
“Kasihan sekali putri Tira, dia pasti sangat ketakutan mendengar kebenaran tentang penerornya itu.” Erich bekata sambil berdesis pelan, membuat Ernest cukup kaget dengan respon Erich setelah mendengar apa yang dikatakannya.
Erich yang biasanya bersikap dingin terhadap orang lain, tiba-tiba mengucapkan kata-kata simpatinya pada Tira, membuat Ernest tersenyum kecil, meskipun Ernest tidak berani secara terang-terangan menunjukkannya di depan Erich.
Erich sendiri, sebenarnya bukannya tidak menyukai sosok Tira yang anggun dan lembut sebagai seorang putri yang bagi Erish memang layak untuk dijaga dan disayangi, tapi karena Erich sadar keberadaan Tira yang sudah membuat Ernest jatuh cinta pada gadis itu bisa membahayakan posisi Ernest, meembuat Erich sebisa mungkin membuat dirinya sendiri dan Ernest untuk tidak pernah terlibat dengan Tira.
Sejak dulu, Erich seringkali mendengar bagaimana banyak orang yang memuji kencantikan dan kelemah lembutan dari Tira, apalagi jika dibandingkan dengan Desya yang waktu itu masih memiliki status putri Gracetian.
Desya dikenal sombong dan semena-mena, sering bersikap kasar kepada para pelayan dan orang yang bekerka di istana, sungguh berbanding terbalik jika dibandingkan dengan sosok Tira yang lembut, baik hati dan juga ramah.
Bahkan tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Ernest, pernah sekali Erich menyelamatkan Tira ketika Desya sengaja ingin mempermalukannya di depan para teman-temannya di pesta perayaan ulang tahun yang ke tujuh belas untuk Tira.
Erich yang memang tidak terlalu suka berada di keramaian, waktu itu sengaja membiarkan Ernest yang terus berada di sisi Alvero, selama pesta berlangsung.
Sebuah pesta yang meriah sekaligus mewah, karena bagi kedua orang tua Tira, putri cantik itu merupakan anak semata wayang yang begitu mereka cintai, sehingga mereka sengaja melakukan pesta yang bisa membuat orang terkesan saat itu.
Erich yang lebih suka duduk menyendiri di salah satu sudut taman yang ada diluar tempat diadakannya acaara ulang tahun Tira, langsung menoleh begitu mendengar ada suara langkah-langkah kaki beberapa orang mendekat ke arahnya.
Awalnya Erich ingin langsung baangkit berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu karena merasa terganggu, tapi ketika salah satu orang yang datang menyebutkan nama Tira sambil tertawa dengan nada mencurigakan, membuat Erich justru langsung mengambil posisi merunduk, agar mereka tidak melihat sosoknya yang disamarkan oleh keberadaan pohon-pohon dan disempurnakan oleh lampu yang temaram, sehingga membuat sosok Erich semakin sulit untuk dikenali dan orang tidak akan menyangka kalau seseorang di sudut gelap itu.
__ADS_1
“Kita harus bisa mempermalukan Tira, supaya dia tidak merasa jadi putri terncantik di Gracetian.”
“Aku juga sudah muak mendengar bagaimana para pria yang berusaha mengejarnya, seolah hanya ada satu putri saja yang dimiliki oleh Gracetian.”
“Lalu bagaimana rencana kita malam ini?”
“Benar… bagaimana kita membuat Tira malu di depan banyak orang?”
Suara-suara para gadis yang sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Tira itu membuat Erich menahan nafasnya sesaat, apalagi ketika dia mendengar salah satu suara gadis itu adalah suara Desya, gadis yang baginya menyebalkan dan jahat seperti ibu kandungnya, Eliana.
Suara Desya membuat Erich memicingkan matanya, untuk meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa yang ada di kerumunan itu salah satunya adalah Desya.
Erich menggerutu dalam hati begitu dia merasa yakin salah satu dari gadis itu memang Desya.
“Kalian harus membantuku mala mini. Jika berhasil, tiket keliling Eropa akan aku berikan secara cuma-cuma kepada kalian.” Suara Desya terdengar mengatakan sebuah penawaran kepada teman-teman gadisnya.
“Tenang saja, selama ada kami, Tira tidak mungkin akan bisa mengalahkanmu Desya. Dia benar-benar cari mati kalau berani menentangmu.” Salah satu dari gadis itu berkata kepada Desya.
“Cih… mana berani dia bertindak macam-macam? Gadis lemah seperti Tira, pantasnya hanya menjadi sebuah pajangan di istana.” Desya langsung berdecih dengan sikap meremehkan.
__ADS_1
“Kalau begitu, apa rencana kita malam ini? Di sana ada banyak para laki-laki lajang dengan status bangsawan, jadi kita juga tidak boleh melakukan suatu hal buruk pada Tira, yang bisa membuat orang lain curiga pada kita.” Salah satu teman Desya berkata, karena di sana memang sedang berkumpul para pria muda dan single yang menjadi idola di Gracetian.
Putra mahkota Alvero, duke Evan, pangeran Enzo, pangeran Dion, dan ada beberapa lagai para pangeran dan bangsawan yang ada di dalam ruangan pesta itu.
“Tenang saja… aku sudah memikirkan cara agar apa yang kita lakukan tidak diketahui oleh orang lain. Tira itu… tidak pernah mau minum minuman yang mengandung alkohol, karena selain dia sangat mudah mabuk, dia sangat intoleran terhadap alkohol.” Desya berkata sambil menyeringai dengan tatapan mata liciknya.
(Konsumsi alkohol dapat menimbulkan beragam reaksi pada tubuh, termasuk efek alkohol pada fungsi otak. Selain membuat kepala terasa ringan dan berkunang-kunang, alkohol bisa memicu reaksi alergi pada sebagian orang.
Alergi alkohol sebenarnya adalah intoleransi alkohol. Karena gejalanya mirip alergi makanan, kondisi intoleransi ini sering disebut juga dengan alergi alkohol.
Intoleransi alkohol jarang terjadi, tetapi bisa menimbulkan reaksi serius. Kondisi ini bersifat genetik dan lebih banyak ditemukan pada orang-orang Asia. Intoleransi alkohol terjadi karena tubuh tidak memiliki enzim yang diperlukan untuk menguraikan racun dalam alkohol.
Jika tidak diobati, reaksi alergi dapat dengan menjadi lebih buruk. Reaksi alergi yang parah bahkan bisa berakibat fatal, seperti syok anafilaksis.
Intoleransi terhadap alkohol disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh yang menganggap alkohol sebagai zat yang berbahaya.
Sistem kekebalan tubuh merespons alkohol dengan melepas antibodi yang disebut imunoglobulin E. Akibatnya, timbul gejala seperti gatal, bengkak di wajah, mual, hingga sesak napas).
“Kita akan membuat pertunjukan menarik malam ini, dengan menjadikan Tira sebagai tontonan karena wajah buruknya setelah alergi alkohol menyerangnya.” Desya kembali berkata dengan senyum licik yang tersungging di bibirnya.
__ADS_1