MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PESAN PENUH ANCAMAN


__ADS_3

"Ah, ternyata ketahuan juga olehmu ya Ernest? Sepertinya, di masa depan, aku akan sulit untuk menyembunyikan perasaan dan isi pikiranku darimu." Tira berkata sambil menghela nafasnya, seolah ada beban berat yang sedang dia rasakan.


Perkataan Tira membuat Ernest menahan senyumnya dengan mata menatap penuh selidik ke arah Tira.


Aku sungguh berharap ke depannya kamu juga bisa tahu bagaimana aku yang sudah begitu jatuh cinta padamu. Dan aku berharap, cintaku padamu, tidak bertepuk sebelah tangan.


Tira berkata dalam hati dan berusaha untuk tersenyum di depan Ernest.


"Apa yang sedang terjadi pada Anda Putri?" Pertanyaan Erenst kali ini membuat kening Tira sedikit berkerut, karena sikap dan nada bicara Ernest yang baginya terlalu sopan padanya, membuatnya terlihat menjaga jarak dengannya, dan itu membuat Tira merasa tidak nyaman.


Akan tetapi, untuk saat ini sepertinya Tira sedang malas untuk menegur Ernest, atau berdebat dengannya.


"Memang ada hal yang membuat perasaanku jadi tidak enak... meskipun tahu hal seperti ini pasti akan terjadi." Tira berkata sambil mulai melangkah meninggalkan tempat parkiran, diikuti oleh Ernest.


“Ini…. Lagi-lagi sebuah nomer tidak dikenal memberikan sebuah ancaman….” Tira yang sedang berjalan berdampingan dengan Ernest berkata sambil menyodorkan handphone miliknya ke arah Ernest.


Ernest yang mendengar apa yang baru diaktakan oleh Tira dengan cepat mengulurkan tangannya, dan meraih handphone itu, membuat tanpa sengaja ujung jari-jari mereka berdua saling bersentuhan.


Tira yang awalnya mukanya seperti sedang tertutup awan tebal, tiba-tiba sedikit tersentak, dan langsung menarik tangannya sambil memalingkan wajahnya, karena wajahnya terasa panas dan memerah, dengan dada yang berdebar-debar.


Seperti tersengat listrik... Sungguh, membuat bulu kudukku berdiri, dan jantungku hampir saja berhenti. Apa begini rasanya saat bersentuhan dengan orang yang kita cintai?

__ADS_1


Tira berkata dalam hati sambil menggenggam tangannya yang tadi bersentuhan dengan Ernest, yang meskipun juga ikut merasakan getaran itu, dia langsung berusaha untuk menguasai dirinya, dan memilih fokus pada apa yang tertulis di layar handphone Tira.


Tira, aku sungguh sangat kecewa padamu.


Sepertinya, kamu benar-benar tidak memperdulikan peringatanku. Kamu benar-benar sudah meremehkan perasaanku yang tulus mencintaimu dan rela melakukan apa saja untukmu. Bahkan kamu dengan beraninya, terlihat begitu mesra bersama dengan Ernest.


Aku tidak akan memaafkan Ernest yang berani menggodamu seperti itu.


Kita tunggu saja pertunjukan bagus berikutnya dengan tokoh utama Ernest yang tidak tahu diri itu.


Aku akan membuat Ernest menyesal sudah berani berusaha merebut milikku.


Kamu adalah milikku, selamanya hanya milikku, kamu harus ingat itu dengan baik Tira.


Semua pesan-pesan yang datang bertubi-tubi, membuat Ernest menahan nafasnya sebentar, lalu melirik ke arah Tira yang terus melangkah ke arah pintu apartemennya.


Bagi Tira yang sudah merasa terbiasa menerima ancaman melalu paket, surat maupun pesan di handphonenya, selama ini dia tidak terlalu ambil pusing tentang itu.


Akan tetapi melihat Ernest yang juga disebut dan diancam disana, membuat hati Tira tidak tenang, dan tubuh Tira sedikit bergidik ngeri karena isi dari ancaman itu terasa lebih mengerikan dari biasa yang dia dapat selama ini.


Meskipun Tira tahu kabar kehebatan Erich dan Ernest sebagai epngawal pribadi Alvero selama ini sering dia dengar dari beberapa pelayan maupun penjaga istana saat mereka mengobrol, akan tetapi, Tira yang tidak pernah melihat secara langsung bagaimana Ernest beraksi, tetap saja merasa khawatir.

__ADS_1


Apalagi, saat ini Tira tahu hatinya sudah jatuh cinta pada Ernest. Mana ada orang yang bisa tenang saat orang yang dicintainya berada dalam ancaman seperti itu.


Belum lagi, kemarin malam jelas-jelas pelaku teror bahkan berniat membiusnya, dan menyusup ke dalam apartemennya.


"Putri... apa Anda baik-baik saja?" Ernest berkata pelan sambil mengamati wajah Tira yang kembali melamun, karena kembali teringat akan pesan-pesan tanpa nama pengirim itu.


"Eh, ya Ernest... harusnya aku yang bertanya padamu. Apa kamu baik-baik saja dengan semua ancaman itu?" Tira balik bertanya kepada Ernest, sambil membuka pintu apartemennya.


"Jangan khawatir tentang saya Putri, karena saya suadh bersiap dengan kemungkinan terburuk. Justru saya sudah menunggu bagaimana peneror itu beraksi, agar kita bisa segera menangkapnya." Ernest berkata dengan sikap tenang, sambil tersenyum.


"Putri, jika diijinkan, bolehkan saya membalas pesan-pesan ini?" Pertanyaan Ernest membuat Tira yang sudah melangkah masuk ke dalam apartemen, langsung menoleh ke arah Ernest.


"Percuma Ernest, setiap kali psikopat itu mengirimkan pesan, entar pernyataan cinta atau ancaman, nomer yang dia gunakan akan langsung tidak aktif, dan tidak akan bisa dihubungi dengan cara apapun. Mungkin dia langsung membuang nomeritu." Tira menjawab dengan sikap pesimis.


"Saya hanya ingin mencoba, kalau Putri mengijinkan tentunya."


"Coba saja." Akhirnya Tira menjawab dengan singkat permintaan Ernest.


"Baik. Terimakasih Putri."


Kamu tidak berhak mengatur apapun tentang hubunganku dengan Ernest. Entah aku menerima pernyataan cintanya atau pernyataan cinta dari laki-laki lain, itu akan menjadi hakku sepenuhnya.

__ADS_1


Kamu juga bukan orang yang dengan berani menghadapiku, dan menyatakan perasaanmu di depanku. Tindakan pengecutmu selama ini, bagaimana mungkin bisa membuat aku membalas cintamu, yang bahkan tidak aku kenal sedikitpun.


Begitu selesai menuliskan pesannya, Ernest segera mengirimkan balik ke nomer tidak dikenal itu, meskipun dia tidak yakin pesan itu akan terkirim dan dibaca oleh yang bersangkutan, seperti kata Tira tadi.


__ADS_2