
π Roma, Italia.
Setelah mendapatkan kabar tentang keberadaan Sania, kini Michael dan Frederick beserta bodyguard inti tengah berkumpul di ruang kerja Frederick.
Obrolan semakin serius manakala mendapat kabar jika Antonio sudah berhasil mendapatkan waktu yang tepat untuk mendekati Sania.
"Sesuai rencana, jika Sania sulit untuk di bawa Antonio kemari, maka persiapkan dirimu dan Chania untuk datang langsung ke Perancis!"
"Iya, Pa!" jawab Michael. "Aku akan meminta bantuan Darrel untuk masalah ini! dia pasti bisa membuat Sania tidak jauh dari ruang lingkupnya dengan memanfaatkan Margareth."
"Ya! Papa tau, Margareth juga salah satu artis yang mengejar Darrel Harcourt."
Michael tersenyum miring. mendengar Papanya menyebut nama wanita yang dulu pernah sekelebat berada di hatinya saat remaja, dan tentu saja tanpa sepengetahuan sang Papa.
Berfikir antara benci dan sia - sia. Toh nama Margareth tak sedikitpun tersimpan di hatinya. Untuk apa di pikirkan. Namun jika sampai ia harus kembali berhadapan secara langsung, mungkin kebencian di masa lalu akan kembali mencuat. Karena sudah tak ada sisa tempat untuk cinta yang lain, selain untuk istrinya tercinta.
"Tuan besar, bukankah sebaiknya Tuan dan Nyonya langsung menjemput?" tanya Jack sekaligus memberi saran. "Kata Antonio Nona Sania sangat lugu. Saya rasa Nona Sania tidak akan semudah itu mau mengikuti Antonio ke Italy."
Michael dan Frederick saling pandang, dan akhirnya Frederick mengangguk setuju.
"Menurutmu bagaimana, Michael?" tanyanya. "Apa istrimu bisa di bawa ke Perancis untuk beberapa hari."
Michael mengangguk pelan, "Michael akan bicara pada Chania."
"Hemm." Frederick mengangguk. "Kabar terbaru bagaimana, Jack?"
"Kita akan mendengarkan percakapan mereka, saat Antonio berhasil mengajak bicara."
"Bagus..."
***
π 90 tahun White Lion Group.
"Selamat malam, Nona Sania Arlington!"
Sapa Antonio pada Sania yang duduk menyendiri. Tepat di meja gadis itu ada piring kecil berisi desert yang sempat ia ambil sebelum menepi dari keramaian.
"Malam." jawab Sania dengan sedikit senyum dan kembali cuek, membuang muka ke arah lain. Ia berusaha menghindari bertatap mata dengan orang asing.
' Bagaimana dia tau nama kecil ku? '
Batin Sania dalam hati.
"Bisa kita bicara, Nona Sania?" tanya Antonio. "Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
"Maaf, ada perlu apa ya?" tanya Sania. "Sepertinya kita tidak saling mengenal."
"Tentang anda, Nona Sania."
"Saya?"
"Boleh saya duduk?" tanya Antoni sebelum menjawab.
__ADS_1
"Silahkan!" jawab Sania datar.
Antonio duduk di samping kursi Sania, berjarak satu kursi. Memberi jarak karena merasa tak pantas duduk berdampingan dengan gadis sederhana yang sesungguhnya adalah seorang tuan putri.
"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Antonio. Saya datang dari Italia khusus untuk menemui Nona." ucap Antonio sopan sembari menatap takjub wajah Sania yang memang sangat mirip dengan Chania, istri bos mudanya.
"Untuk apa menemui saya?" tanya Sania. "Saya bukan siapa - siapa, Tuan. Mungkin anda salah orang. Saya yakin di muka bumi ini tidak hanya saya yang bernama Sania."
"Tapi saya yakin cuma anda yang bernama Sania Arlington, dan berasal dari Italia. Anda tentu tidak akan pernah lupa dengan Italia."
"Ya, memang. Saya selalu ingat dengan negara menyakitkan itu!"
"Kenapa menyakitkan untuk anda, Nona?"
Tersenyum miring, "Negara di mana saya dilahirkan, sekaligus negara dimana saya di buang!"
"Anda tidak di buang, Nona!"
"Nyatanya saya tidak pernah tau siapa orang tua saya."
"Kedua orang tua Nona memang sudah meninggal. Tapi saudara kembar anda masih hidup, Nona."
"Saudara kembar?" pekik Sania dengan tenggorokan yang tercekat. Ia tak pernah tau tentang kehidupannya. Yang ia tau, ia berada di panti asuhan sejak berusia 2,5 tahun. dan tanpa identitas yang jelas. Karena sebelum itu, ia tinggal bersama sepasang suami istri yang ia panggil dengan sebutan Oma dan Opa. Namun kemudian tewas karena terbunuh.
"Ya, Nona. Anda memiliki saudara kembar. Bernama Chania Arlington."
Mulut Sania sedikit terbuka. Menatap antara percaya dan tidak percaya atas apa yang di ucapkan pria asing di sampingnya itu.
"Dan saya adalah anak buah suami Nyonya Chania." lanjut Antonio, memperkenalkan diri lebih jauh.
