
“Meskipun jika berhasil kita tetap tidak akan bisa mendapatkan info pesan yang dituliskan disana secara utuh karena di dalam rekaman itu, layar handphone milik Robin terlihat hanya sebagian saja Tuan Ernest." Steven kembali berkata tanpa menoleh ke arah Ernest karena matanya terus fokus pada layar laptop, dimana perlahan-lahan, tapi Ernest bisa melihat gambar itu bisa semakin lama semakin bisa dilihat meskipun awalnya terlihat buram.
“Tidak masalah Steven, yang penting kita coba terlebih dahulu memperkuat temuan petunjuk kita. Pelan-pelan kita akan bersama coba untuk memperkirakan apa yang terlihat di rekaman itu. Yang pasti topi itu sudah menjadi petunjuk untuk kita. Kita tinggal memperkuatnya dengan petunjuk lain sehingga dia tidak bisa lari lagi dan berkelit." Ernest berkata sambil menepuk-nepuk bahu Steven, memberinya semangat kepada Steven yang sedang berjuang membuat petunjuk itu agar terlihat semakin jelas dan bisa dibaca dengan lebih mudah.
Setelah beberapa lama berkerja keras, akhirnya Steven menarik nafas panjang dengan senyum lebar tersungging di bibirnya dan wajah puas karena pada akhirnya dia berhasil membuat kata-kata yang ada layar handphone itu bisa terbaca dengan cukup jelas.
"Kita akan coba melihat kesamaan pesan yang tertulis di rekaman itu dengan pesan-pesan yang dikirimkan ke handphone putri Tira, untuk membuktikan bahwa memang dia yang sudah menuliskan pesan-pesan teror itu." Ernest berkata sambil menarik salah satu kursi yang ada di dekatnya, agar dia bisa merasa lebih nyaman untuk menyamakan kedua pesan itu.
Setelah duduk dengan nyaman, Ernest membuka handphonenya dimana disana tertulis pesan-pesan dari peneror ketika dia diketahui sedang berada di perpustakaan, dan berencana akan melakukan pencocokan dengan pesan yang tertulis di layar handphone Robin.
Tira, aku sungguh sangat kecewa padamu.
Sepertinya, kamu benar-benar tidak memperdulikan peringatanku. Kamu benar-benar sudah meremehkan perasaanku yang tulus mencintaimu dan rela melakukan apa saja untukmu. Bahkan kamu dengan beraninya, terlihat begitu mesra bersama dengan Ernest.
Aku tidak akan memaafkan Ernest yang berani menggodamu seperti itu.
Kita tunggu saja pertunjukan bagus berikutnya dengan tokoh utama Ernest yang tidak tahu diri itu.
__ADS_1
Aku akan membuat Ernest menyesal sudah berani berusaha merebut milikku.
Kamu adalah milikku, selamanya hanya milikku, kamu harus ingat itu dengan baik Tira.
Katakan pada Ernest bahwa kamu menolak cintanya, katakan padanya jangan meneruskan cintanya padamu, atau aku tidak akan menyayangkan darahnya tertumpah membasahi bumi, menjadikan tubuhnya sebagai pupuk bagi tanaman liar.
Setelah melihat pesan-pesan itu dari handphonenya, mata Ernest berpindah, mengawasi pesan yang tertulis di layar sebagian layar handphone yang sebagian tertutup tubuh Robin, sehingga hanya 1/3 dari layar hanpdhone milik Robin yang terlihat di rekaman itu.
Saat itu terlihat Robin dalam posisi Robin sedang mengetik tepat di samping tas ranselnya yang sedikit terbuka dan tidak sengaja menunjukkan sebagian dari topinya yang ada inisial huruf TL terbordir di salah satu sisi topinya.
.... benar-benar tidak .... Kamu benar-benar.... yang tulus mencintaimu.... apa saja untukmu.... beraninya, terlihat begitu.... Ernest.
.... memaafkan Ernest.... seperti itu.
.... pertunjukan bagus berikutnya.... utama Ernest.... tahu diri itu.
.... Ernest menyesal sudah.... merebut milikku.
__ADS_1
.... selamanya hanya.... harus ingat itu.... Tira.
..... bahwa kamu menolak.... jangan meneruskan cintanya.... tidak akan menyayangkan darahnya.... menjadikan tubuhnya..... bagi tanaman liar.
Ernest mencoba menuliskan titi-titik yang kosong itu dengan kata-kata yang ada dalam pesan untuk Tira waktu itu, san mencoba melihat apakah itu benar-benar cocok dan pas.
Baik Edi dan Steven yang ikut berusaha menyambungkan kata-kata yang hilang itu dengan pesan yang tertulis secara lengkap di hadphone Ernest terlihat beberapa kali menarik nafas dengan wajah tegang, karena dari awal kalimat tampak begitu jelas bahwa pesan itu terlihat begitu persis sama jika mereka memasukkan kata-kata yang hilang seperti kata-kata yang ada di handphone Ernest.
“Tuan Ernest… sepertinya tidak ada keraguan lagi. Pelaku teror itu adalah Robin Stone….” Edi berkata pelan dengan perasaan yang bercampur aduk.
Antara tidak percaya karena kaget, senang dan puas karena akhirnya perjuangan mereka untuk terus melakukan penyelidikan membawa hasil.
“Seperti yang kamu katakan, memang sepertinya dia adalah pelaku teror pada putri.” Ernest berkata dengan suara pelan, setelah itu menggigit bagian bawah bibirnya, karena dalam hatinya sungguh merasa masih emngganjal dan terasa tidak tenang, seolah dia tidak yakin sepenuhnya kalau Robin bekerja sendirian untuk melakukan teror pada Tira yang bagi Ernest terlihat seperti pekerjaan orang yang begitu diatur dengan rapi dan sangat hati-hati, meskipun di beberapa kejadian Ernest merasa pelaku teror sudah bertindak ceroboh sehingga memberikan petunjuk yang sangat jelas tanpa pelaku sadari.
“Steven, Edi, kumpulkan semua info dan berkas yang ada yang sudah kita temukan, aku akan mencoba menghubungi pak Romeo untuk membantu kita menyelesaikan masalah ini, karena di sini kita adalah orang asing, sehingga harus meminta bantuan orang dalam untuk menangani masalah ini.” Ernest berkata sambil menggeser kursinya mundur, dan bangkit dari duduknya.
Romeo yang merupakan salah satu dosen di kampus tempat Tira menimba ilmu, adalah warga asli negara Amerika yang memiliki istri yang berasal dari negara Gracetian, merupakan orang yang sudah ditunjuk oleh Ernest untuk membantunya selama menjalani penyamarannya seebagai mahasiswa jurusan musik.
__ADS_1