
“Lho, Tira, kenapa kamu buru-buru sekali perginya? Bahkan aku belum sempat mengobrol dengan Ernest.” Enzo yang ikut bergabung di sana langsung bertanya kepada Tira, karena sebenarnya, Enzo merupakan orang yang cukup dekat dengan Ernest dan sering saling bertukar pikiran.
Selama menjadi pengawal pribadi Alvero, Ernest maupun Erich tahu bahwa saudara laki-laki Alvero yang paling dekat dengannya adalah Enzo, sehingga baik Erich maupun Ernest sering bertemu dengan Enzo, dan mengenalnya dengan cukup baik.
“Tidak bisa Kak Enzo, akua da tugas kuliah yang harus aku selesaikan. Aku harus kembali ke apartemen sekarang juga.” Tira berkata setelah emnghentikan langkahnya mendekat ke arah Ernest.
“Kalau begitu, bagaimana kalau Erich saja yang mengantarmu, biar Ernest tetap berada di sini dulu. Toh sama saja kan siapa yang akan mengantarmu?” Kata-kata Enzo membuat Ernest maupun Tira merasa kaget, hanya saja, Ernest dengan cepat mengendalikan dirinya agar tetap tampak tenang.
Setelah beberapa hari ini tersiksa karena tidak bisa berkomunikasi dengan Tira yang terlihat sengaja menjauhinya, ide Enzo bagi Ernest adalah ide yang sangat buruk baginya, yang pastinya begitu ingin dia tentang.
Hanya saja, seorang Ernest, yang begitu taat pada aturan, tidak mungkin berani melawan perintah dari atasannya begitu saja.
__ADS_1
Tira yang tampak kaget langsung mengernyitkan dahinya begitu mendengar kata-kata Enzo.
Pergi dengan Erich ke apartemen? Yang ada kepalaku akan bertambah sakit karena melihat dikap dinginnya. Maaf Ernest, tapi saudara kembarmu itu, selalu saja membuat orang merasa aura dingin di sekitarnya, meskipun aku tahu, sebenarnya Erich adalah orang yang baik. Hanya saja, aku tidak merasa nyaman berada di dekat orang sedingin dia.
Tira berkata dalam hati sebelum menanggapi kata-kata Enzo.
“Maaf. Tidak bisa Kak Enzo, karena aku membutuhkan Ernest untuk menyelesaikan tugasku hari ini.” Meski senyum manis tersungging di wajah Tira, tapi dengan tegas dia langsung menolak keinginan Enzo untuk menahan Ernest di mansion dan menggantikan Ernest dengan Erich.
Apa yang dilakukan Tira hampir saja membuat Ernest tidak bisa menahan senyum bahagianya, tapi kesadaran bahwa saat ini bisa berbahaya jika dia melakukan hal seperti itu, Ernest langsung berusaha mengalihkan pikirannya tentang hal lain agar senyum tidak muncul di wajahnya.
“Kak Enzo, ada-ada saja Kakak ini. Sudah ya, aku harus kembali ke apartemen sekarang atau tugasku tidak selesai dan harus rela mendapatkan nilai E.” Tira berkata sambil menggerakkan tubuhnya dengan cepat ke arah Ernest, sengaja melakukan itu agar Enzo tidak semakin menggodanya.
__ADS_1
Sebuah godaan yang sudah berhasil membuatnya berkeringat dingin, dan dadanya berdegup dengan kencang, karena takut yang lain menyadari ada sesuatu yang aneh yang sedang terjadi padanya dan Ernest.
“Ernest, kita harus pergi sekarang juga. Ayo ikut denganku.” Tira berkata sambil melirik ke arah Ernest yang tampak menganggukkan kepala, lalu memberikan salam penghormatan kepada Alvero sebelum dia pergi mengikuti langkah-langkah Tira, namun sebentar kemudian, Tira tampak menghentikan gerakan tubuhnya, dan memandang ke arah James.
“Eh, untuk Kak James, jangan lupa ya janjimu. Setelah liburan kampus tiba, aku akan segera menagih janji itu.” Tira berkata dengan senyum bangga penuh kemenangan, sedang James langsung meringis begitu mendengar kata-kata Tira itu.
“Tenang saja, tidak ada ruginya bagiku membantumu untuk bertemu Sonya, dan kalau suatu ketika kamu menjadi pianis handal sepertinya, jangan lupa kalau aku memiliki peran dalam hal itu.” James membalas perkataan Tira dengan senyum lebar di wajahnya.
“Oke kalau begitu, aku pergi dulu ya semuanya… samoai bertemu nanti malam atau besok pagi.” Dengan sebuah lambaian tangannya, Tira berpamitan kepada semua yang sednag berkumpul di tempat itu.
“Hati-hati Tira, setelah selesai tugasmu, segeralah kembali kesini.” Deanda segera mengucapkan permintaannya kepada Tira yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Tira, sebelum gadis itu benar-benar mengajak Ernest untuk pergi, tanpa memberikan kesempatan pada Ernest untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar Alvero maupun Deanda.
__ADS_1
“Lihat, bahkan Ernest yang merupakan pengawal pribadimu, sampai tidak sempat mengatakan sepatah katapun padamu. Dia sudah seperti kerbau dicocok hidung mengikuti kepergian Tira.” Enzo berkata dengan senyum geli tersungging di wajahnya.
“Tidak masalah, toh aku memang sementara waktu ini meminjamkan Ernest pada Tira. Kalau sudah waktunya, dengan alasan apapun aku akan menarik kembali Ernest ke sisiku. Dan sepertinya, itu tidak akan memakan waktu yang lama, karena urusan peneror itu sudah berakhir.” Alvero berkata dengan sikap dinginnya, meskipun sambil mengatakan hal itu, ujung mata Alvero tetap menatap ke arah Tira dan Ernest yang pergi menjauh dari tempat mereka berkumpul.