
Jantung Michael berdetak sedikit lebih cepat, saat tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata milik Nyonya besar Madalena. Wanita yang melahirkan dirinya hingga menjadi Michael Xavier yang sekarang.
Tatapan mata yang membulat sempurna itu sudah 21 tahun tak pernah lagi ia lihat. Karena sang Mama selalu seperti wanita sakit yang lemah. Tapi kali ini, mata itu seolah menunjukkan ketegasan dan kesembuhan sang Mama.
Setengah rindu, setengah lagi khawatir jika sang Mama menentang pernikahan dirinya dengan Chania.
"Apa istimewanya wanita itu selain matanya, Michael?" hardik sang Mama dengan tatapan tajam.
Meneteslah air mata seorang Michael Xavier. Dua puluh satu tahun sudah tak pernah lagi melihat emosi sang Mama. Dan baru kali ini ia merasakan sang Mama kembali hidup seperti manusia pada umumnya.
"Entahlah Mom, Michael hanya merasa dia begitu istimewa." jawabnya lemah. "Awalnya aku hanya mengira dia berbeda dari gadis yang pernah Michael temui. Namun ternyata dia memiliki tempat tersendiri di hati Michael."
"Kamu jangan lupa siapa ibunya, Michael!" hentak sang Mama dengan tatapan yang tajam.
Kembali meneteskan air mata, Michael terharu karena amarah sang Mama terlihat begitu natural. Bukan amarah karena sakit yang di derita. Bahkan ia tak perlu kembali memperkenalkan diri, seperti 21 tahun ini.
"Mom...." Michael tak sanggup lagi berkata - kata. Ia lebih tenggelam pada rasa bahagia, karena bisa di pastikan 85% sang Mama sembuh.
"Mom? apakah rasa benci Mama pada sosok Kimberly belum juga hilang?" pertanyaan itu yang akhirnya keluar dari bibir Michael.
Tanpa menjawab, Madalena justru mendengus dan membuang muka kembali ke arah jendela dengan cara yang kasar. Seolah menunjukkan bahwa dirinya tak sudi lagi mendengar nama Kimberly di sebutkan.
"Mom?" panggil Michael lirih, namun wanita yang malam ini tampak lebih hidup daripada malam - malam sebelumnya itu hanya bergeming. Menganggap panggilan putranya hanyalah angin lalu saja.
"Mom? besok pagi Michael akan kembali ke Italia. Michael harap kesehatan Mama akan semakin membaik." ucap Michael memilih menyudahi perbincangan yang di prediksi akan sulit menemukan titi terang itu.
"Michael ingin Mama tau, bahwa Michael tak pernah sekalipun bisa menjalani hidup dengan tenang dan damai tanpa kehadiran Mama di sisi Michael." Michael menghela nafas berat. "Michael terlalu buruk untuk menjadi putra mu, Mom." Michael menunduk, mengingat betapa hitam dunia yang ia geluti selama ini.
Michael mencium buku - buku jari sang Mama dengan penuh kehangatan. Betapa ia sangat mencintai wanita di hadapannya itu. Hingga air mata Michael Xavier kembali menetes. Dan membasahi jemari sang Ibunda.
"Mom?" panggil Michael mengontrol suaranya yang parau. Mengusap air mata yang hanya akan menetes di hadapan wanita itu. Namun Madalena masih diam, membiarkan tangannya di genggam oleh sang putra tunggal.
"Maaf jika Michael harus berkhianat dengan janji Michael." ucapnya. "Tapi percayalah, Mom. Michael akan menjamin keselamatan Mama. Bila perlu tanganku lah yang akan membunuh wanita iblis itu!" desis Michael penuh keyakinan.
Michael kembali mencium tangan Madalena, sebelum akhirnya berdiri. Menghela nafas, mencium kening sang Mama cukup dalam. Menyalurkan rasa cinta dan kerinduan pada sang Ibu.
"Michael pergi, Mom. Love you." bisik Michael.
__ADS_1
Michael membalikkan badan, berat rasanya meninggalkan sang Mama untuk kembali ke Italia. Namun mau bagaimana lagi, Michael Xavier adalah penerus tunggal kerajaan bisnis sekaligus dunia hitam Sebastian di Italia.
