
Selanjutnya dengan sikap hormat, Ernest langsung menyodorkan minuman yang dipegangnya ke arah Alvero yang dengan cepat meraih gelas itu dari tangan Ernest.
“Kak Alvero, maaf… aku benar-benar tidak tahu kalau minuman itu adalah pesanan khusus dari Kak Alvero.” Dengan nada suara yang menunjukkan penyesalannya, Tira berkata kepada Alvero.
“Siapapun bisa salah Tira, harusnya yang paling bersalah adalah pelayan yang sudah berani memberikan minuman pesananku kepada orang lain dan membuat kesalahpahaman seperti ini.” Alvero berkata sambil melirik ke arah pelayan yang membawa minuman itu, yang saat ini, tangannya yang sedang memegang nampan terlihat begitu bergetar, sampai gelas-gelas yang ada di atasnya hampir saling berbenturan karena goncangan nampan yang ada di tangan pelayan itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya putri Desya tadi mengatakan padaku untuk menyiapkan minuman itu untuk putri Tira? Kenapa sekarang yang mulia… putra mahkota Alvero mengakui kalau itu adalah minuman yang dipesannya?
Dengan wajah diliputi oleh ketakutan, pelayan itu bertanya-tanya dalam hati, sambil menunduk dalam-dalam, tidak berani melirik apalagi berusaha melihat ke arah Alvero yang terdengar marah.
Dan bukan hanya pelayan itu, tapi Desya, terutama Diana yang saat ini sedang berada di dekat Tira, di keningnya mulai tampak keringat dingin yang muncul di sana, dengan kedua tangannya yang terasa begitu dingin, berusaha saling menggenggam untuk mengurangi rasa takut dalam hatinya.
Kalau tahu akan berakhir buruk seperti ini, dan melibatkan putra mahkota Alvero yang menakutkan, seharusnya aku tidak perlu memenuhi permintaan Desya yang justru menjerumuskan aku seperti ini. Benar-benar sial, bisa-bisanya aku mempercayai semua yang dikatakan oleh Desya padaku. Jika orangtuaku mendengar tentang ini, mereka pasti akan memarahiku habis-habisan.
Dengan hati penuh penyesalan, Diana berkata dalam hati sambil melirik ke arah Alvero yang wajahnya tampak tanpa senyum sedikitpun, apalagi aura wajah ramah, tidak terliahat sama sekali….
“Mungkin pelayan itu, berpikir kalau selera minuman kita sama Tira.” Alvero mengakhiri kata-katanya dengan menyeruput minuman dalam gelas yang dipegangnya itu.
Tindakan Alvero sukses membuat dada Desya, Diana dan pelayan itu semakin berdegup kencang dan semakin ketakutan.
“Mmmm. Racikan dari minuman ini cukup enak ternyata. Hanya saja… aku merasa heran. Apa benar sekarang kamu menyukai minuman dengan kandungan alkohol seperti ini?” Dengan santainya Alvero berkata sambil mengangkat gelas dari minuman itu lurus dengan wajahnya, dan bertindak seperti seorang arkeolog yang sedang mengamati benda peninggalan sejarah yang sangat berharga.
(Arkeolog adalah istilah yang disematkan kepada seorang ahli arkeologi. Profesi ini sangat cocok bagi kamu yang tertarik dengan pengetahuan tentang prasejarah atau peninggalan peradaban seperti bangunan, fosil, artefak, hingga dokumen-dokumen kuno.
__ADS_1
Profesi ini sering digambarkan dalam film-film hollywood sebagai seseorang yang gemar berpetualang atau mencari harta karun. Profesi arkeolog di dunia nyata lebih banyak berkecimpung pada kegiatan penelitian dan penelusuran peninggalan-peninggalan kuno yang pernah tercatat dalam dokumen sejarah.
Pekerjaan ini membutuhkan skill menulis yang mumpuni. Selain melakukan ekskavasi dan penelitian, ahli arkeologi juga dituntut untuk dapat menyebarkan informasi mengenai penemuan benda-benda peninggalan tersebut kepada masyarakat. Tulisan bisa berbentuk tulisan ilmiah seperti jurnal, karya ilmiah, atau tulisan populer yang dimuat di surat kabar, brosur, katalog, majalah popular maupun internet).
“Tapi Kak… Kak Alvero kan tahu kalau aku alergi pada alkohol? Aku tidak mungkin mau meminum sesuatu yang mengandung alkohol meskipun hanya sedikit? Karena itu sungguh berbahaya untukku.” Tira langsung bertanya sambil memandang gelas yang berisi minuman yang dikatakan oleh Alvero mengandung alkohol dengan tatapan nanar, karena hingga detik ini, akhirnya dari bicara dan sikap Alvero, Tira bisa mengerti kalau ada seseorang yang sedang merencanakan hal buruk padanya.
“Kalau begitu… sudah jelas kalau ada seseorang yang dengan sengaja ingin membuat Putri terluka dan dipermalukan.” Ernest berkata sambil menatap ke arah pelayan yang tidak berani mengangkat kepalanya sama sekali karena perbuatannya sebentar lagi pasti akan terbongkar dengan sendirinya tanpa bisa dia hindari.
