MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
SEBUAH TEKAD BERDUA


__ADS_3

Ernest… apa kata-kataku sudah menjadi beban untuknya? Apa aku salah saat aku menyatakan keseriusan hubunganku dengannya? Apa bagi Ernest, hubungan kami ini hanya sekedar coba-coba berhadiah saja?


Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Tira tanpa bisa dia kendalikan lagi, dan membuat perasaannya merasa gamang, dan membuatnya memilih untuk menatap ke arah luar mobil melalui jendela kaca yang ada di sampingnya.


Begitu mobil sudah berhenti dengan benar, Tira yang masih melamun tampak tenggelam dalam lamunannya, sampai tiba-tiba dia tersentak kaget begitu merasakan dua lengan kokoh milik Ernest, tiba-tiba memeluknya dari arah samping dengan erat, dan dengan sengaja, Ernest meletakkan dagunya di bahu Tira, dengan wajah menghadap ke wajah Tira, sehingga membuat hidung mancungnya menyentuh pipi Tira, dan nafasnya yang terasa hangat, menyapu wajah kekasihnya yang cantik itu.


“Aku sungguh mencintaimu Tira… aku tidak menyangka sebesar itu pula kamu sudah mencintaiku di usiamu yang masih sangat muda, dan bisa saja kamu masih ingin bermain-main dan menganggap hubungan kita hanya sekedar coba-coba….” Kata-kata Ernest yang diucapkannya dengan begitu dekat, sehingga Tira bisa merasakan segarnya nafas Ernest, membuat dada Tira seolah berhenti berdetak karena itu.


“Tira… kamu tahu di usiaku sekarang… bukan lagi waktunya aku bermain-main tentang hubungan asmaraku dengan seorang gadis, dan kamu tahu sampai dengan usiaku yang sekarang, belum pernah ada seorang gadispun yang memiliki hubungan percintaan denganku. Jangankan seorang kekasih, bahkan selain dirimu, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta pada seorang gadis….” Ernest mengucapkan kata-katanya sambil memejamkan matanya, menikmati bau harum dari tubuh Tira yang sungguh memabukkan dan membuat pikirannya melayang, sekaligus meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis yang sedang berada dalam pelukannya saat ini, benar-benar sudah mnjadi kekasihnya.

__ADS_1


“Bagiku… kamu adalah satu-satunya gadis yang sudah membuatku jatuh cinta dan akan selalu menjadi satu-satunya, tidak tergantikan…. Aku begitu menginginkanmu dan ingin menjadikanmu milikku seutuhnya, mengikatmu dengan sebuah tali pernikahan, sehingga kita tidak bisa lagi terpisahkan. Menjadikanmu ratu dalam hidupku, ibu dari anak-anakku… meskipun seperti katamu, mungkin kita tidak bisa segera mewujudkannya dalam waktu dekat. Kita harus banyak berjuang untuk itu.” Kata-kata lembut Ernest membuat bulu kuduk Tira meremang karena rasa cinta yang menggelora dalam hatinya terhadap Ernest.


Setelah tadi Tira sempat berpikir bahwa tidak sebesar itu cinta Ernest padanya, tapi setelah Ernest mengungkapkan semuanya dibarengi dengan pelukan erat dari kedua lengan Ernest, membuat Tira langsung membuang jauh-jauh pikiran jeleknya terhadap Ernest tadi.


“Seperti katamu tadi, mulai sekarang, kita akan selalu terbuka, dan tidak akan adalagi yang akan kita sembunyikan satu sama lain. Kamu adalah sumber kebahagiaanku, yang tidak akan pernah aku lepaskan….” Ernest berkata sambil melepaskan pelukannya, apalagi matanya menangka adanya sebuah mobil lain yang sedang mencari posisi parkir, dan terlihat mendekati posisi parkir mobil yang ditumpanginya.


Jika yang mengucapkan kata-kata itu adalah penerornya, Tira yakin dia akan menggigil ketakutan, akan tetapi saat orang yang mengucapkan itu adalah Ernest, laki-laki yang dicintainya, rasa bahagia langsung menyeruak dari dalam hati Tira, membuat gadis itu tersenyum begitu lebar.


“Aku akan ingat hal itu dengan baik, karena aku sendiri juga tidak ada niat sedikitpun untuk melepaskan diri darimu.” Wajah Tira yang sudah terlihat senang dan bahagia kembali membuat Ernest ikut tersenyum lega.

__ADS_1


“Kalau begitu… apakah aku bisa kembali ke pertanyaanku tadi? Bagaimana kamu mengendalikan dirimu sebagai pria sampai di usiamu yang sekarang ini?” Mata Ernest sedikit melotot mendengar bagaimana Tira ternyata kembali lagi pada pertanyaan yang menjurus urusan yang sangat pribadi bagi Ernest itu, dan Ernest bisa melihat dengan begitu jelas bahwa Tira benar-benar merasa penasaran dengan bagaimana jawaban Ernest tentang hal itu.


“Aku akan menjawabnya setelah kita menikah nanti, agar kamu tidak menyesal sudah berani bertanya tentang hal seperti itu padaku.” Sambil membantu Tira melepaskan sabuk pengaman yang masih mengikat tubuhnya, Ernest berkata dengan sikap berusaha sesantai mungkin, meskipun nafasnya sempat sedikit memburu karena pikirannya sempat mampir kembali pada mimpinya bersama Tira yang rasanya seperti sebuah kenyataan.


Meskipun sebenarnya aku bisa saja menjawabnya sekarang… yaitu dengan memimpikanmu. Itulah yang selama ini membuatku tidak pernah berpikir untuk mendekati gadis lain yhanya untuk menyalurkan hasratku sebagai pria normal, dan tetap mengharapkanmu meskipun saat itu aku merasa itu adalah hal yang paling mustahil untuk bisa aku dapatkan. Tapi sepertinya jawabanku barusan, adalah jawaban yang paling tepat untuk putri saat ini….


Ernest berkata dalam hati sambil berusaha menyingkirkan pikirannya yang mulai terus mengingat mimpi-mimpinya bersama Tira, sebelum dia benar-benar tidak bsia menyembunyikan pikirannya yang melayang kemana-mana di depan Tira, yang pastinya akan membuatnya sangat malu.


Mendengar jawaban dengan sikap manis dari Ernest, Tira hanya bisa menyungingkan senyum dengan wajah yang tersipu malu-malu, dan justru membuatnya semakin tidak sabar menantikan saatnya tiba dimana dia benar-benar bisa menikah dengan Ernest.

__ADS_1


__ADS_2