SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 290


__ADS_3

Semua yang ada di ruangan kecuali Jio, bernafas lega begitu mendengar pengkhianatan Xiaoli hanyalah tentang Xiaoli yang mencintai seorang gadis.


Namun siapa sangka detik berikutnya, ketika Xiaoli melanjutkan kalimatnya, justru nafas mereka semua nyaris terhenti dengan sepasang mata yang membulat lebar.


Satu kalimat yang membuat dada yang baru saja melepaskan emosi, kini kembali di guyur amarah dan juga bara api yang siap membumbung tinggi ke angkasa.


"KARENA GADIS ITU ADALAH NONA MUDA, TUAN!"


Ucap Xiaoli dengan sangat yakin, tegas dan jelas. Di antara semua itu ada getaran di dalam dada dan juka nada suaranya. Di mana jantung di sana harus ia persiapkan jika sewaktu-waktu harus berhenti berdetak karena satu tembakan glock dari Tuan besar sudah pasti akan menembus dahinya hingga ke dalam otak.


Semua mata seketika terbelalak lebar dengan nafas yang terhenti untuk beberapa detik. Mata mereka semua kecuali Michael, hanya tertuju pada satu orang yang masih bersimpuh di atas lantai dengan tatapan tak percaya.


"Jia?" gumam Jellow menatap tak percaya pada bodyguard yang ulang tahunnya pernah ia rayakan di mess bodyguard itu.


Siapa yang menyangka jika ada seorang bodyguard yang bisa melangkah sejauh itu?


Sementara Michael yang sudah membalikkan badan dan hendak kembali duduk di singgasananya seketika membeku dengan tenggorokan yang tercekat. Hingga membuat nafasnya terhenti tanpa di sengaja.


Tatapan mata yang semula sudah terlihat teduh, seketika menajam ke arah depan begitu mendengar Xiaoli menyebutkan satu julukan yang mengarah pada satu-satunya putri yang ia miliki.


Darah yang semula mengalir dengan damai, mendadak mendidih hanya dalam kurun waktu tak kurang dari satu menit saja.


Glock yang masih di dalam genggaman pun menjadi korban dengan menjadi pelampiasan jemari yang seketika meremas kuat benda yang tak sembarangan bisa di miliki orang itu secara perlahan namun sangat kuat.


Suasana di ruang tengah kembali memanas, seiring dengan dada Tuan besar yang kembali memercikkan bara api amarah.


Glock yang semula sudah terkunci kembali di buka dengan gerakan yang sangat dingin dan pelan. Dan suara yang di timbulkan, membuat jantung siapa saja berpacu dan berdetak lebih cepat, namun tidak dengan tubuh mereka. Membuat semuanya menoleh pada benda yang di genggam kuat oleh sang Naga Hitam.


Setiap titik syaraf di dalam tubuh mereka berhenti tanpa ada gerakan sama sekali. Bahkan dada yang kembang kempis pun nyaris tak terlihat. Sepasang kelopak mata pun hanya terbuka lebar. Kalaupun berkedip, itu adalah kedipan yang sangat cepat dan singkat.


"Saya siap menerima hukuman apapun, Tuan! Jika memang kepala saya harus di kirim ke kampung halaman dalam keadaan terpisah dengan tubuh saya pun, saya siap!" ucap sang bodyguard dengan sangat yakin.

__ADS_1


Aura dingin yang di pancarkan sang mafia semakin menguar di udara, ketika tubuh itu secara perlahan bergerak untuk membalikkan badan, dan kembali menghadap Xiaoli yang  masih menunduk dalam.


Semakin bertambah waktu, maka tubuh sang mafia semakin tegap lurus menghadap Xiaoli. Tatapannya tajam menghunus sang bodyguard seolah pemuda itu adalah mangsa yang harus di terkam saat ini juga.


"Sejak kapan kau mengkhianati ku?" tanya sang mafia lirih namun terdengar sangat dingin mengintimidasi.


"Ampuni saya, Tuan!" jawab Xiaoli. "Sejak kami mengalami kecelakaan!" jawab Xiaoli Chen.


Sebuah tarikan nafas teramat dalam dan kasar, terdengar dari arah Michael, di ikuti dengan suara jemari yang menggenggam jemari lainnya terdengar sebuah bunyi gemeretak.


"Apa kalian menjalin hubungan di belakang ku?" tanya Michael masih dengan nada yang teramat dingin.


"Iya, Tuan!" jawab Xiaoli sejujur mungkin. "Saya tau saya salah, Tuan! Saya telah lancang mengungkapkan satu kalimat yang benar-benar saya rasakan secara tulus dan nyata." ucap Xiaoli. "Dan saya tidak menyangka Nona muda juga memiliki perasaan yang sama dengan saya!"


Michael semakin geram dengan cerita yang di sampaikan oleh sang bodyguard. Tak di sangka, bodyguard yang sudah di percaya untuk menjaga putrinya, justru sekaligus mengencani putrinya.