“Apa Kakak yakin minuman itu benar-benar mangandung alkohol?” Tira yang tidak percaya kalau ada seseorang yang berniat mencelakainya, sedangkan dia selama ini tidak memiliki musuh, kembali bertanya kepada Alvero.
“Dari bau dan rasanya sudah tersamarkan oleh bahan lain dari minuman ini, sehingga sulit untuk mendeteksi alkohol di dalamnya jika hanya mengandalkan kemampuan panca indera kita. Akan tetapi, aku akan segera meminta orang penelitian milik istana agar memeriksa kandungan minuman itu.” Perintah tegas dari Alvero diiringi dengan beberapa orang yang dengan sigap langsung mengamankan barang bukti itu tersebut membuat Desya dan komplotannya tampak gelisah.
Tangan Alvero yang bergerak untuk memberikan tanda agar para pengawal yang ada datang mendekat kepadanya, membuat tubuh pelayan yang ada tepat di hadapan Ernest tampak gemetaran, sehingga nampan yang dipegangnya menjadi goyah lalu miring dan hampir terjatuh.
Untung saja dengan gerakan gesit, Ernest segera meraih nampan yang masih berisi beberapa gelas itu dan berhasil membuat baik nampan ataupun gelas itu selamat.
“Sambil menunggu hasilnya, aku minta orang-orang yang patut dicurigai, dan terlibat dalam kejadian ini, ditahan untuk sementara waktu.” Kata-kata Alvero sukses membuat Desya maupun Diana dan pelayan itu diam mematung dengan mata terbeliak kaget.
Kata-kata Alvero, membuat para pengawal dengan cepat menangkap pelayan itu, Diana dan juga Desya yang langsung memberontak dan segera melakukan protesnya dengan berteriak, sedang pelayan itu dan Diana diam seribu bahasa, karena memang terlihat begitu jelas dari kejadiab tadi bahwa Diana dan pelayan itu memang terlibat dalam kasus ini, membuat mereka tidak bisa berkelit dengan mudah.
"Kak, aku tidak tahu menahu tentang kejadian ini." Desya langsung menyatakan protesnya begitu dua orang pengawal mendekat dan mencekal tangannya.
"Kita buktikan saja kata-katamu dari hasil penyelidikab besok. Malam ini sebaiknya kamu merenungkan perbuatan burukmu pada Tira." Dengan suara bernada tegas, Alvero berkata tanpa menoleh sedikitpun ke arah Desya.
__ADS_1
“Kak… kamu tidak bisa melakukan hal seperti ini padaku!”
“Lepaskan!”
“Kak, aku tidak melakukan apapun pada Tira.”
“Aku tidak terlibat dengan masalah ini.”
“Diana dan pelayan itu yang bersekongkol untuk mencelakai Tira, bukan aku….”
“Kak!”
Desya berteriak histeris membuat para tamu lain yang langsung menoleh ke arahnya, dan justru menjadikannya sebagai sebuah tontonan di depan orang banyak, tapi semua orang yang ada disana, tidak ada satupun yang berani menentang, apalagi melawan perintah Alvero.
Erich ingat dengan baik malam itu Desya, Diana dan juga pelayan itu akhirnya tidur di balik jeruji besi.
Hanya saja, kesokan harinya, mereka semua dikeluarkan dari sana oleh Eliana, setelah Erliana berhasil membujuk Vincent dan Vincent meminta Alvero menghentikan niatnya untuk menuntut mereka bertiga, setelah mereka bertiga memberikan pernyataan resmi bahwa mereka tidak bermaksud buruk, hanya ingin bercanda untuk memeriahkan pesta perayaan ulang tahun Tira yang ketujuh belas, dan mengaku tidak tahu kalau efek alkohol pada Tira akan seburuk itu.
Jika mengingat tentang hal itu, sampai detik ini, Erich merasa begitu kesal melihat dengan pengaruh yang dimiliki, Eliana terus berbuat macam-macam tindakan kotor, licik, keji dan memanipulasi orang lain dengan sedemikian rupa.
# # # # # # #
Kadang dengan pesona kecantikan, keanggunan dan sifat lemah lembutnya, sepertinya justru seringkali membuat putri Tira berada dalam masalah seperti waktu itu. Kadang aku merasa kasihan sekali dengan putri Tira dengan semua hal tidak baik yang pernah dialaminya itu termasuk kasus teror kali ini. Bisa-bisanya dua orang sekaligus melakukan teror pada putri sebaik dan selembut putri Tira.
__ADS_1
Erich berkata dalam hati sambil menatap Ernest yang sudah mengganti pakaian yang dikenakannya tadi, dan sedang menikmati waktu istirahatnya dengan duduk berselonjor di atas tempat tidur, sambil menunggu berjalannya waktu untuk melakukan penyusupan di kediaman Theo malam ini.
Dan di sela-sela waktu istirahatnya, Ernest sudah berniat untuk saling mengirimkan pesan dengan Tira.