Dengan membawa rasa kecewa karena sang Mama tak mau menerima sosok Chania dalam hidupnya. Menghela nafas, bersamaan dengan memejamkan matanya dalam, Michael melangkahkan kaki menjauh dari ranjang dan mendekati pintu.
Dua langkah kemudian . . .
"Michael?" panggil sang Mama.
Tercekatlah kaki Michael. Mendengar suara sang Mama memanggilnya, membuat Tuan Mafia itu berhenti melangkah seketika. Jantungnya seolah berhenti, keadaan yang belum pernah ia alami selama 21 tahun ini.
Dengan perasaan yang masih tak menyangka, Michael menoleh ke belakang, membalikkan badan dan menatap sang Mama yang masih melihat jendela dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Mom?" lirih Michael.
"Jika kamu menganggap Mama membenci gadis itu, kau salah besar, Michael!" ucap sang Mama tanpa menoleh pada Michael sedikitpun.
"Maksud Mama?" tanya Michael tercengang sembari kembali mendekati Mama Madalena.
Madalena menoleh sang putra, menatapnya dalam. Menyampaikan betapa banyak hal yang ingin ia sampaikan pada sang putra.
# # # # # #
Sebelum kembali ke Italia, Michael membawa Chania untuk menemui seseorang yang kini tengah berada di Chicago.
"Papa mengerti, Michael!" ucap pria yang sebagian rambutnya sudah memutih itu.
"Thanks, Pa!" jawab Michael.
"Hm.. kembalilah ke Italia!" ucap sang Papa. "Lakukan apa yang membuatmu bahagia!"
"Hm.."
Michael kembali membawa Chania ke Italia setelah pertemuan cukup panjang antara dirinya dan sang Papa, Frederick Sebastian.
# # # # # #
🍄 Roma, Italia.
__ADS_1
"Masih mual?" tanya Michael saat Chania keluar dari kamar mandi.
"Sedikit." jawab Chania tanpa menatap pria yang menunggunya dengan bersender pada dinding di luar kamar mandi.
Chania sengaja memuntahkan isi perutnya dengan mengunci pintu kamar mandi. Ia merasa tak enak hati jika muntah di hadapan pria bangsawan sekelas Michael Xavier.
"Biarkan Rudolf memeriksa keadaan mu, Baby." ucap Michael merangkul pundak Chania, dan membawanya keluar dari walk in closed.
"Tidak perlu, Honey! aku yakin, aku hanya jet lag. Sudah lama aku tidak naik pesawat." elak Chania.
"Tapi ini sangat aneh."
"Sudahlah, aku mohon. Jangan pernah panggil dokter untuk ku, jika bukan aku yang meminta."
"Kamu tidak akan pernah meminta."
"Aku akan meminta jika aku merasa sudah parah." jawab Chania membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Hm.." Michael menghela nafas berat.
# # # # # #
🍄 Pagi harinya . . .
Setelah menemukan test pack yang ia tinggalkan beberapa hari lalu, Chania segera masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan test pada urin nya.
Matahari belum muncul, namun rasa penasaran Chania cukup tinggi. Meskipun 75 % ia sudah yakin, jika ia tengah hamil. Mengandung putra seorang Michael Xavier.
Dengan jantung yang berdetak kencang, degup berirama membuat alunan yang cukup menggetarkan jiwanya di pagi hari. Chania membuka tangannya yang menutup hasil dari tiga testpack dengan merek yang berbeda.
Mata membulat sempurna, satu tangan menutup mulutnya yang membentuk huruf O besar.
Garis 2, adalah tanda bahwa ia benar - benar tengah hamil. Di tambah lambang plus di salah satu testpack membuatnya semakin terkejut.
Tiga testpack, beda merek dan model namun dengan hasil yang sama. Sungguh tak mungkin ingkar bukan.
Antara bahagia dan bingung, Chania menggenggam ketiga testpack di dadanya. Jantungnya masih terpompa cukup cepat. Satu - satunya yang membuatnya bimbang adalah, reaksi Michael jika mengetahui semua ini.
__ADS_1
...🪴🪴🪴...
...Happy reading 🌹🌹🌹...