
Rangkaian bunga - bunga berkelopak putih bersih, berpadu dengan daun - daun hijau di bagian bawah, serta putik panjang berwarna putih, di rangkai menjadi satu. Di ikat dan di percantik dengan pita berwarna biru muda.
Melempar bunga dengan tawa suka cita, Chania segera membalikkan badan bersama sang suami. Ingin segera tau, siapa pasangan beruntung yang menerima lemparan bunga darinya.
Tidak hanya Chania, semua yang berharap mendapatkan bunga ikut mendongak mengikuti kemana arah bunga itu bergerak.
20% lagi bunga akan sampai di tangan para pujangga. Chania tampak antusias dengan mendekap erat lengan suaminya. Namun detik berikutnya ia di buat terpaku. Saat melihat dimana buket bunga pengantinnya mendarat.
Gadis yang menerima itu, gadis yang membuatnya ingin berlatih menggunakan senjata api. Ia bahkan berencana berlatih bela diri. Hanya saja sang suami belum mengizinkan, karena ia baru saja melahirkan.
"Selena..."
Selena, gadis itu justru tersenyum tipis. Ia sama sekali tak mengharapkan bunga itu. Yang ia inginkan adalah si pengantin pria. Memiliki pria itu seorang diri, tanpa perlu berbagi pada siapapun.
Namun takdir tidak ada yang tau. Siapakah di antara keduanya yang akan menjadi jodoh dunia akhirat Sang Tuan Mafia.
"Aku merasa ada yang tidak beres dengan adikmu.." lirih Darrel pada Oliver.
"Maksud kamu?"
"Bukan apa - apa.." jawab Darrel kemudian. Rasanya ia belum bisa bercerita banyak pada calon tunangannya. Tentang apa yang bisa ia rasakan dalam sekali lihat saja.
' Aku akan membahasnya dengan Michael nanti! '
Gumamnya dalam hati.
Firasat Mafia asal Perancis itu tak kalah sensitif dengan Michael Xavier, Mafia penguasa daratan Italia.
"Aku ingin mengucapkan selamat pada mereka, Mom!" ucap Selena pada ibunya.
Buket bunga sudah di tangannya, senyum terkesan setengah culas sudah ia terbitkan. Namun rasanya hanya Michael, Chania, dan Darrel saja yang paham arti senyum itu.
"Aku ingin meminta do'a pada mereka. Supaya bukan hanya bunga pengantin yang aku dapatkan." ucap Selena. "Tapi juga..." Selena tak melanjutkan kalimatnya, namun ia melihat Michael dengan senyuman penuh arti.
"Mommy akan mengantarmu. Tapi ingat Selena. Jangan bermain api! Mommy sudah tak punya apapun untuk melawan mereka!" ucap Deborah sembari mendorong kursi roda sang putri bungsunya.
"Don't worry, Mom!" jawab Selena dengan entengnya.
Dengan bantuan beberapa penjaga, Kursi roda Selena berhasil menaiki singgasana pengantin.
Deborah mendorong putrinya mendekati sepasang pengantin yang tak lepas menatap keduanya.
"Selamat, Kak Michael!" ucap Selena tersenyum bahagia.
"Thanks, Selen!" jawab Michael datar. "Kau belum bisa berjalan?" tanya Michael datar.
Menggeleng pelan setengah kecewa, "Bisakah aku memelukmu?" tanya Selena mengangkat kedua tangan ke atas sebagai permohonan meminta untuk di peluk.
Aksi Selena mengundang perhatian dua pasang kekasih yang sudah kembali duduk di kursi mereka. Begitu juga sepasang suami istri yang sebelumnya tengah asyik dengan dua cucu kembar mereka.
Michael menoleh istrinya, seolah bertanya. Belum juga Chania memberi jawaban Michael sudah mengambil keputusan.
"Selena..."
"Please! sekali ini saja!"
Menghela nafas berat, akhirnya Michael menunduk dan memeluk gadis yang dulu ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Selena dengan bahagia memeluk erat Sang Mafia. Ia dekatkan bibir dengan telinga Michael.