Antonio mengeluarkan ponselnya. Mencari foto - foto pernikahan Michael dan Chania. Foto pernikahan yang kala itu di ambil seadanya oleh Jack, akibat pernikahan yang di lakukan secara diam - diam.
"Lihatlah, Nona."
Sania semakin mendelik, memperhatikan dengan seksama, perempuan yang memakai gaun putih pernikahan. Dari wajah, bentuk tubuh dan warna rambut. Semua sama seperti dirinya.
"Dan ini!" Antonio menggeser layar, memperlihatkan foto Chania semasa kecil yang ia dapat dari kiriman Jack.
Sania menutup mulutnya tak percaya. Masa kecil merekapun begitu mirip. Seolah tak ada satu titik pun yang membedakan di antara keduanya.
"Ikutlah bersama kami, Nona. Temui mereka. Mereka sangat ingin bertemu dengan Nona." ucap Antonio. "Ada sesuatu yang harus do luruskan. Tentang siapa Nona Sania sebenarnya."
Sania menoleh Antonio. Mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Menelisik wajah pria bertubuh besar dan dempal itu. Mempercayai pria asing yang baru bertemu bukankah sangat berbahaya?
Sania menggeleng, "Maaf, saya bukan anak kecil yamg akan dengan mudah mengikuti orang yang tidak saya kenal hanya dengan sebuah permen." jawab Chania kembali bersandar pada kursi. Menatap ke tengah gedung yang semakin ramai. Terlihat MC sudah menaiki podium, sepertinya acara akan segera di mulai.
"Coba lihat dengan seksama foto ini, Nyonya." ucap Antonio menunjukkan foto Chania yang tersenyum bersama Michael. Bukan lagi foto pernikahan.
Namun kali ini, ia bukannya menatap foto Chania. Melainkan menatap wajah Michael yang seperti tak asing untuknya. Sania menajamkan penglihatan sekaligus ingatannya.
' Kenapa aku seperti pernah melihat pria itu? '
Merasa seperti de javu, Sania memejamkan mata. Mencoba mengingat - ingat kembali dimana dulu ia pernah melihat pria itu.
__ADS_1
"Nona Sania belum percaya juga?" tanya Antonio membuat Sania membuka matanya.
"Siapa nama pria itu?" Sania menunjuk foto Michael.
"Beliau Tuan muda saya, Michael Xavier."
"Michael Xavier?"
"Ya, apa Nona mengenalnya?"
Sania kembali mengingat - ingat, namun sepertinya otaknya sudah buntu. Sehingga ia menggelengkan kepalanya pelan.
Suara MC mulai terdengar dari arah podium, bersamaan dengan itu ponsel Sania berdering.
"Maaf Tuan, saya harus pergi!" pamit Sania membuat Antonio mengangguk paham.
π "Maaf Tuan, saya rasa akan kesulitan membawa Nona Sania ke Italia dengan cara baik - baik!"
π "Aku tau!" jawab Jack. "Tuan Michael akan bersiap untuk menjemputnya ke Paris bersama Nyonya Chania. Kau hanya perlu terus mengawasi Nona Sania. Dan jangan sampai kehilangan jejak. Pastikan dia selalu dalam keadaan aman."
π "Saya paham, Tuan."
π "Hem.."
***
Setelah mendengar dan mengambil keputusan untuk menjemput secara langsung ke Paris, Michael keluar untuk menemui sang istri. Dimana sang istri tengah berada di ruang tengah bersama sang Mama. Menunggunya menyelesaikan meeting penting untuk mendapatkan keadilan dirinya di keluarga Arlington.
Dua hari sudah Chania dan Michael berada di rumah utama. Membuat Chania kini terlihat lebih akrab dengan sang Mama mertua.
Tak seperti yang ia khawatirkan sebelumnya. Karena di saat sehat seperti ini, ternyata Mama Madalena adalah Mama mertua yang baik.
Chania merasa bersalah, karena sempat meragukan Madalena yang ia anggap akan memperlakukan dirinya dengan buruk, seperti saat pertama kali bertemu.
"Michael?" panggil sang Mama melihat kedatangan Michael yang di ikuti Jack dan Dimitri.
"Mom!" sebuah kecupan mendarat di pipi dua wanita terindah yang di milikinya secara bergantian.
Michael duduk di samping sang istri, sedang Jack dan Dimitri keluar rumah untuk mendatangi mess bodyguard di bangunan belakang.
"Bagaimana?" tanya Chania. Sedari tadi gadis itu resah. Ia tak sabar ingin bertemu dengan saudara kembar yang tak pernah ia ketahui.
"Kita ke Paris, besok!" jawab Michael merangkul pundak sang istri, lalu mencium pelipisnya.
πͺ΄πͺ΄πͺ΄
Happy reading πΉπΉπΉ
πΊ Wow! Tak terasa kita sudah sampai di episode 100 π₯° Sudah ada 115.000 lebih kata yang Othor tuliskan di novel ini βΊοΈ
Jangan lupa berikan dukungannya ya kak! biar Othor tetap semangat di tengah lelahnya dunia nyata... π
Sehat - sehat untuk semua reader setia SANG MAFIA!
__ADS_1
Salam Lovallena π