MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
SIKAP MENCURIGAKAN JANETA


__ADS_3

Sepanjang mata kuliah Luis hari ini, baik Ernest maupun Tira, terlihat tidak fokus dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Luis di depan sana.


Tira sibuk memikirkan cara untuk membuat Ernest mengakui perasaannya besok ketika Ernest menjemputnya ke mansion.


Sedangkan Ernest begitu sibuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Tira sehingga terlihat begitu menghindarinya.


Selain itu pikiran Ernest dipenuhi dengan rasa kesal yang tiba-tiba muncul setiap kali dari tempatnya berdiri sekarang tampak sekali Ernet bisa melihat kalau Luis seringkali mengarahkan pandangan matanya ke arah tempat Tira duduk, membuat tanpa sadar beberapa kali Ernest tanpa sadar mengepalkan tangannya tanpa bisa berbuat apapun untuk itu.


Aku harus mengajak putri bicara setelah kelas ini selesai. Paling tidak aku harus menyapanya dan menanyakan bagaimana kabarnya selama beberapa hari ini. Apakah dia baik-baik saja mendengar berita penangkapan Robin. Dan juga… bagaimanapun aku harus menyampaikan tempat yang sudah aku aturkan untuk pertemuan pangeran Enzo dan putri dengan pak Luis terkait ucapan terimakasih karena sudah membantu membongkar kejahatan Robin.


Ernest berkata dalam hati dengan perasaan bercampur aduk dan ada rasa tidak rela saat membayangkan wajah bahagia dan puas Luis nantinya bisa bertemu dengan perwakilan keluarga Tira dan mendapatkan ucapan terimakasih.


Bahkan Ernest membayangkan bagaimana Luis akan bersikap seperti pahlawan di depan Enzo dan Tira, yang jujur saja membuat Ernest betul-betul merasa tidak rela dan dadanya terasa sesak dan itu sungguh menyakitkan baginya.


Ah… bagaimana pikiranku jadi kacau seperti ini?


Ernest melenguh keras dalam hati begitu emnyadari dia yang biasanya selalu berpikiran positif saat ini justru banyak pikiran negatif tentang Luis yang melintas di pikirannya.

__ADS_1


Semua pikiran Ernest yang kacau dan rasa khawatir juga cemburu yang dirasakan oleh Ernest membuat sepanjang pelajaran yang dibawakan oleh Luis tidak ada satupun kata-kata dari Luis yang didengar, apalagi diingat oleh Ernest, sampai ucapan salam selamat siang dari Luis yang diucapkannya cukup keras untuk mengakhiri kuliah hari ini terdenga seperti sebuah suara yang begitu indah bagi Ernest yang dengan buru-buru langsung merapikan semua buku dan peraltan tulis di depannyaa.


“Tira, setelah kelas ini pak Romeo meminta kamu datang ke kantornya.” Ucapan Luis yang diucapkan menggunakan mic yang masih dipakainya, membuat Ernest menoleh dengan sikap kaget ke arah Luis dan beralih dengan cepat ke arah Tira yang sudah bisa dilihatnya dengan lebih jelas karena sebagian mahasiswa yang lain sudah berjalan meninggalkan tempat duduk mereka.


Wajah Tira tampak sedikit kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Luis, tapi dengan sikap hormat Tira segera menganggukkan kepalanya kea rah Luis yang tersenyum tipis ke arahnya sebelum berjalan pergi meninggalkan podium tempatnya mengajar.


“Ernest… tunggu sebentar….” Panggilan dari Janeta membuat mau tidak mau Ernest yang awalnya ingin segera menyusul Tira di tempatnya duduk langsung terhenti.


“Kenapa Janeta?” Dengan senyum ramah yang biasa menjadi milik Ernest, laki-laki tampan itu bertanya dengan mata melirik ke arah Tira dengan sikap tidak tenang karena terlihat Tira sudah berjalan meninggalkan bangkunya.