"Apa selama ini kau tidak menyadari jika itu adalah kesalahan yang fatal?" tanya Tuan besar Xavier. "Itu termasuk dalam tindak pengkhianatan! Dan kau tau aku sangat benci dengan pengkhianat!" ucap Michael dengan gigi yang mengerat saking jengkel dan marahnya dengan ulah putri dan bodyguardnya.


"Saya tau, Tuan!" jawab Xiaoli pilu dan penuh penyesalan.


Xiaoli terdiam, hanya Tan muda yang mengetahui semuanya. Tapi jika ia menyebut nama Tuan muda Xavier, sang putra mahkota pasti akan terseret karena di anggap tidak jujur ketika mengetahui satu kebohongan yang luar biasa besar.


"Tidak ada, Tuan!" jawab Xiaoli tegas, berharap sang ketua klan tempat ia mengabdi percaya dengan jawabannya.


Jio mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban sang bodyguard. Ia sungguh tak menyangka jika Xiaoli akan menjawab demikian.


"'JUJUR!" teriak Michael tak ingin semudah itu percaya.


"Saya jujur, Tuan!" jawab Xiaoli.


"Apa saja yang sudah kau lakukan dengan putriku!" desis Michael yang berharap jangan samapi Jia sudah jatuh di ranjang bersama pemuda di hadapan.

__ADS_1


Xiaoli mengangkat satu tangannya ke udara, dengan telapak tangan yang menghadap ke arah depan. Begitu juga dengan kepalanya. Sekuat diri ia berusaha untuk berani menghadap pada Tuan besar yang sudah siap dengan senjata terbukanya.


"Saya bersumpah, Tuan! Saya memang mencintai Nona muda dengan setulus hati saya! Tapi tidak sedikitpun saya memanfaatkan semua itu menghancurkan Nona muda! Saya mencintainya bukan karena siapa dia! Saya tidak sedikitpun berusaha untuk merusak beliau." ucap Xiaoli menatap dalam mata sang mafia. Seolah menegaskan jika tidak ada keraguan akan perasaan yang ia berikan untuk sang putri.


"Kau ku minta untuk menjaganya! Bukan untuk mengencaninya, pengkhianat!"


"Maafkan saya, Tuan!" Xiaoli kembali menunduk dengan perasaan bersalah yang semakin mendalam.


"Lantas, kau bisa tetap setenang itu selama ini?" tanya sang mafia. "Padahal kau dengan jelas sudah membuatku seperti orang bodoh dengan mengadali ku semacam ini!"


"Maafkan saya, Tuan! Hukum saya! Dan jangan sedikitpun Tuan memberi hukuman pada Nona Muda. Limpahkan semua hukuman kepada saya. Ini adalah salah saya yang tidak tau diri ini! Nyawa pun akan saya serahkan untuk menebus kesalahan saya!"


"Ya! Kau memang pantas di hukum!" desis sang mafia mengangkat tangan yang mana masih ada glock dnegan kunci terbuka di sana. Satu tarikan, bisa di pastikan nyawa sang bodyguard melayang di tempat.


"Bahkan nyawa mu tak bisa menebus harga diriku yang sudah kau khianati, Brengsek!!!" tegas sang mafia menekan sebutan brengsek pada laki-laki yang menjadi kekasih putrinya.


Semua yang ada di ruangan menahan nafas mereka begitu melihat glock sudah mengarah pada target yang sejak tadi sudah ingin di terkam oleh sang mafia.


Sepasang mata Michael memicing tajam pada sang bodyguard. Gigi mengerat kuat saking memburunya emosi yang ada di dalam dada.


Xiaoli mulai memejamkan matanya, pasrah dengan apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Lebih baik dia tewas di tangan sang mafia, ketimbang ia tewas di tangan musuh dan gagal melindungi keluarga Black Hold.


Alih-alih Michael meletuskan senjatanya, sang mafia justru kembali menutup kunci glock, dan dengan gerakan sangat cepat nyaris tak terlihat, ia sudah melempar senjata itu hingga mengenai dahi Xiaoli dengan sangat kencang.


Dan apa yang terjadi benar-benar membuat semua mengerutkan kening mereka, dan saling tatap satu sama lain. Seolah saling bertanya, apa Tuan besar mengampuni sang bodyguard dengan semudah itu?


Terutama Xiaoli yang sudah mempersiapkan dirinya untuk tewas hari ini. Sang pemuda membuka mata secara perlahan. Meski kepala seketika pening karena di lempari pucuk senjata dengan kekuatan sang mafia yang tidak main-main.


Dengan tatapan mata yang berkunang-kunang, Xiaoli kembali menatap wajah Tuan besar Xavier. Menunggu jawaban akan apa yang baru saja di lakukan oleh beliau. Kenapa tidak jadi di tembak?


"Kematian cepat rasanya tidak adil untuk seorang pengkhianat!" desis sang mafia sangat lirih, namun menatap tajam pada Xiaoli.

__ADS_1


Semua mata kembali terbelalak mendengar kalimat sang Tuan besar.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2