurutmu aku akan dengan mudahnya membiarkan banyak orang tahu tentang kasus yang akan membawa dampak buruk bagi kampus ini?” Romeo langsung bertanya kepada Ernest dengan wajah yang terlihat gamang.


“Luis…. Luis Anston yang sudah melakukakannya. Dia yang melapor dan memanggil para polisi untuk menangkap Robin tanpa melakukan konfirmasi apapun pada pihak kampus, dan juga aku yang menjadi perwakilan rektor yang tidak ada di tempat.” Romeo berkata dengan wajah kusut, dan tampak jelas bahwa dia begitu menyesalkan apa yang sudah dilakukan oleh Luis.


“Anak satu itu selalu saja sok menjadi pahlawan kesiangan. Dulu dia juga pernah melaporkan salah satu dosen baru di kampus ini yang ternyata untuk meraih gelar S3 nya telah melakukan plagiat di beberapa bagian dari tugas akhirnya. Memang dosen itu salah, tapi seharusnya hal seperti itu bisa dibicarakan terlebih dahulu, apalagi dosen itu termasuk dosen senior yang sudah banyak berjasa untuk kampus ini.” Romeo berkata dengan mata sedikit menerawang, karena dosen yang sedang dia bicarakan sebenarnya adalah saudara sepupunya.


“Aku tahu kalau keluarga anak itu adalah keluarga yang cukup berpengaruh dan keluarganya memiliki banyak koneksi dengan hampir semua kalangan sehingga dia bisa berbuat seenaknya seperti itu. Tapi sebagai dosen di kampus ini dia harusnya memikirkan efek dari tindakannya yang langsung memanggil polisi tanpa berpikir panjang dan tidak melakukan perundingan dengan pihak kampus.” Romeo berkata dengan nada terlihat kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Luis tentang Robin.


Pada akhirnya Ernest maupun Edi harus membiarkan telinga mereka dengan sabar mendengarkan omelan panjang dari Romeo tentang Luis.

__ADS_1


__ADS_2