“Emmm itu… apa kamu tahu cerita lengkap bagaimana Robin bisa tertangkap karean dituduh sebagai peneror Tira? Ah… anu… kamu kan cukup dekat dengan Tira, aku sengaja tidak bertanya langsung denga Tira, takut kalau dia masih trauma dan merasa tidak nyaman jika aku bertanya padanya.” Janeta berkata dengan suara ragu, seolah dari wajahnya Ernest bisa melihat rasa bersalah di sana.


Ernest yang awalnya ingin mencari alasan agar bisa segera menjauh dari Janeta akhirnya memilih untuk tetap di sana menanggapi Janeta karena berharap ada informasi lain yang bisa dia dapatkan dari Janeta.


“Sebenarnya kamu bisa langsung menanyakan langsung pada Tira. Bukannya selama ini kamu juga cukup dekat dengannya?” Ernest berkata dan mencoba memancing apa yang ada di pikiran Janeta saat ini.


“Eh… sudah aku katakan, aku mersaa tidak enak pada Tira, takut jika pertanyaanku itu akan membuat Tira merasa tidak nyaman, bahkan mungkin merasa ketakutan….”

__ADS_1


“Kenapa kamu berpikir seperti itu tentang Tira?” Ernest sedikit memotong perkataan dari Janeta yang tampak semakin canggung.


“Karena aku baru tahu dari beberapa teman yang kemarin tahu tentang kejadian penangkapan Robin, ternyata selama ini Tira seringkali mendapatkan paket-paket berisi barang-barang mengerikan dan juga pesan-pesan berisi ancaman….” Janeta berkata saambil mengalihkan pandangan matanya dari Ernest, karena rasanya dia tidak akan sanggup melihat bagaimana Ernest menatapnya saat ini.


Selain Angel, Janeta memang seringkali melaporkan hal-hal tentang Tira kepada seseorang yang jujur saja bersedia membayarnya mahal, dan orang itu menggunakan nomer handphone yang tidak dia kenal, sehingga dia sendiri jujur saja tidak tahu siapa orang itu dan apa maksud dari orang itu menjadikannya penguntit dan mata-mata tentang Tira.


Setelah penangkapan Robin, Janeta berpikir bahwa orang yang selama ini sudah berani membayarnya mahal untuk sekecil apapun info yang dia berikan tentang Tira adalah Robin.


Bagi Janeta itu mungkin sekali, karena di kampus ini, selain dikenal sebagai mahasiswa yang berprestasi, Janeta juga tahu latar belakang keluarga Robin yang kaya raya.


Hanya saja Janeta tidak pernah terpikir bahwa laki-laki tampan dan juga menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya itu ternyata bisa melakukan teror mengerikan seperti itu pada Tira, membuat Janeta merasa menyesal sudah membantunya melakukan teror itu tanpa sadar.


“Yang penting semuanya sudah terungkap sekarang, dan yang pasti Tira dalam kondisi baik-baik saja. Jangan khawatir, Tira gadis yang kuat. Dia juga memiliki banyak orang yang perduli padanya. Kalau kamu mau, kamu bisa berbicara dengannya seperti biasanya sebagai seorang teman yang memberikan dukungan moral padanya.” Ernest berkata sambil menatap lurus ke arah Janeta.


“Ernest…. Sebenarnya…. Ah, tidak…. Mungkin di lain waktu aku baru bisaa mengatakannya padamu….” Dengan suara tergagap dan wajah bingung Janeta berkata kepada Ernest.


Kenapa sikap Janeta terlihat semakin mencurigakan? Apa yang sebenarnya sudah dia lakukan? Apa mungkin itu berkaitan dengan kasus teror kepada putri?

__ADS_1


Ernest berkata dalam hati dengan tatapan mata mengamati setiap gerak gerik Janeta yang baginya terlihat begitu mencurigakan saat ini.


__ADS_2