MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
BANTUAN ERNEST


__ADS_3

Dengan langkah ragu, tapi tanpa dia sendiri bisa menghentikan gerakan kakinya sendiri seolah terhipnotis akibat begitu terpesona dengan sosok Tira malam ini, Ernest melangkah mendekat ke arah Tira.


“Ah, kamu sudah datang Ernest? Apa Steven dan Edi sudah kembali ke apartemennya?” Tira yang mendengar langkah-langkah kaki Tira langsung menoleh dan bertanya kepada Erich, sambil menggerakkan tubuhnya yang tadinya sedikit membungkuk menjadi tegak, duduk di pinggiran tempat tidur.


“Apa Putri… akan ada acara spesial malam ini?” Ernest yang hanya tahu kalau malam akan ada rencana kedatangan Alvero dan yang lain dan tidak acara khusus merasa sedikit heran dengan penampilan cantik Tira malam ini.


Apa setelah bertemu dengan yang mulia malam ini putri akan pergi ke suatu tempat spesial? Apa mungkin… putri harus bertemu dengan bangsawan lain? Apa putri akan mengikuti acara perjodohan? Bukannya itu hal yang umum terjadi untuk para putri dan pangeran Gracetian saat dirasa usia mereka pantas untuk menjalin hubungan serius dengan lawan jenisnya? Para pria dan wanita yang pastinya sekelas dengan mereka.


Pikiran Ernest langsung berkelana kemana-mana dengan rasa khawatir karena penampilan Tira malam yang begitu mempesona, dan Ernest yakin, akan mampu membuat hati para pria, terutama pria lajang yang melihatnya, tergetar karena kecantikan dan sosok lembutnya yang selalu mempesona orang di sekitarnya.


“O, sebenarnya hanya acara makan malam di mansion keluarga Shaw, akan tetapi kak Deanda memberiku info bahwa acara makan malam hari ini cukup spesial karena keluarga besar Shaw ingin menyambut kedatangan kak Ornado yang bagi banyak orang adalah oranag penting.” Tira berkata sambil tersenyum manis ke arah Ernest yang secara diam-diam menarik nafas lega begitu mendengar penjelasan Tira.


Ternyata bukan acara perjodohan ya? Entah kenapa, meskipun suatu saat itu hal yang sangat mungkin terjadi pada putri, tapi untuk hari ini aku sangat merasa lega karena tahu putri berdandan bukan untuk bertemu laki-laki lain secara khusus.


Ernest berkata dalam hati sambil mengepalkan salah satu tangannya yang sengaja dia sembunyikana di balaik punggungnya agar Tira tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


“Apa… kira-kira yang bisa saya bantu untuk Putri?” Ernest berkata dengan berusaha untuk bersikap tenang, meskipun saat ini, debaran pada dadanya bukanlah hal yang mudah untuk dia kendalikan melihat bagaimana cantiknya Tira dalam bakutan gaun pesta itu, apalagi hatinya merasa bahagia begitu tahu kalau Tira berdandan bukan untuk dilihat laki-laki lain.


“Ah itu…. sebenarnya aku sedikit ragu untuk meminta bantuanmu, tapi mau bagaimana lagi….” Tira berkata sambil melirik ke arah sepatunya.


Meskipun tubuh Tira terbentuk dengan sempurna, tapi karena kebiasaan yang dilakukan oleh para putri saat mengenakan gaun pesta mengenakan korset, membuat dia hari ini juga mengenakan korset itu, akibatnya membuatnya kesulitan untuk membungkukkan tubuhnya untuk bisa mengenakan sepatu pestanya, yang kebetulan memiliki tali yang harus diikatkan di kakinya, sehingga tidak bisa dia lakukan sendiri.


“Katakan saja apa yang Putri butuhkan tanpa perlu merasa sungkan. Dengan senang hati, saya akan membantu Putri untuk melakukannya.” Ernest berkata sambil mendekat, dan mengambil posisi berdiri tepat di hadapan Tira yang karena duduk di tepian ranjang, harus mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap ke arah Tira..


Wajah Tira yang sedang mendongak, dengan posisi begitu dekat dalam pandangan matanya membuat Ernest haraus melenguh pendek melihat bagaimana gadis yang dicintainya itu berada begitu dekat dengannya, tapi terasa begitu jauh, tidak tergapai olehnya.


Meskipun perintah seperti itu adalah hal yang sangat wajar untuk diucapkan oleh Tira kepada seorang yang statusnya di bawahnya, tapi bagi Tira, Ernest adalah pria yang dikagumi dan dicintainya, sehingga sempat membuatnya ragu saat memberikan perintah itu kepada Ernest.


Bagi Tira, dia sungguh berharap, saat Ernest memasangkan sepatu itu di kakinya, bukan sebagai seorang laki-laki yang mendapatkan perintah dari atasannya, tapi sebagai laki-laki yang mencintainya juga.


Tira masih berkutat dengan pikirannya yang penuh keraguan sehingga tidak menyadari bagaimana begitu mendapatkan perintah dari Tira, Ernest langsung berlutut dengan salah satu kakinya di hadapan Tira, dan meraih sapatu itu tanpa ragu.

__ADS_1


Sentuhan tangan Ernest yang memegang tumit kakinya, dan salah satu tanganya yang lain memegang sepatu itu dan memasukkannya ke kali Tira membuat Tira sedikit tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya.


Cara Ernest yang begitu lembut menyentuh tumit kakinya dana memakaikan sepatu itu di kakinya, membuat Tira harus menggigit bibirnya sendiri sambil menatap ke arah Ernest dengan tatapan semakin terpesona dan berdebar-debar.


Kulit putri, bahkan di bagian telapak kakinya pun terasa begitu lembut… Aku baru tahu kalau kaki seorang gadis ternyata bisa seindah dan selembut ini.


Ernest bersyukur karena saat ini wajahnya sedang tertunduk sehingga adia tahu pasti bahwa Tira tidak akan bisa melihat bagaimana wajah tegangnya saat ini dengan pikiran yang terus terpesona saat menyentuh kulit telapak kaki Tira.


Ah… Ernest… benar-benar laki-laki yang begitu lembut…. Sepertinya… ini adalah saat yang tepat untuk bertanya padanya, karena kali ini, dia tidak mungkin bisa memiliki alasan untuk menghindar seperti tadi siang.


Tira yang terus memandang bagian atas kepala Ernest yang sedang menunduk itu berkata dalam hati.


Meskipun pada akhirnya jawaban Ernest bukan jawaban yang aku harapkan, aku harus siap. Paling tidak, aku tidak terus berada dalam kebimbangan seperti ini. Laki-laki sebaik Ernest, bagiku jatuh cinta padanya… aku tidak akan pernah menyesali hal itu.


Tira kembali berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang sebelum benar-benar kembali bertanya kepada Ernest tentang perihal tadi siang yang terputus di tengah jalan.

__ADS_1


__ADS_2