
Beruntungnya, saat ini memang hanya ada mereka berdua di dekat meja makan berukuran panjang itu, sehingga pembicaraan mereka tidak bisa didengar oleh yang lain, hanya mereka berdua yang bisa saling mendengar.
"Sepanjang malam ini, aku akan berdoa dan menunggumu kembali padaku...." Tira membalas perkataan Ernest dengan suara pelan, sambil menggerakkan tubuhnya mendekati salah satu suguhan masakan yang ingin dia nikmati malam ini, begitu dia melihat Alvero yang tiba-tiba menatap ke arah mereka berdua.
Bukan hanya menatap sedetik dua detik sambil lalu, tapi mata Alvero sempat terhenti beberapa detik di tempat Ernest dan Tira berada, sehingga dengan cepat Tira berusaha untuk bersikap tenang dan sedikit menjauh dari Ernest dengan cara berpura-pura sedang mengambil menu makan malamnya hari ini.
Kalau bukan karena perbedaan status mereka, jika dilihat sekilas, mereka sangat cocok sebagai pasangan kekasih. Apalagi, mereka berdua, adalah orang-orang baik yang aku kenal dengan baik.
Alvero berkata dalam hati dengan sedikit menahan nafasnya.
Sebagai orang yang cukup mengenal Ernest dan dekat dengan pengawal pribadinya yang kadang hampir 24 jam bersamanya sebelum dia menikah dengan Deanda, Alvero bisa melihat bagaimana berbedanya tatapan mata Ernest saat menatap Tira jika dibandingkan dengan saat laki-laki tampan itu menatap gadis lain.
Pandangan mata lembut yang dipenuhi dengan tatapan kekaguman, bisa dilihat dengan begitu jelas oleh Alvero, apalagi dia juga seorang laki-laki yang sudah pernah merasakan bagaimana jatuh cinta, sehingga dia juga bisa menilai apa yang dirasakan oleh Ernest terhadap Tira.
"My Al, apa ada yang mengganggu pikiranmu? Kenapa melamun?" Suara lembut Deanda membuat Alvero yang awalnya terlihat melamun dengan tatapan mata kosong ke arah Tira dan Ernest langsung menoleh ke arah Deanda.
"Ah... tidak... tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan, aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Bukan masalah besar." Alvero berkata sambil menatap ke arah Deanda yang tersenyum.
“Bukan masalah apanya my Al? Padahal wajahmu terliaht serius sekali.” Deanda berkata dengan senyum masih tersungging di wajahnya ayunya.
__ADS_1
“Apa kamu sedang memikirkan rencana penyusupan Ernest dan Erich nanti malam? Apa yang kamu khawatirkan? Keselamatan Erich dan Ernest, atau informasi tentang Theo yang membuatmu khawatir?” Deanda bertanya dengan wajah penasarannya.
“Bukan kedua-duanya. Ernest dan Erich memiliki kemampuan hebat sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Untuk Theo… meskipun dia memiliki hubungan khusus dengan Eliana, tapi kondisi Eliana yang sudah tidak waras lagi, ditambah dengan bersatunya keluarga Carsten dan Adalvino karena pernikahan Alaaya dan Evan, sepuluh Eliana pun, tidak akan bisa menggoncang kerajaan Gracetian lagi.” Alvero berkata dengan nada santainya, membuat Deanda tersenyum kecil.
“Senang sekali mendengar kata-kata optimis dari bibirmu. Kalau begitu… apa yang sedang kamu pikirkan my Al?”
“Bukan hal yang besar, seperti kataku tadi, tapi jika suatu saat aku menganggap itu adalah hal yang besar, aku pasti akan memberitahumu. Kamut ahu, aku bukan peramal atau tukang gosip, jadi lebih baik aku membicarakan segala sesuatunya jika itu semua sudah pasti, bukan sekedar angan-angan atau perkiraanku saja.” Alvero berkata sambil meraih tangan Deanda, membawanya ke arahnyaa, lalu mencium punggung telapak tangan istrinya itu dengan begitu lembut dengan hidung mancung sekaligus bibinya.
Tindakan Alvero, sudah cukup bagi Deanda untuk tidak melanjutkan rasa penasarannya, karena seperti yang dikatakan Alvero, jika sudah waktunya, pasti dengan sendirinya, Alvero akan bercerita padanya.
Untuk saat ini, Deanda memilih untuk bisa menikmati waktu bersama Alvero, menikmati semua luapan rasa cinta dan perhatian penuh Alvero padanya.
