MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
BANTUAN ALVERO


__ADS_3

Hah... aku baru tahu kalau ada seorang pengawal istana Gracetian setampan laki-laki di depanku ini. Sayang sekali dia hanya seorang pengawal kerajaan. Andai saja dia seorang bangsawan, aku pasti akan mengejarnya mati-matian.


Diana berkata dalam hati sambil menatap ke arah Ernest tanpa berkedip sedikitpun, meskipun terlihat jelas saat ini fokus Ernest hanyaa kepada Tira, tidak perduli dengan keberadaan Diana yang tadi sempat memarahinya dengan suara cukup keras.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya Putri, saya terpaksa melakukan hal tadi, karena perintah dari putra mahkota Alvero." Ernest berusaha menjelaskan kepada Tira tentang alasan kenapa dia berbuat senekat itu tadi.


Desya yang hampir berjalan mendekat ke arah mereka langsung menghentikan langkah kakinya begitu mendengar nama Alvero disebutkan oleh Ernest.


Nama kakak laki-laki tirinya yang selama ini sudah membuatnya tergila-gila dengan rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan itu, berhasil membuat Desya menghentikan dirinya untuk datang kesana, dan memilih untuk berpura-pura tidak terlibat sedikitpun dengan masalah barusan.


Bisa gawat kalau kak Alvero melihatku terlibat dalam keributan bersama Tira, dan berpikir kalau aku tidak bisa bersikap sebagai layaknya seorang putri yang baik dan pintar dalam bersikap sopan. Aku tidak mau penilaian kak Alvero terhadap aku jadi buruk karena itu.


Desya berkata dalam hati sambil menajamkan telinganya agar bisa mendengar lebih lanjut pembicaraan antara Ernest dan Tira selanjutnya.


Dan akan menjadi masalah besar jika sampai kak Alvero tahu kalau dalang di balik semua itu adalah aku. Hah... bisa benar-benar celaka aku. Aku harus membuat kondisi dimana kak Alvero tidak mengetahui tentang kebenaran ini.


Desya kembali berkata dalam hati dengan hati merasa was-was, seperti pencuri yang sedang dikejar-kejar oleh polisi.


"Eh, kak Alvero?" Tira mengucapkan kata-katanya dengan kening sedkit berkerut, kenapa tiba-tiba nama Alvero disebutkan oleh Ernest, padahal dia yang sudah merebut gelas minuman itu dari tangannya.


Untung saja… sepertinya putri percaya dengan perkataan putra mahkota tentang minuman itu, dan syukur aku bisa merebut minuman itu tepat pada waktunya sebelum putri benar-benar meminumnya.


Ernest berkata dalam hati dengan nafas leganya, karena dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Tira kalau sampai dia benar-benar meminum minuman itu.

__ADS_1


Ernest mengingat apa yang sudah terjadi beberapa menit sebelum dia merebut minuman milik Tira tadi.


Pandangan mata Alvero yang sedang menatap dengan dahi mengernyit ke satu arah, membuat Ernest jadi ikut mengarahkan pandangan matanya kesana, dimana tampak Erich sedang berlarian ke arah mereka berdua dengan mata yang sesekali tampak melirik ke arah Tira.


“Kenapa kamu berlarian seperti dikejar penjahat Erich?” Alvero langsung bertanya begitu Erich sampai di depannya.


“Maaf Putra Mahkota Alvero, ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Anda. Ijinkan saya untuk membisikkannya, karena hak ini tidak bisa didengar orang lain dengan sembarangan.” Erich berkata sebelum akhirnya membisikkan apa yang dia ketahui tentang rencana jahat Desya kepada Tira ke telinga Alvero, begitu Alvero memberinya ijin kepada Erich dengan sebuah anggukan kepala.


Begitu Erich menceritakan tentang apa yang dia dengar di taman tadi, beberapa kali Alvero tampak mengernyitkan dahinya, kadang matanya menyipit, dan tangannya terkepal erat menahan emosi.


Ernest yang ada di samping Alvero saat itu, hanya bisa diam dan menunggu karena satu katapun, dia tidak bisa mendengar apa yang sedang dikatakan Erich pada Alvero.


“Berikan perintah Anda selanjutnya untuk mencegah tindakan jahat itu Putra Mahkota.” Erich langsung berkata setelah dia selesai menceritakan apa yang sudah terjadi tadi.


Menolong putri Tira? Memang apa yang akan terjadi pada putri, sedang kan sekarang dia tamapak sedang menikmati pesta ulang tahunnya bersama yang lain.