__ADS_1
"Bunga ini akan aku simpan! Dan aku tidak akan menikah, jika tidak denganmu, Kak!" bisik Selena sinis.
Sontak Michael menarik tubuhnya secara paksa. Ia sama sekali tidak suka dengan apa yang di katakan Selena. Tak berkata apapun, Michael hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tatapan jengah yang tak pernah ia berikan pada Selena di masa lalu, kini terpancar sempurna untuk gadis itu.
' Putri Deborah! '
Dengkus Michael dalam hati. Merasa Selena memang pantas menjadi putri seorang Deborah dengan... entahlah pria yang mana. Karena Selena bukanlah putri kandung Smith Arlington.
Jantung Selena sempat hampir berhenti berdetak, saat untuk pertama kalinya mendapat tatapan demikian tajam. Bagai pedang yang menghunus musuhnya. Namun rasa percaya diri masih bertengger di hatinya yang memang semakin membatu.
Deborah, wanita yang di juluki sebagai ular betina itu pun hanya melihat Michael tanpa mengucapkan satu kalimat pun. Rasanya ia belum bisa 100% melupakan kekalahannya.
"Selamat, Chania!" ucap Selena mengulurkan tangan pada Chania.
Menatap setengah kesal, kemudian dengan ragu Chania menyambut uluran tangan Selena. Hanya sesaat, karena Chania segera menarik tangannya kembali. Rasanya sangat risih bersalaman dengan perempuan yang terang - terangnya ingin merebut suaminya dengan segala cara.
"Jika perlu aku akan membunuhmu!"
Satu kalimat yang sempat di ucapkan Selena padanya kala itu, membuat darah Chania serasa mendidih kembali. Ingin rasanya saat ini juga ia mengambil pistol glock yang ada di balik punggung suaminya. Untuk kemudian ia praktekkan apa yang sudah ia pelajari semalam. Dengan menjadi Selena sebagai manekin uji coba hobi barunya.
Melihat Chania yang kehilangan senyumnya, Selena tersenyum sinis. Tanpa ia ketahui jika Chania sudah menyiapkan diri untuk berhadapan dengannya.
"Jika kau mengusik keluarga ku, aku tak akan segan menghancurkan mu lebih dari ini! Ingat! kau sudah tak memiliki apapun!"
Ancam Michael dingin, berbicara tepat di dekat telinga Deborah. Tentu saja kalimat itu dapat di dengar pula oleh Selena dan Chania.
Chania tersenyum menang dengan apa yang di lakukan suaminya. Sikap tegas yang membuatnya merasa di lindungi.
"Michael!" seru Deborah sedikit tertahan. "Jangan kurang ajar kamu, ya!" lanjut Deborah. "Aku memang tidak punya harta lagi, tapi kamu jangan lupa! aku juga punya keahlian yang tidak bisa dengan mudah kamu ambil!"
"Kau dan putrimu yang jangan macam - macam!" jawab Michael. "Kau salah jika menganggap aku tak bisa mengambil keahlian bela diri mu, permainan senjata mu! juga keahlian mu untuk menghabisi pria yang menjadi suamimu!" tukas Michael tersenyum dingin. "Selama ini aku hanya memberi mu pemanasan, Deborah.."
Menoleh dingin pada Selena. Sepertinya Michael sudah tak menghiraukan posisinya yang saat ini tengah menjadi pusat sorotan banyak mata. Toh, ia terbiasa menebar aura dingin dimanapun ia berada.
Berbeda dengan Chania, yang terbiasa menebar aura santai dan baik hati. Kini di buat bingung sendiri. Harus tersenyum bahagia, atau harus ikut memasang wajah culas. Bagaimana jika kamera menangkap ekspresi nya yang buruk terhadap tamu?
Pastilah mempengaruhi imej sang suami di hadapan umum dan media masa.
"Bawa dia turun!" titah Michael pada Deborah. Kemudian ia tarik pinggang istrinya, untuk lebih dekat dengannya.
Selena membuang muka saat melihat satu tangan Michael yang melingkar di sisi kiri perut ramping Chania.
