
Sebuah tepukan panjang dan meriah langsung terdengar dari para mahasiswa yang lain begitu Ernest menyelesaikan permainan musiknya, disertai dengan wajah Tira yang memerah, bercampur antara kaget, malu, tapi juga bahagia, dan mata yang tidak berani menatap ke arah Ernest secara langsung, setelah apa yang dilakukan Ernest untuknya barusan.
Tepat beberapa detik sebelum Luis melangkah masuk ke dalam ruang kelas untuk mengajar, Ernest mengakhiri permainan saxsofonnya dengan mengambil posisi duduk tepat di samping Tira yang membuat seisi kelas menjadi riuh melihat bagaimana Ernest yang terlihat jelas-jelas seperti mengumumkan kepada semua orang yang ada di sana bahwa dia akan mengejar Tira mulai sekarang.
Janetta yang meskipun tangannya ikut bergerak bertepuk tangan seperti yang lainnya, tampak melongo karena tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Laki-laki keren dan tampan yang menjadi idola baru kampus yang sudah membuat banyak mahasiswi tergila-gila itu, ternyata tanpa ragu-ragu baru saja mengumumkan pada yang lain bahwa dia sudah jatuh cinta kepada Tira, sosok gadis cantik dan berbakat yang akan sulit untuk ditandingi oleh gadis lain.
Sosok Luis yang mulai memasuki pintu ruang tempatnya mengajar, membuat semua yang hadir langsung menghentikan keributan mereka, sehingga suasana kelas menjadi kembali sunyi, dengan tatapan mata Luis yang disertai dengan kernyitan di dahinya dengan wajah terlihat begitu serius seperti biasanya.
Jelas-jelas, meskipun hanya sayup-sayup, tadi Luis masih sempat mendengar seseorang memainkan saxsofonnya dari arah kelas tempatnya akan mengajar.
Dan sebagai guru jurusan musik dan menguasai berbagai jenis musik, dan juga alat musik, Luis tahu lagu apa yang tadi sempat didengar telinganya, membuat matanya berkeliling menatap ke setiap sudut kelas, untuk mencari tahu kemungkinan siapa yang tadi baru saja memainkan saxsofon itu.
Mata Luis langsung terhenti di bagian bangku dimana Tira duduk diapit oleh Anna dan juga Ernest.
Sebuah pemandangan yang sedikit asing bagi Luis, yang selama ini tahu salah satu murid berbakatnya yang cantik itu, boleh dibilang tidak pernah terlihat duduk bersebelahan dengan mahasiswa laki-laki.
Namun, sudah lebih dari sekali ini di kelasnya Luis melihat Tira duduk di samping teman laki-lakinya, dan orang itu masih saja orang yang sama, Ernest.
__ADS_1
Sekilas Luis juga melirik ke arah sebuah tas yang tergantung di bagian belakang samping sandaran kursi Ernest yang kebetulan duduknya berada di paling pinggir jajaran bangku, sehingga dia meletakkan tas berisi saxsofonnya di sana, dan bisa terlihat oleh orang yang berdiri di depan kelas.
Melihat tas saxsofon milik Ernest, Luis bisa menebak siapa yang tadi sempat didengarnya memainkan alat musik itu dengan begitu baik, karena diantara para murid yang diajarnya selama ini, tidak banyak yang menguasai alat musik sasofon, sehingga dengan cepat Luis langsung berpikir bahwa memang Ernest yang baru saja memainkan alat musik itu, entah untuk apa dan untuk siapa.
Yang pasti, itu sudah cukup untuk membuat Luis sedikit menarik nafas panjang, dan dengan wajah dinginnya, langsung membuka buku yang dibawanya, untuk mulai mengajar para muridnya.
"Kita mulai mata kuliah kita hari ini." Lusi berkata dengan suaranya yang terlihat sedikit ketus, membuat para mahasiswa tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya, bahkan sampai pelajaran berakhir, apalagi sepanjang memberikan pelajarannya, Luis terlihat tidak pernah tersenyum barang sedetikpun.