Ernest berkata dalam hati dengan wajah terlihat begitu penasaran, membuat Alvero sekilas menceritakan apa yang baru disampaikan Erich padanya.


Hati Ernest langsung berdegup dengan begitu kencang begitu mendengar cerita dari Alvero tentang rencana licik Desya pada Tira, apalagi saat Alvero menceritakan bagaimana buruknya efek yang ditimbulkan dari alergi Tira terhadap alkohol.


“Kita tidak punya banyak waktu. Lihat, Tira sudah menerima sodoran gelas berisi minuman beralkohol itu. Cepat kamu kesana dan rebut minuman itu sebelum dia meminumnya, dan berikan alasan bahwa akulah yang sudah memesan minuman itu dari dapur istana.” Alvero berkata dengan sedikit mendorong tubuh Ernest, agar segera menuju ke tempat Tira berada dan merebut gelas itu dari tangannya dengan dada yang berdegup sangat kencang, berharap dia benar-benar tidak terlambat untuk itu.


# # # # # # # #

__ADS_1


“Ernest….” Tira memanggil nama Ernest begitu dilihatnya Ernest yang melamun dan tidak menjawab apa yang baru saja ditanyakannya kepada Ernest.


"Benar Putri. Putra mahkota Alvero meminta kepada saya untuk mengambil gelas berisi jus ini, karena menurut beliau, ini adalah minuman yang dipesan oleh beliau secara khusus tadi pada orang bagian dapur istana." Penjelasan Ernest membuat Tira langsung tersenyum lega, karena alasan Ernest melakukan tindakan tidak sopan padanya tadi, adalah sebuah alasan yagn sangat kuat, dan walaupun bukan Ernest, pasti orang lain yang diperintah oleh Alvero, akan melakukan hal yang sama dengan Ernest.


Untuk Desya dan Diana, begitu Ernest memberikan penjelasan seperti, itu, mereka langsung saling berpandangan dengan diam-diam dengan wajah terllihat takut dan gemetar.


Siapa yang tidak mengenal Alvero Adalvino? Seorang putra mahkota Gracetian yang dikenal begitu keras dan arogan, yang tidak akan dengan mudah memberikan pengampunan pada seseorang yang bersalah padanya, membuat banyak orang begitu menjaga sikap dan tingkah lakunya, saat berhadapan dengan Alvero, atau bahkan berada di dekat sosoknya yang dingin dan tidak mudah untuk berbelas kasihan kepada orang lain.


"Ah, harusnya aku yang minta maaf karena tanpa aku tahu, aku hampir saja merebut minuman yang sudah dipesan oleh kak Alvero.... Aku jadi merasa tidak enak hati Ernest...." Tira berkata kepada Alvero yang berdiri tidak jauh dari sana, tapi tampak sedang sibuk menghabiskan waktunya berbincang dengan Enzo dan kedua orangtuanya.


Pembicaraan antara Tira dan Ernest cukup membuat wajah Desya sedikit memucat dengan seketika itu juga.


Apa maksudnya kalau minuman itu adalah pesanan khusus dari kak Alvero… padahal jelas-jelas minuman itu aku yang meminta pada pelayan itu itu membuatnya dan berpura-pura memberikannya kepada Diana. Apa itu artinya….


Desya menghentikan kata-katanya dalam hati sebentar, dengan wajah terlihat panik.


Kak Alvero memang sudah tahu tentang rencanaku untuk mempermalukan Tira dengan memberikan minuman itu padanya? Siapa yang sudah membocorkan hal ini kepada kak Alvero? Benar-benar lancang!


Desya melanjutkan kata-katanya sambil melangkah mundur, merasa cukup kaget begitu menyadari tentang hal itu, apalagi dilihatnya Alvero baru saja menatap ke arahnya dengan tatapan yang terlihat begitu tajam dan dingin.


Dan bukan hanya itu saja, dengan langkahnya yang elegan dan menunjukkan wibawanya sebagai salah satu penguasa kerajaan Gracetian, Alvero berjalan mendekat ke arah Tira dan yang masih berbicara dengan Ernest.


Hal itu membuat wajah Desya maupun Diana sama-sama terlihat begitu tidak tenang, sungguh memancarkan kegelisahan yang dalam dan kekhawatiran.

__ADS_1


Sedangkan Tira sendiri merasa tidak enak, karena saat ini dia berpikir dia sudah berani-beraninya merebut minuman yang sudah dipesan oleh kakak sepupunya, yang merupakan seorang putra mahkota Gracetian.


__ADS_2