
"Ah begitukah? Kalau begitu, ada kemungkinan dong kamu pernah jatuh cinta setelah usiamu beranjak 17 tahun..."
"Ya... aku jatuh cinta di usiaku yang ke 17 tahun." Tanpa ragu akhirnya Ernest menjawab pertanyaan Tira.
"Aku jatuh cinta pertama kali pada usiaku yang ke 17 tahun, dan kamu adalah cinta pertamaku.... Jangan menertawakan aku, meski terdengar aneh dan tidak normal, putri cantik yang masih anak-anak waktu itu, sudah berhasil membuatku jatuh cinta...." Kata-kata Ernest, membuat Tira terbeliak kaget, dengan salah satu tangannya berusaha menutupi mulutnya yang terbuka lebar karena tidak menyangka dengan apa yang baru saja dikatakan Ernest padanya.
"Ya... benar… aku sudah jatuh cinta padamu, saat pertemuan pertama kita di acara afternoon tea, dimana aku dan Erich secara resmi masuk ke istana dan diperkenalkan sebagai pengawal pribadi putra mahkota Alvero waktu itu. Pda saat itu bahkan tanpa sadar aku berpikir apakah aku bisa jatuh cinta pada gadis lain, setelah hatiku benar-benar terikat sedemikian erat padaamu...." Ernest mempertegas penjelasan yang dia berikan sebelumnya, membuat Tira sedikit menahan nafasnya dengan dada yang bergejolak hebat.
Meskipun merasa begitu kaget, tapi Tira bisa melihat ketulusan dan kesungguhan Ernest saat mengatakan semua itu, dan itu membuat dada Tida dipenuhi dengan rasa cinta yang semakin besar pada Ernest.
Tira sungguh tidak menyangka kalau Ernest ternyata sudah begitu lama memendam rasa cinta padanya sampai sedalam itu.
Mau tidak mau, Tira jadi teringat kembali setiap kenangan dimana dari dia masih anak-anak, dia remaja sampai sekarang dia sudah dewasa, Ernest yang kadang berpapasan dengannya di lorong istana, entah dia baru pulang sekolah atau dia pulang dari bepergian, selalu memberikan salam penghormatan dengan senyum manisnya, yang sebenarnya seringkali membuat Tira teringat akan senyum itu.
Boddohnya aku, karena baru menyadari kalau sejak lama, akupun sulit untuk melupakan senyum manis dan wajah tampan Ernest.
__ADS_1
Tira berkata dalam hati sambi menatap ke arah Ernest, lalu tersenyum dengan tatapan penuh cinta padanya.
“Terimakasih karena hingga saat ini, kamu tetap mencintaiku seperti itu.” Tira berkata lembut dan terpaksa menghentikan perkataannya begitu melihat pelayan sudah datang membawakan pesanan mereka.
# # # # # #
“Ernest, apa kamu tidak bisa ikut bersamaku untuk menemui pak Luis?” Pertanyaan Tira membuat Ernest yang baru saja membukakan pintu apartemen Tira setelah mereka kembali dari kencan mereka malam ini menoleh, dan menatap ke arah Tira.
“Kenapa? Kamu tahu itu tidak mungkin aku lakukan, karena pangeran Enzo sudah menjadi wakil dari keluargamu untuk mengucapkan terimakasihnya. Bahkan aku dengar, duke Evan juga berencana ikut menemanimu dan pangeran Enzo.” Evan berkata sambil menatap Tira, mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan Tira, kenapa tiba-tiba Tira ingin dia ikut dalam pertemuan dengan Luis besok.
“Jangan takut, duke Evan, apalagi pangeran Enzo tidak mungkin membiarkan pak Luis bertindak macam-macam padamu. Memangnya kenapa kamu takut dengan pak Luis?” Ernest akhirnya bertanya karena merasa penasaran dengan alasan Tira kenapa tidak nyaman dengan Luis.
“Tidak tahu, pokoknya aku sering merasa merinding kalau ada dia di dekatku, meskipun jujur saja, dia tidak segalak kepada yang lain kalau padaku.”
“Jelas saja, karena dia suka padamu.” Mata Tira langsung terbeliak mendengar tanggapan dari Ernest.
__ADS_1
“Jangan bercanda. Orang seperti pak Luis, yang memiliki begitu banyak penggemar, tidak mungkin suka padaku. Kamu mengatakan itu apdaku, apa kamu sedang cemburu Ernest? Kalau begitu… seperti kataku, temani aku saat bertemu dengannya.” Tira berkata sambil menatap ke arah Ernest.
“Cemburu pada pak Luis? Mungkin saja… karena gadisku ini, sungguh tidak sadar kalau memiliki begitu banyak penggemar yang seringkali membuat hatiku terbakar.” Ernest berkata sambil mengelus lembut puncak kepalan Tira yang terlihat meringis begitu mendengar kata-kata Ernest.
“Apa kamu yang selalu tersenyum bisa cemburu?”
“Eh… yang benar saja… tentu saja aku bisa cemburu, bahkan sering.” Ernest langsung menyahuti pertanyaan Tira.
“Sering?”
“Ya sering. Karena selain para pengeran di Gracetian yang sedang mengincarmu, ada pak Luis, Robin Stone yang meskipun dengan cara gilanya. Bram juga…”
“Eits Ernest! Tunggu dulu, pak Luis, bram, kenapa kamu jadi berpikir mereka tertarik padaku?”
“Aist… kamu terlalu polos, sampai-sampai tidak bisa melihat bagaimana cara mereka menatapmu, menunjukkan bagaimana hati mereka yang sudah jatuh ke dalam pesonamu.” Perkataan Ernest membuat Tira melongo.
__ADS_1