Meski dosen tampan yang diidolakan oleh banyak siswa walaupun cukup killer itu seringkali bersikap dingin, tapi saat mengajar, sesekali dia akan melemparkan senyumnya jika ada mahasiswa yang memberinya pertanyaan bagus tentang materinya.
Tapi hari ini, meskipun beberapa mahasiswa memberikan pertanyaan yang mendalam tentang materi yang dibawakannya, wajah Luis tetap terlihat dingin dan tidak bersahabat.
Ernest berkata dalam hati dengan sikap awas, karena untuk bisa segera menemukan siapa peneror itu, Ernest tidak ingin kehilangan petunjuk sedikitpun.
Kenapa dengan pak Luis hari ini? Apa dia tertarik pada putri Tira? Apa dia adalah peneror itu?
Ernest berkata dalam hati dengan mata menatap lurus ke arah Luis yang sudah bersiap meninggalkan ruang kelas tempatnya mengajar.
Ernest yang sejak awal kedatangan Luis terus melakukan pengamatan padanya, bisa melihat, meski tanpa senyum, beberapa kali Ernest bisa menangkap sudut mata Luis berusaha untuk mencuri pandang ke arah Tira dan memandangi gadis cantik itu diam-diam.
__ADS_1
Jika orang lain, mungkin tidak akan sadar bahwa konsentrasi Luis hari ini banyak tertuju pada Tira. Akan tetapi Ernest yang memang sudah terbiasa melakukan pengamatan dan analisa, bisa melihat hal sekecil itu dan mulai melakukan analisanya.
"Tira, setelah mata kuliah kedua kita selesai, apa kita jadi makan siang di kantin bersama dengan Janetta seperti rencana kita kemarin?" Anna bertanya sambil membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya.
Tidak mungkin aku meneruskan rencana untuk makan siang di kantin, dan membiarkan Angel mendapatkan kesempatan menghabiskan waktu makan siangnya bersama Ernest. Aku harus mencegah Angel bertemu dengan Ernest.
Tira berkata dalam hati sambil menahan nafasnya sebentar.
“Bagaimana kalau aku mentraktir kalian di café X yang ada di dekat jalan kea rah rumahmu.” Mata Anna membulat sempurna begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Tira.
Café X? tentu saja Anna dan Janetta tidak akan menolak penawaran menarik Tira itu. Café yang biasanya hanya dikunjungi oleh orang-orang kaya dan bahkan para artis terkenal, karena dikenal dengan suasana mewah sekaligus tenang, dengan menupmenu yang boleh dibilang enak dan bervariasi, yang menurut mereka lebih pantas untuk disebut restoran daripada hanya sebuah café.
“Oke…. Kalau begitu aku akan mengirimkan pesan pada Janetta agar dia juga segera bersiap….” Anna berkata sambil meraih handphonenya, dan tidak lagi memperhatikan Tira yang sedang melirik ke arah Ernest, mencoba menenangkan jantungnya, sebelum dia akhirnya memberanikan diri untuk memandang ke arah Ernest sepenuhnya.
“Ehem….” Tira mencoba menetralkan suaranya sebelum mengeluarkan kata-katanya pada Ernest dengan berdehem pelan.
“Ernest… makan siang ini, ikut dengan kami ya….” Ernest yang begitu Tira memandangnya langsung membalas tatapan mata gadis cantik itu, langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, karena pada dasarnya, kemanapun Tira pergi, dia sebagai pengawal pribadi Tira memang harus selalu berada di dekatnya.
Sikap manis Ernest, tanpa sadar membuat wajah Tira terasa panas dan kembali memerah, sehingga dengan cepat Tira mengalihkan pandangan matanya dari Ernest, meskipun sebenarnya hatinya sangat enggan untuk melakukan itu, karena sejujurnya, Tira mulai merasa candu kepada wajah tampan Ernest dengan senyum manis yang selalu menghias wajah tampannya itu.
__ADS_1