
“Ehem….” Alvero langsung berdehem sambil menegakkan tubuhnya kembali, menjauhkan hidung dan bibirnya dari leher jenjang Deanda, juga menjauhkan tangannya yang hampir saja menelusup masuk ke balik kemeja yang dikenakan Deanda, mencari benda kenyal kesukaannya, yang selalu dirindukannya untuk disentuh.
“Kenapa dengan Tira? Apa ada masalah di sana?” Alvero berkata sambil menggandeng tangan Deanda, dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya, sementara berusaha meredam gejolak jiwa laki-lakinya untuk sementara waktu, sampai semua urusannya selesai dan bisa menikmati waktu berdua yang manis kembali bersama dengan Deanda tanpa ada yang mengganggu.
“Sebentar….” Deanda menyalakan kembali suara handphone milik Alvero yang dipegangnya.
“Tira… maaf ya, kamu pasti kaget kenapa tiba-tiba suaraku hilang. Ada sesuatu yang harus aku lakukan mendadak” Dengan wajah malu-malu, Deanda berakta kepada Tira yang untung saja tidak melihat bagaimana merahnya wajah Deanda saat ini, karena ternyata Alvero masih menyempatkan tangannya untuk mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit dan menciuminya beberapa kali dengan lembut.
“Ah ya, tidak apa-apa Kak, mungkin koneksi sedang buruk, atau Kakak tiba-tiba harus ke kamar mandi. Aku dengar kalau kehamilan semakin tua usianya akan semakin sering pergi ke kamar mandi.” Tira berkata dengan suara lembutnya yang selalu saja membuat Deanda teringat kalau Tira, adalah salah satu putri yang sejak kehadirannya di istana sebagai tunangan Alvero waktu itu, selalu menyambutnya dengan ramah dibandingkan dengan penghuni istana lainnya, kecuali Vincent tentunya, ayah mertua yang begitu menyanyanginya.
Fuih… untung saja Tira tidak berpikir yang lain, sehingga aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi kepadanya. Yang Mulia benar-benar selalu saja mencari kesempatan untuk dapat bercinta.
Deanda berkata dalam hati dengan lega karena Tira tidak berpikir yang aneh-aneh barusan.
__ADS_1
“Jadi bagaimana kelanjutannya? Ini kakakmu Alvero sudah selesai urusannya dengan Evan, mungkin kamu bisa berbicara langsung dengannya ya sekarang, supaya lebih jelas.” Begitu mengakhiri kata-katanya, Deanda langsung menyodorkan handphone di tangannya kepada pemilik aslinya yang menerimanya dengan wajah bertanya-tanya.
“Hallo Tira, bagaimana kabarmu di sana? Aku dengar di sana kamu sedang ada masalah dari kakakmu Deanda.” Suara bariton milik Alvero yang terdengar berwibawa, membuat Tira tersenyum lega.
Walaupun secara fisik, Alvero tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya dengan menyentuh kepala, atau memeluk bahunya, tapi sikap dan tindakan Alvero selama ini padanya, sudah cukup membuat Tira tahu kalau kaka sepupunya itu begitu menyanyanginya seperti adik kandungnya sendiri.
Meskipun sampai saat ini Tira tidak tahu tentang alergi wanita yang dialami Alvero, tapi Tira tidak pernah menganggap Alvero uang memang tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya dengan sentuhan fisik sebagai suatu masalah besar.
“Ah, begini Kak…. Bukan amsalah besar sebenarnya, hanya saja ini berhubungan dengan pencapaian nilaiku di kampus. Ini tentang Ernest….”
“Apa yang bisa membuat keberadaan Ernest mempengaruhi nilai kuliahmu?” Alvero langsung memotong perkataan Tira.
“Itu… dia kan memang mengambil banyak kelas yang sama denganku. Salah satunya adalah kelas musik mata kuliah harmoni, dan aku kebetulan satu kelompok dengannya untuk menyelesaikan tugas untuk penilaian akhir mata kuliah ini.” Tira menghentikan kata-katanya sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1
“Lalu apa masalahnya Tira? Justru dengan Ernest satu kelompok denganmu, dia bisa lebih intens menjadi pengawalmu tanpa perlu mencari banyak alasan agar bisa sering-sering bersamamu.” Jawaban Alvero membuah Tira mendeee…ssah pelan.
“Masalahnya, Ernest kan bukan orang musik Kak. Bagaimanapun aku tidak mau dia menghancurkan nilaiku karena kelompok musikku gagal.” Meskipun merasa tidak enak hati menyampaikan itu, akhirnya Tira mengatakan tentang kegalauannya pada Alvero yang langsung tersenyum.
“Tira… apa kamu lupa siapa Ernest sebelum menjadi pengawalmu? Dia adalah pengawal pribadi yang disiapkan untukku bahkan sebelum usianya mencapai 10 tahun. Sebuah posisi khusus dimana apa yang harus aku pelajari, dia juga harus mempelajarinya juga, meskipun dia tidak dituntut untuk bisa menguasainya sebaik aku….” Alvero menghentikan perkataannya sesaat sambil melirik ke arah Deanda yang sengaja mendekatkan telinganya ke arah handphone Alvero agar bisa sedikit mendengar tentang apa yang dibicarakan Tira dan suaminya itu.
“Memang Ernest sejak kecil dituntutu untuk lebih banyak berlatih ketahanan fisik dan bela diri, termasuk menggunakan senjata dan juga strategi bertempur. Tapi sedikit banyak dia juga mempelajari tentang ekonomi, sistem pemerintahan, politik, termasuk musik karena dia disiapkan sebagai pengawal pribadiku yang harus handal dalam banyak hal.” Deanda yang baru pertama kalinya mendengar tentang hal itu sedikit membeliakkan matanya, baru sadar ternyata untuk menjadi pengawal pribadi Alvero, Ernest dan yang pasti Erich juga harus belajar sedemikian banyak hal, bukan sekedar belajar untuk bertarung.
Sedang Tira sendiri, tidak kalah kagetnya mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Alvero, dan ada sedikit rasa bersalah menelusup dalam hatinya karena merasa sudah begitu meremehkan dan menganggap rendah Ernest.
Ternyata, aku memang tidak mengenal Ernest sama sekali. Sudah seharusnya aku tidak mengangap remeh Ernest. Pantas saja kak Alvero begitu yakin saat memilih Ernest sebagai pengawal pribadiku, dan membuatnya menyamar menjadi mahasiswa di kampus dengan jurusan musik yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya yang sekarang.
Tira berkata dalam hati sambil menggigit bagian bawah bibirnya dengan wajah merasa bersalah.
__ADS_1