
Di satu sisi, Ernest merasa begitu bersalah karena tadi sudah berani-beraninya menyentuh wajah Tira saat gadis cantik itu dalam keadaan pingsan. Meskipun di dasar hatinya yang paling dalam, kenangan itu membuat rasa cintanya kepada Tira semakin besar, dan tidak terkendali.
“Tidak… tidak mungkin saya berani malakukan hal kurang ajar seperti itu Putri.” Dengan suara gugup, Ernest langsung memberikan penjelasan kepada Tira yang tersenyum mendengar jawaban Ernest, karena sebenarnya dia juga hanya bercanda dan ingin menggoda Ernest untuk membiarkan pikirannya tidak terfokus pada kejadian yang menimpanya tadi, yang terus terang membuat hati Tira tidak tenang dan merasa takut sendiri.
Bagi Tira, Ernest yang ramah, baik hati dan sangat sopan itu, tentu saja tidak mungkin bagi Tira untuk mencurigai Ernest berbuat sesuatu yang lancang seperti yang dikatakannya tadi.
Lagipula bagi Tira, jikapun sampai Ernest berani melakukan itu, pasti karena ada seseorang dengan posisi di atasnya yang sudah memberikan perintah seperti itu kepada Ernest, tidak mungkin karena ide pribadi dari Ernest, dan yang pasti, jika itu sampai terjadi, pikiran positif Tira terhadap Ernest tetap berpikir bahwa Ernest melakukan itu untuk kebaikannya, bukan karena memiliki niat jahat atau mesum kepadanya.
“Aku tahu Ernest, orang sebaik kamu, mana mungkin melakukan hal tidak sopan seperti itu. Aku akan selalu percaya padamu.” Ernest sedikit tertegun mendengar perkataan Tira padanya.
Terimakasih untuk kepercayaan putri, meskipun sebenarnya, aku tidaklah sebaik yang dipikirkan putri. Aku sudah berani bersikap kurang ajar dengan menyimpan rasa, jatuh cinta pada putri. Sungguh aku bersalah pada putri. Maaf kan atas kelancanganku, menyentuhmu tanpa ijin, dan bahkan berani untuk jatuh cinta padamu.
Ernest berkata dalam hati tanpa berani menatap ke arah Tira, dan berharap agar dia bisa segera kembali ke apartemennya sendiri, untuk melanjutkan penyelidikan.
“Terimakasih untuk kepercayaan Putri pada saya.” Ernest berkata dengan sura ragu dan mata yang masih tidak berani untuk menatap ke arah Tira.
__ADS_1
“Tapi Ernest….” Tira kembali berkata dengan pelan.
“Aku benar-benar penasaran. Pertanyaanku tadi benar-benar serius. Bagaimana bisa kamu dengan cepat tahu dengan apa yang terjadi padaku. Apa yang membautmu bisa segesit itu….” Perkataan Tira mau tidak mau membuat Ernest menatap ke arah Tira, dan mau tidak mau membuat Ernest harus menjelaskan apa adanya tentang yang dia alami tadi.
“Sebenarnya Putri, tadi saya tidak sengaja mendengar suara benda terjatuh dan pecah dari arah kamar Putri. Sepertinya sebelum terjatuh tubuh Putri tanpa sengaja menyenggol hiasan keramik yang ada di meja Putri sehingga jatuh dan pecah, yang akhirnya menimbulkan suara keras dan cukup ribut, sehingga saya langsung masuk ke apartemen Putri, untuk memeriksa apa yang sudah terjadi pada Putri.” Ernest menjelaskan apa yang terjadi tadi.
Mata Tira langsung menoleh ke arah meja di dekat tempat tidurnya, yang memang memiliki aksesoris meja yang terbuat dari keramik, dan Tira bisa melihat bahwa benda itu benar-benar sudah tidak ada di tempatnya, membuat Tira langsung bisa menebak kalau Ernest pasti sudah membersihkan dan membereskan kerusakan benada yang pastinya sudah pecah tersebut.
“Ooo, begitu ya ceritanya?” Tira kembali berkata dengan suara pelan, berusaha membayangkan bagaimana Ernest bisa mendengar suara-suara itu dari apartemennya, yang terpisah oleh dinding.
“Oo, begitukah?” Tira bertanya dengan wajah sedikit memerah, karena memikirkan apakah Ernest bisa mendengar suaranya saat mengigau, melakukan pembicaraan telepon dengan Anna yang seringkali menggosip tentang Ernest dan juga Steven dan Edi, atau sedang melakukan kegiatan seperti mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
“Ernest… apa itu artinya kamu bisa mendengar apapun suara dari arah kamarku?” Pertanyaan Tira membuat Ernest langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat dan begitu cepat.
Tentu saja tidak akan bisa seperti itu. Jika itu terjadi justru sepertinya akan sangat berbahaya untukku. Berbahaya untuk pikiran… terutama hatiku.
__ADS_1
Ernest berkata dalam hati setelah berusah menelan air ludahnya dengan susah payah, karena pertanyaan Tira barusan sudah membuat pikirannya melayang kemana-mana.
“Tenang saja Putri, tidak mungkin seperti itu. Kalau saya bisa mendengar semua suara dari kmamar Putri, bukankah itu artinya Putri juga akan bisa mendengar suara yang timbul dari kamar saya? Tapi bukannya Putri tidak pernah mendengar apapun suara-suara dari kamar saya secara langsung kan? Tembok diantara kamar kita cukup tebal untuk bisa meredam suara-suara itu. Itu tadi, saya mendengarnya karena suara yang timbul memang jauh lebih keras dari biasanya.” Ernest berusaha menjelaskan dengan panjang lebar kepada Tira yang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya berapa kali selama Ernest memberikan penjelasannya dengan sikap gelisah.
Satu sikap dari Ernest yang biasanya selalu tenang dan percaya diri, karena meskipun Ernest bukan orang yang sombong, tapi karena sejak kecil mendapatkan pelatihan yang cukup keras, sehingga membuatnya selalu bisa mengendalikan situasi yang terjadi di sekitarnya dengan baik, termasuk mengendalikan sikap dan hatinya.
Tapi bagi Ernest, mengendalikan diri di depan Tira, sepertinya menjadi hal yang sangat sulit baginya.
“Putri… apa ada yang Anda butuhkan sekarang? Jika tidak, mungkin Putri bisa beristirahat. Saya sudah memastikan semuanya aman di sini. Jika ada sesuatu, saya sudah menyiapkan bel yang terhubung langsung dengan kamar saya. Silahkan tekan bel itu jika Putri membutuhkan sesuatu.” Perkataan lembut Ernest, secara tidak langsung membuat Tira tahu kalau Ernest akan segera meninggalkannya sendiri lagi di apartemen itu, dan itu membuat rasa takut kembali menghantui hati Tira.
“Ernest… bisakah… untuk malam ini saja, kamu tinggal di apartemenku? Untuk menemaniku....” Pertanyaan Tira sontak membuat Ernest tersentak kaget, dengan dada yang berdebar keras.
Pertanyaan Tira diucapkannya dengan sikap dan suara yang terlihat begitu gugup, sehingga Ernest bisa melihat bagaimana putri cantik itu sedang memohon padanya dan Ernest tahu bahwa Tira melakukan itu karena dia sedang merasa tidak nyaman dan takut jika harus tinggal sendiri, sedangkan baru saja dia mengalami hal buruk di tempat itu.
Hanya saja bagi Ernest, tinggal dalam satu atap di apartemen Tira, dan hanya berdua… bagaimana bisa dia melalui mala mini dengan tenang jika sampai hal itu terjadi.
__ADS_1