
Apa maksud dari kata-kata Evan barusan tentang Ernest? Apa mungkin…. Ernest memiliki alasan yang lain maksudnyaa adalah… karena dia cemburu pada pak Luis? Apa itu artinya… Ernest benar-benar mencintaiku?
Tira berkata dalam hati dengan dada berdebar membayangkan apakah benar Ernest merasa cemburu pada Luis, apalagi Ernest sempoat mengungkapkan sikap Luis yang aneh terhadap Tira, tidak segalak kalau dia bersikap pada mahasiswa lain, membuat Tira semakin berharap bahwa memang pemikirannya itu benar.
“Alvero… biarkan saja Evan ikut bersama Enzo dan Tira. Toh itu tidak akan merugikan siapapun. Justru Evan bisa membantu untuk melakukan penilaian terhadap siapa penyelamat Tira itu. Seperti kata Ernest, kalau dia hanya sekedar dosen biasa, tidak akan semudah itu dia bisa membongkar aksi teror yang tersusun rapi seperti itu.” Kali ini Ornado ikut angkat bicara setelah mendengar pembicaraan mereka.
Begitu mendengar tentang kasus teror yang dialami oleh Tira, sebenarnya Ornado langsung menawarkan bantuannya, hanya saja waktu itu Alvero mengatakan bahwa hal itu sudah ditangani oleh Ernest yang pasti akan mampu membongkarnya.
Apalagi setelah itu ada kabar bahwa peneror sudah tertangkap, membuat Ornado tidak lagi ambil pusing dnegan kasus itu, menganggapnya semua sudah beres.
Akan tetapi dari pembicaraan barusan, membuat hati Ornado kembali tergelitik untuk ikut campur, paling tidak membantu memberikan masukan pada mereka, meskipun Alvero tidaka akan menerima bantuannya berupa para tentara miliknya yang bisa saja dalam hitungan jam dia kirimkan dari Italia secara langsung.
Seorang Ornado begitu membenci seorang pria yang berani melakukan teror pada seorang wanita, apalagi wanita lemah yang tidak memiliki kemampuan untuk melawan, yang baginya adalah seseorang yang seharusnya selalu dilindungi, bukan ditindas dan diteror.
Bagi Ornado yang begitu menghargai keberadaan seorang wanita, hal itu adalah hal yang paling pengecut dan memalukan sehingga seorang pria tidak layak disebut sebagai pria sejati.
__ADS_1
Dari apa yang pernah terjadi pada Cladia di masa lalu, entah itu berkatitan dengan Edi, Edo, Robi maupun Dario, membuat Ornado semakin tidak menyukai sikap peneror yang baginya harus dihabisi secepat mungkin agar tidak membahayakan dan menimbulkan korban.
“Sepertinya kata-kata Ad sangat masuk akal. Kamu bisa pergi bersama Enzo dan juga Tira, Evan. Aku harap kamu bisa ikut melakukan penilaian terhadap apa yang sedang terjadi.” Akhirnya Alvero memilih untuk mendengarkan saran dari Ornado.
“Dengan adanya Evan yang datang bersama Enzo, paling tidak akan membuat orang lain tahu bahwa Tira bukanlah gadis yang bisa ditindas dengan mudah, karena ada orang-oranag hebat yang selalu siap untuk melindunginya kapan saja. Meskipun orang itu tidak tahu status Tira sebagai putri Gracetian, paling tidak dia tahu bahwa Tira bukan gadis biasa.” Alvero melanjutkan kata-katanya dan akhirnya melanjutkan kembali makannya.
“Maaf semuanya, sepertinya aku harus segera pergi sekarang kalau tidak mau terlambat sampai ke kampus. Steven juga baru saja memberiku kabar kalau dia sudah ada di halaman mansion.” Tira berkata sambil menggeser kursi yang di dudukinya dan bangkit berdiri.
“Tira… hati-hati….” Perkataan dari Deanda langsung dibalas dengan sebuaha anggukan kepala oleh Tira yang sebentar kemudian sudah melangkah keluar dari mansion untuk menemui Steven dana berangkat ke kampus.
Ernest yang mengetahui bahwa tadi pagi Tira mengirimkan pesan kepada Steven dan meminta laki-laki itu menjemputnya di mansion keluarga Shaw tampak pandangan matanya sulit sekali beralih dari pintu ruang kelas yang harus dia hadiri hari ini bersama Tira.
Beberapa kali Ernest berusaha mengalihkan fokusnya dengan mencoba membuka-buka buku yang menjadi materi kulihah hari ini, dan menyiapkan tugas yang sudah dikerjakannya untuk kuliah hari ini.
Akan tetapi, dada Ernest terus berdebar dan hatinya berasa tidak sabar menunggu kehadiran sosok Tira yang terakhir dia lihat dua hari lalu, karena kemarin Tira sengaja absen dari kuliahnya untuk menenangkan diri setelah kabar tertangkapnya Robin sebagai penerornya dia dengar dari Edi.
__ADS_1
Debaran dalam dadanya membuat Ernest pada akhirnya tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari arah pintu masuk kelasnya hari ini, menunjukkan bagaimana besarnya keinginan Ernest untuk melihat sosok Tira, meskipun dia sadar tidak seharusnya dia bersikap seperti itu jika dia ingin menekan perasaan sukanya pada Tira.
Setelah beberapa lama penantiannya tidak memberikan hasil, Ernest segera melirik jam di pergelangan tangannya.
Sudah kurang dari 5 menit kelas akan dimula, tapi kenapa putri belum juga miuncul di kelas ini? Tidak biasanya putri datang menghadiri kelasnya dengan waktu yang begitu dekat dengan dimulainya jam pelajaran. Apa ada sesuatu yang terjadi pada putri? Apa ada teror lagi yang dialami oleh putri?
Ernest bertanya-tanya dengan sikap gelisah karena khawatir, sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Steven yang bertugas menjemput Tira hari ini.
Steven, apa putri sudah bersamamu? Ada dimana posisi kalian sekarang? Apa putri sudah sampai di kampus dengan selamat?
Sambil mengetuk-ketukkan ujung pena yang dia pegang di atas meja, Ernest terus melihat ke layar handphonenya, menunggu jawaban dari Steven yang tak kunjung tiba.
Kenapa Steven tidak segera membaca pesanku? Apa karena dia masih menyetir? Ah… seharusnya Edi ikut bersama Steven sehingga aku salah satu dari mereka bisa membalas pesanku. Akh… kenapa aku bisa menjadi orang yang tidak sabaran seperti ini?
Ernest yang sudah semakin gelisah kembali berkata dalam hati dengan mata yang terlihat sedikit membesar begitu melihat bagaimana ada tanda yang menunjukkan bahwa Steven sudah membaca pesannya dan sedang mengetikkan pesan balasan untuknya.
__ADS_1
Baru saja pesan masuk dari Steven yang mengatakan bahwa dia baru saja meninggalkan kampus dan belum sempat dibaca oleh Ernest, ujung mata Ernest menangkap adanya sosok Tira yang berjalan memasuki pintu ruang kelas.