
Sesuai dengan permintaan Ernest, Steven segera melakukannya, dan dia sengaja memperbesar tampilan rekaman itu sehingga dia bisa lebih teliti mengamati gerakan setiap orang-orang yang ada di dalam rekaman cctv tersebut.
Setelah lewat beberapa menit dan menentukan siapa saja orang yang butuh untuk lebih diperhatikan, tiba-tiba mata Ernest menatap sesuatu di rekaman itu yang membuat dahinya langsung berkernyit.
“Steven! Tolong kembalikan rekaman itu ke menit sebelas lebih 20 detik. Ada sesuatu yang harus aku pastikan di situ.” Ernest berkata dengan telunjuk tangannya menunjuk ke arah layar komputer, membuat Steven dengan cepat menggerakkan tangannya dan menggerakkan cursor ke arah menit yang diinginkan oleh Ernest tadi, lalu memutar kembali rekaman cctv itu.
“Berhenti Steven! Perbesar rekaman di detik itu Steven.” Ernest berkata sambil matanya menyipit dan kening berkerut sambil mengamati rekaman itu.
Tindakan Ernest tentu saja membuat Steven maupun Edi ikut mengamati apa yang sedang berusaha ditemukan oleh Ernest dari rekaman itu meskipun Ernest tidak mengatakan apapun tentang penemuannya.
“Eh?” Baik Steven maupun Edi langsung mengeluarkan sebuah kata pendek dari bibir mereka dan akhirnya saling berpandangan begitu mereka merasa menemukan satu perunjuk yang tadinya sempat terlewatkan oleh mereka.
__ADS_1
“Tuan Ernest….” Edi dan Steven yang awalnya saling berpandangan langsung menoleh ke arah Ernest yang wajahnya terlihat serius, namun juga terlihat jelas dia juga sudah menemukan sesuatu dari rekaman cctv itu.
“Steven, perbesar rekaman di bagian ini dan coba lebih fokus pada tas ransel milik Robin Stone.” Ernest kembali memberikan perintah dambil menunjuk ke arah tas ransel milik Robin yang sebagian resleting tas itu terlihat terbuka sehingga ada sesuatu yang terlihat di sana yang membuat Ernest langsung mengamatinya dengan tatapan mata tajam.
Dalam rekaman itu Robin tampak sedang asyik dan terlihat fokus dengan handphonenya, sedang di meja yang ada di depannya tampak berserakan buku-buku dan juga laptop yang tampak sedang menyala, yang jika dilihat sekilas seperti kondisi dimana Robin tampak seperti mahasiswa yang sedang serius mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, jika saja Ernest tidak melihat ada sebuah benda yang terlihat dari dalam tas ranselnya yang langsung menarik perhatian Ernest.
Dan apa yang sedang diperhatikan oleh Ernest itu ternyata juga ditangkap oleh mata Edi dan Steven sehingga mereka tadi tampak kaget dan saling berpandangan begitu mereka merasa sudah menemukan petunjuk yang sama dengan Ernest, seolah ingin meyakinkan satu dengan yang lain bahwa mata mereka tidak salah lihat tentang adanya benda yang mencurigakan tersebut.
“Tuan Ernest… apa Anda melihat itu juga? Itu… sepertinya sebuah topi….”
“Astaga… apa itu artinya kita sudah menemukan pelaku terornya? Apa orang itu adalah Robin Stone?” Edi berkata dengan wajah berbinar seperti orang yang baru saja memenangkan lotre dan mendapatkan uang banyak karena lotre itu.
__ADS_1
“Aku benar-benar tidak menyangka kalau pelakunya adalah Robin Stone. Padahal selama ini pemuda itu terlihat ramah dan tidak memiliki masalah dengan kepribadiannya yang mengarah kepoada ciri-ciri seorang psikopat.” Edi kembali berkata setelah dia yakin bahwa laki-laki dalam rekaman itu adalah Robin Stone.
Setelah beberapa waktu ini terus melakukan pengamatan, Edi jadi cukup emngenal nama-nama dan latar belakang orang-orang yang ada di sekitar Tira, termasuk Robin Stone, yang dari penampilannya sehari-hari tidak menunjukkan ada tanda-tanda yang mencurigakan dari sosok mahasiswa itu.
“Untuk sekarang ini kita tidak bisa mengatakan apapun tentang hal itu sebelum kita melakukan pengecekan dan juga interogasi padanya. Tapi yang pasti, kita sudah menemukan petunjuk penting hari yang, yang bisa membuat kita bisa semakin yakin bahwa dia adalah pelaku teror itu.” Ernest berkata sambil sedikit menghebuskan nafasnya, merasa sedikit lega bahwa dia bisa menemukan petunjuk yang lebih jelas tentang pelaku teror, meskipun dalam hati masih ada yang mengganjal di hati Ernest, sehingga dia belum bisa yakin sepenuhnya kalau Robin adalah pelaku teror tunggal, tanpa dibantu oleh orang lain.
“Steven, meskipun mungkin akan sulit bagimu, tolong perbesar layar handphone yang sedang dipegang oleh Robin dan coba untuk mengetahui apa yang terketik, di layar itu, semoga itu bisa memperkuat tuduhan kita bahwa dia adalah pelaku teror selama ini.” Ernest berkata dengan mata masih menatap dengan tajam ke arah layar laptop.
“Sepertinya kata Tuan Ernest, akan sulit untuk bisa mengetahui secara utuh apa yang sedang dituliskan oleh Robin di rekaman cctv itu Tuan Ernest. Karena perbesaran rekamannya harus ratusan kali, mungkin akan mengakibatkan tulisan di dalam layar handphonenya tidak terlihat karena akan mengalami pikselisasi begitu kita terlalu memperbesarnya.” Steven berkata dengan tangan yang bergerak cepat untuk melakukan permintaan Ernest.
(Istilah pixelated atau pikselisasi digunakan untuk menggambarkan gambar di mana masing-masing piksel terlihat dengan mata telanjang . Gambar berpiksel akan tampak buram dan kotak-kotak. Dalam bahasa umumnya diistilahkan dengan gambar pecah sehingga sulit untuk dilihat dengan jelas.
__ADS_1
Dalam grafik komputer dan fotografi digital, yang menyebabkan (sebuah gambar) pecah menjadi piksel, biasanya adalah tindakan memperbesar gambar secara berlebihan: Saat memperbesar foto, pertama-tama harus meningkatkan resolusi untuk menghindari pikselisasi).
“Saya akan ambil dulu gambar ini dan mengusahakan agar saya bisa mengubah penampakan gambar itu setelah diperbesar sehingga sedikit banyak kita bisa membaca apa pesan yang sudah dia tuliskan di sana.” Steven berkata dengan tangan yang bergerak cepat untuk mengerjakan apa yang dia katakan, dengan mata menatap lurus ke arah layar laptopnya.