Deborah turun dari singgasana, dan segera membawa Selena meninggalkan ballroom. Rasanya sangat tidak tepat berada di sana. Apalagi mata para pengawal Michael terus saja mengikuti pergerakannya.
***
"Are you Ok?"
"Hem.." Chania mengangguk dengan senyum tipis.
"Ini adalah hari bahagia kita. Jangan buat pikiranmu terbebani oleh ulah mereka, Sayang!"
"Aku tau, Honey!" jawab Chania menghadap suaminya. Menerbitkan senyum terbaiknya. Menepis segala sesak di dalam dada.
"Em... sepertinya malam ini kita akan mengulang malam pertama kita!" ucap Michael melingkarkan tangannya di pinggang Chania semakin erat.
"Ck!' Chania memukul manja dada bidang suaminya. "Malam pertama bagaimana? Bukankah sudah kita lakukan dulu?"
"Haaah!" menghela nafas berat. "Kamu lupa sejak si kembar lahir, kita belum..."
__ADS_1
"Apa?" tanya Chania.
"Hemm.... aku tau kamu sudah tidak memakainya!"
"Memakai apa?" tanya Chania berlaga polos.
"Hahahah!" Michael tertawa lirih. "Jangan coba - coba menggoda ku dengan berpura - pura bodoh, Baby..." gemas Michael menatap lekat istrinya dengan senyum menggodanya.
"Hahaha! memangnya apa sih?"
"Kamu semakin membuatku bergairah jika terus saja begini!"
Tanpa peduli dimana mereka berada, Michael meringsek istrinya. Memupus jarak di antara keduanya, menundukkan kepala ke arah kanan. Kemudian mendekatkan wajahnya pada tengkuk leher Chania yang terbuka. Sengaja menggoda dengan cara memberikan kecupan lembut di kulit leher putih mulus dan sensitif istrinya.
"Honey.." rengek Chania manja. Antara malu yang bercampur dengan rasa geli yang mampu membuat sekujur tubuhnya memanas dalam sekejap.
"I want you.." bisik Michael kembali mengecup leher istrinya. Dan turun, mengecup tepat dimana kalung berlian menggantung di antara leher dan pundak.
"Honey!" Chania mendorong sekuat mungkin dada bidang suaminya.
"Kenapa?" tanya Michael dengan suara serak - serak basah khas miliknya saat sedang bergairah. "Kamu malu?"
"Banyak tamu!" ucap Chania dengan gigi yang mengerat gemas.
"I don't care!" jawab Michael santai.
"Nanti!" Chania mendorong dada suaminya semakin jauh.
Hingga keromantisan yang terlihat banyak mata juga mengundang banyak jepretan kamera itu harus berakhir oleh suara MC yang mengajak keduanya untuk berdansa.
***
"Aku benci wanita itu!" dengkus Selena di dalam mobil yang membawanya kembali ke rumah sakit.
"Mommy harap kamu tidak bermain api, Selena!"
"Aku hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku, Mom!" jawab Selena, "Kenapa aku harus mati sedemikian lama!"
"Kamu tidak mati! kamu hanya koma!"
"Iya... apalah itu namanya! yang jelas kenapa aku harus mengalami hal seperi itu!" keluhnya semakin emosi.
"Itu semua takdir, Selena!" jawab Deborah. "Mommy sudah melakukan segala cara untuk bisa menyelamatkan kamu! Tapi nyatanya hanya Michael yang bisa mendapatkan!"
"Itu karena Mommy terlalu banyak bermain dengan Frank!"
"Selena!" hentak Deborah.
"Mana pria itu sekarang? dia tidak menjengukku!" keluhnya. "Bukankah ada kemungkinan aku ini anaknya!"
"Selena!" hentak Deborah kembali.
Selena tampak membuang nafas kasar, namun kemudian ia seolah mendapat angin segar.
"Mom! please bantu Selen!" menoleh sang ibu penuh harap.
"Apa?"
Selena tersenyum cerah. Ia terfikir untuk satu hal yang entah apakah itu.
__ADS_1
...🪴 Happy reading 🪴...