“Selamat malam Tuan Ornado.” Erich yang sudah berada di depan Ornado, langsung memberikan salamnya dengan sikap hormat dan sopan, karena tadi begitu melihatnya, Ornado langsung memeberikan tanda pada Erich agar menjauh dari kerumunan dan berjalan ke suatu sudut yang cukup sepi, sehingga Erich belum memiliki kesempatan untuk mengucapkan salamnya pada Ornado.
“Selamat malam….” Ornado menghentikan kata-katanya sejenak, dan dengan mata birunya yang tajam, menatap Erich tanpa berkedip untuk beberapa saat.
Bagi orang lain yang tidak terlalu dekat dengan Erich maupun Ernest, atau jarang bertemu dengan mereka, memang akan sangat sulit untuk membedakan kedua sosok saudara kembar identik itu.
Akan tetapi dengan kemampuannya menganalisa dengan baik dan cermat apa yang terjadi di sekelilingnya, bagi Ornado itu bukanlah hal sulit, meskipun dia tetap memerlukan waktu beberapa detik untuk mengamati dan memastikan kalau tebakannya benar.
__ADS_1
“Erich….” Dengan sikap percaya diri setelah mengamati beberapa detik sosok Erich, Ornado meenyebutkan nama Ercih tanpa ada keraguan di sedikitpun di wajahnya.
“Ya Tuan, saya menghadap Tuan setelah mendengar dari nona Evelyn kalau Tuan Ornado memanggil saya.” Ercih menjawab panggilan Ornado dengan menjelaskan alasan kenapa dia ada di hadapan Ornado saat ini.
“Ah ya, aku memang meminta bantuan Evelyn untuk memberitahukan pada kalian, aku perlu sedikit berbicara kepada kalian sebelum kalian pergi menyelesaikan misi kalian malam ini.” Ornado membenarkan ucapan Erich.
“Kalau begitu… apa ada masalah atau sesuatu yang mengganggu pikiran Tuan Ornado? Mungkin saya bisa membantu Tuan untuk itu?” Pertanyaan Erich sebenarnya membuat Ornado ingin tersenyum geli, akan tetapi ditahannya begitu melihat wajah serius Erich yang terlihat tidak menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa Erich sedang bercanda.
Bagi Ornado yang selama ini dikenal begitu hebat dalam menyelesaikan berbagai macam masalah, mulai dari bisnis, keamanan, teknologi dan juga dalam hal bertarung secara fisik, apa yang ditanyakan oleh Erich, adalah hal yang sebenarnya tidak perlu dia tanyakan lagi, karena bagi seorang Ornado, rencana penyusupan yang akan dilakukan oleh Erich dan Ernest malam ini sebenarnya Ornado ingin membantu, tapi dia tidak mau Erich dan Ernest jadi merasa terbebani dan tidak bisa menunjukkan performa kerja mereka yang hebat.
“Tidak Erich, aku hanya ingin memberikan ini padamu….” Ornado berkata sambil menyerahkan sebuah jam tangan ke arah Erich yang langsung memandangnya dengan tatapan mata menyelidik.
Dari bentuknya, Erich tahu kalau itu bukan sekedar jam tangan biasa, dan itu membuat hati Erich mulai bertanya-tanya tentang itu.
“Terimalah…. Meskipun aku dan Alvero percaya pada kemampuan kalian berdua, tapi aku hanya ingin membantu dan mempermudah misi kalian malam ini.” Ornado berkata sambil semakin menyodorkan jam tangan di tangannya kepada Erich, yang akhirnya mau tidak mau menerima jam tangan itu, meskipun dia belum tahu apa fungsi dari jam tangan itu.
Bagi Erich, Ornado adalah orang yang selama ini cukup membuatnya kagum dengan setiap sepak terjangnya yang seringkali diceritakan oleh Alvero padanya, dan beberapa kali bahkan sempat dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri, sehingga tidak ada alasan bagi Erich untuk tidak menerima pemberian itu.
Apalagi, jelas-jelas sebelumnya Ornado menyebutkan nama Alvero, sehingga Erich semakin tidak memiliki alasan untuk menolak keinginan Ornado, yang Erich yakin, pasati memiliki satu rencana untuk membantunya menyelesaikan misinya malam ini bersama Ernest dengan memberikan jam tangan yang terlihat canggih, tapi Erich yakin, kegunaan jam itu bukan sekedar sebagai penunjuk waktu biasa.
__ADS_1