MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
BONEKA CHUCKY


__ADS_3

“Ah….” Sebuah pekikan kecil terdengar dari bibir Tira begitu dia melihat sebuah boneka yang menggambarkan sosok seorang laki-laki dengan wajah mengerikan, terlihat berpakaian compang camping dengan dengan bercak-bercak berwarna merah di sana-sini, juga terlihat matanya yang mengeluarkan cairan berwarna merah juga, dan di samping kirinya, di bagian tangannya tampah sebilah pisau mainan berlumuran darah di sana.


Boneka yang ada di dalam kotak itu merupakan boneka chucky yang memang tampilannya tampak menyeramkan, ditambah dengan mengenakan pakaian yang compang camping dan terkena bercak-bercak darah, membuat Tira sedikit bergidik ngeri.


(Film dengan sosok boneka chucky adalah sebuah film horror, dimana pemeran utamanya adalah Chucky itu sendiri. Chucky adalah sebuah boneka hidup dan meneror. Premis inilah yang diangkat dalam serial film Chucky. Dirilis pada tahun 1988, hingga saat ini ada delapan film Chucky yang dapat disaksikan.


Chucky adalah boneka hidup yang berniat jahat dan senang membunuh orang. Tampilannya menakutkan dengan rambut merah yang khas serta baju overall berbahan jeans. Dalam film horor ini, Chucky merupakan jelmaan dari arwah pembunuh bernama Charless Lee Ray, yang selalu haus darah dan ingin membunuh manusia).


Terus terang, bagi Tira, kado kali ini terlihat paling menyeramkan baginya diantara kado-kado yang sebelumnya, bahkan kado yang dia terima di awal-awal dulu justru seringkali berisi sesuatu yang terlihat manis dan cantik, tidak seperti yang ada di depan matanya saat ini.


Meskipun bercak-bercak dan cairan berwarna merah itu hanyalah air yang sengaja diberi warna merah, tapi Tira yakin bahwa itu dimaksudkan untuk melambangkan warna darah.


Di bagian samping kanan dari boneka itu terlihat secarik kertas berwarna putih yang terkena noda cairan berwarna merah juga.


Pekikan kecil dari Tira meembuat Ernest yang baru saja membuka kotak itu menghentikan gerakan tangannya dan memandang ke arah Tira dengan wajah terlihat ragu.


“Apa Anda baik-baik saja Putri? Apa lebih baik kita hentikan untuk saat ini?”


“Tidak Ernest…. Teruskan untuk membukanya. Meskipun aku tidak merasa nyaman, tapi aku juga harus tahu apa isi dari kado dan surat itu, sehingga ke depannya aku perlu berhati-hati dengan orang yang mungkin memiliki ciri-ciri yang berhubungan dengan itu.


Walaupun sebenarnya Ernest merasa tidak tega melihat bagaimana wajah Tira yang terlihat sedikit pucat karena melihat keberadaan isi dari kado tersebut, tapi Ernest tetap melanjutkan niatnya untuk membuka surat yang terselip di dalam kota itu.

__ADS_1


Bagaimana kabarmu beberapa hari ini tanpa sura-surat dan kado dariku? Teganya kamu berniat mengkhianatiku Tira? Bisa-bisanya kamu membiarkan para laki-laki mesum di kampus ini mendekatimu? Semakin hari rasanya semakin hatiku terkoyak.


Kamu sudah membuat hatiku benar-benar berdarah.


Apa kamu mau aku mati untuk membuktikan cintaku padamu?


Baik. Aku akan mati di depanmu. Tapi aku mau… semua laki-laki yang mendekatimu mati terlebih dahulu untuk emmbayar kesalah mereka.


Dan kamu… aku akan menjadikanmu pengantinku di keabadian sebelum aku menyusulmu.


Kita berdua, akan berbaring dalam tidur kita yang abadi sambil saling bergandengan tangan.


Tulisan yang tercetak rapi karena menggunakan komputer di atas kertas berukuran A6.


(Standar ukuran kertas perlu diketahui untuk berbagai keperluan, seperti saat akan print out dokumen maupun tulisan ilmiah yang sesuai. Kertas yang sering digunakan ada berbagai macam jenis, mulai dari seri A, B, C, F dan seri R.


Ukuran kertas seri A adalah salah satu jenis yang paling banyak digunakan. Baik di Indonesia maupun di berbagai negara di Dunia. Dalam standar internasional, kertas seri A dikategorikan sebagai ISO 216 : 2007. A6 adalah kertas dengan ukuran 10,5x14,8 cm).


“Hah….” Setelah membaca isi surat itu bersama Tira, suara desaa….hhan dari Ernest tidak lagi dapat dia sembunyikan, meskipun Ernest sudah berusaha untuk menahannya dengan baik.


“Ernest… ayo kita pulang sekarang….” Tira berkata dengan nada pelan, sambil mengalihkan pandangan matanya dari kotak hadiah itu.

__ADS_1


“Baik Putri….” Dengan cepat Ernest menutup kembali kotak itu setelah memasukkan juga surat yang tadi sempat dibacanya, dan dengan gerakan sedikit melempar, memindahkan kotak itu ke bagian kursi belakang.


“Jangan khawatir Putri, kami bertiga akan berusaha keras agar bisa segera menemukan siapa pelaku teror ini, sehingga Putri bisa hidup tenang ke depannya.” Ernest berkata sambil melikrik ke arah Tira yang langsung tersenyum.


“Tidak ada alasan untuk aku meragukan kalian. Kalin orang-orang pilihan dari kak Alvero, adalah orang-orang terbaik yang diberikan oleh kak Alvero untukku.” Tira menjawab perkataan Ernest sambil menghela nafasnya.


“Saya mohon waktu untuk mengurus hal ini dengan Steven dan Edi….” Ernest berkata dengan sikap sopan dan hormat sebelum dia melakukan panggilan telepon dengan Steven.


# # # # # #  #


“Lakukan semuanya dengan baik dan cepat sekarang Steven. Kalian berdua tidak banyak waktu. Setelah itu temui aku di apartemen secepatnya, untuk kita bisa memulai penyelidikan kita dari data dan info yang kita punya.” Ernest yang melakukan panggilan telepon dengan Steven, berkata dengan cepat.


Saat ini, Ernest tidak ingin membuang-buang waktu, karena dia juga ingin keselamatan Tira menjadi fokus utama dalam tugas kali ini.


“Baik Tuan Ernest, kami akan segera berbagi tugas. Edi akan emngambil mobil tuan putri dan saya sendiri akan mencari rekaman cctv yang ada di kampus untuk menyelidiki siapa sebenarnya yang sudah melempear kado itu kea rah mobil tuan putri.” Dengan suara tegas dan sikap tegas, Steven menjawab perintah dari Ernest yang menghubunginya sambil menyetir mobilnya, dengan beberapa kali melirik ke arah Tira, untuk meyakinkan kalau putri cantik itu baik-baik saja dan tidak terlihat stress karena kejadian barusan.


“Cek juga semua akses pintu masuk kampus beserta dengan semua pos penjagaan yang ada sepanjang sore ini, karena putri sempat mengatakan dulunya ada hadiah yang dititipkan di pos penjagaan kampus…. Untuk saat ini kita harus waspada dengan semua orang, termasuk semua petugas keamanan, dosen, ataupun para mahasiswa, bahkan para petugas kebersihan. Pokonya semua orang yang memiliki akses untuk berlalu lalang keluar masuk ke dalam kampus.” Ernest berkata dengan penuh penekanan kepada Steven, karena dia tidak mau ada satupun yang terlewatkan, sekecil apapun itu.


Kalau dilihat dari samping, tetap saja Ernest terlihat begitu tampan… Sepertinya Ernest sangat mengkhawatirkan aku. Kenapa dia bersikap seperti itu? Hanya karena tugas dari kak Alvero yang dia emban… atau… aku boleh berharap dia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku? Apa dia meenyukaiku sehingga dia begitu khawatir padaku?


Tira yang memandang Ernest dari samping, berkata dalam hati dan terus mengamatin Ernest, sepanjang pengawal tampan itu melakukan pembicataan dengan Steven di telepon.

__ADS_1


__ADS_2