
Di sisi lain kota Roma, di waktu yang sama, mobil Limousine yang membawa Tuan dan Nyonya besar Xavier memasuki istana Michael. Tidak hanya mereka berdua. Ada seorang lagi di dalam Limousine. Dia adalah Gerald xavier Sebastian.
Putra bungsu Michael dan Chania, yang memaksa untuk pulang dari kuil setelah 4 tahun menempa ilmu. Begitu juga dengan saudara sepupunya, Zee dan Arfha yang juga ikut pulang. Namun keduanya di jemput oleh Reno dan Sania untuk pulang ke rumah mereka.
Michael turun lebih dulu dari Limousin, di susul Chania di sampingnya. Lalu sang bungsu. Remaja itu tentu tumbuh lebih besar di banding empat tahun lalu. Garis ketampanan yang memikat khas Michael Xavier pun mulai terukir jelas di wajah sang pemuda.
Michael mengajak Gerald untuk masuk ke ruang kerjanya. Sementara Chania segera meminta Jack untuk mengurus pendaftaran sekolah baru untuk Gerald di Junior High School.
Remaja menjelang 14 tahun itu masuk di kelas 8 Junior High School. Ia menolak keras home schooling seperti sang Kakak kembar. Ia tak ingin menghabiskan usia remaja nya hanya berputar di rumah, dan hanya mengenal orang yang itu - itu saja.
Gerald jauh lebih mudah bergaul dengan siapa saja di banding Jio yang dingin. Gerald pun lebih mudah berbaur dengan lawan jenisnya sekalipun.
Bahkan saat di kuil pun, ia tak segan menggoda murid perempuan saat ada kesempatan aman untuk bergabung dengan mereka.
Aaahh.. siapa dulu Bapaknya!
Hal itu tentu berbanding terbalik dengan sang Kakak laki - laki yang selama delapan belas tahun hanya mengenal satu gadis di dalam otaknya.
Termasuk Kakak perempuannya yang bahkan enggan di dekati laki - laki manapun dan seperti apapun.
Ya... Twins memang berbeda dari sang Ayah.
Michael membawa sang putra untuk berhadapan di meja kerjanya. Menatap lekat sepasang mata Gerald yang terlihat biasa saja.
Gerald sudah hafal dan mengenal baik seperti apa sifat dan sikap Ayahnya. Ketika di tatap seperti itu, ia yakin bukan amarah yang akan keluar, melainkan ...
"Bukannya Daddy ingin membanding - bandingkan kamu dengan Kakak mu, Jio." suara Michael terdengar sangat serius mengawali percakapan antara Bapak dan anak. "Tapi kamu pernah melihat sendiri, seperti apa Jio di medan peperangan. Itu karena dia serius berlatih! Dia serius melanjutkan Klan kita. Melindungi seluruh keluarga Xavier. Jujur! Daddy kecewa dengan pilihan kamu!"
"Aku tau, Daddy!" jawab Gerald santai, "lagi pula yang berjuluk putra mahkota adalah Kak Jio. Jadi biarlah dia saja yang melanjutkan perjuangan Klan Black Hold. Aku sungguh tidak suka berada di kuil!" lanjut Gerald malas membahas tentang berguru di kuil yang jauh dari hingar bingar dunia. "Meski begitu aku akan selalu berusaha untuk berdiri tepat di belakang Kak Jio! Membela Klan Black Hold, dan melindungi seluruh keluarga Xavier! Terutama Mommy!"
"Kita tidak bisa meremehkan musuh, Gerald!" sahut Michael tegas. "Kamu tau, kemarin Virginia menjadi sasaran musuh untuk menghancurkan klan kita!"
"Virginia?" pekik Gerald. "Maksud Daddy Kak Virginia temannya Kak Jio itu?"
"Hem!" Michael mengangguk ketus, "dia di culik secara licik, dan di sekap bahkan berulang kali menerima pukulan sebelum penculikan!" lanjut Michael. "Untung Jio bisa menyelematkan dia dari puluhan musuh yang menyekap. Kalau tidak?"
__ADS_1
"Syukurlah! Kak Jio memang hebat!" seru Gerald.
"Bukan itu yang Daddy pikirkan, Gerald!" sahut Michael menahan kesal. "Kamu tau seperti apa susahnya Mommy mu menceritakan semua itu pada Aunty Greta?" tanya Michael serius. "Lalu bagaimana kalau itu terjadi juga pada gadis - gadis yang suka kau goda atau terjadi pada gadis yang sedang kau kencani?" tanya Michael membuat Gerald membeku.
Michael tau, sang bungsu sepertinya akan tumbuh tak jauh berbeda darinya. Playboy dan suka mengencani banyak wanita atau model majalah dewasa sekalipun.
"Untuk itulah, kenapa Daddy ingin semua anak - anak Daddy bisa melindungi diri sendiri dan orang - orang lemah yang berada di sekitarnya. Termasuk melindungi kekasihmu kelak!"
"Hah! Kekasih?" pekik Gerald tak percaya.
Oh my God! Gerald bahkan tak pernah memikirkan tentang hubungan macam itu. Yang ada di dalam benaknya setelah kekuar dari kuil adalah berkencan ria dengan gadis - gadis cantik di sekolah baru. Tak ingin memiliki kekasih, atau menautkan hatinya pada satu wanita saja.
"Kenapa?"
"Tidak, Daddy!" sahut Gerald, "aku hanya tidak ingin memiliki status itu untuk saat ini!"
Michael memasang wajah datar, ia tak heran pun tak keberatan dengan keinginan putranya. Ia tak menyalahkan keinginan putra bungsunya itu. Mengenal lebih banyak gadis dengan berbagai karakter mereka memang termasuk hal penting di masa remaja. Meski itu tak berlaku untuk si jenius, Georgio.
"Terserah kau saja! Yang penting kamu harus berhati - hati. Kakakmu berhasil menumpas Lussio dan pasukannya, bukan berarti musuh sudah habis!"
"Aku tau, Daddy!" jawab Gerald. "Empat tahun di kuil sudah cukup untuk aku bisa melindungi diriku di saat darurat!"
***
Gadis cantik nan tangguh tengah berada di balik kemudi sebuah mobil jenis Mini Cooper. Mengikuti jejak Virginia yang mengendalikan kemudi sebuah mobil unik itu, Jia memilih Mini Cooper berwarna merah sebagai kuda besi yang ia kemudikan sendiri.
Di sampingnya ada Xiaoli yang membantu mengarahkan cara mengemudi yang baik.
Di jalanan nan sepi di area komplek perumahan elit, Jia mulai menekan pedal gas di kaki kanannya, sembari mengulur kopling di kaki kirinya.
"Pelan...." ucap Xiaoli mengarahkan.
"Wah! Semudah ini ternyata!" seru Jia saat berhasil melajukan mobil sejauh tiga kilo meter dengan berputar - putar di area komplek dengan kecepatan rendah.
"Nona Jia sangat pintar! Pastilah sangat gampang mempelajari hal baru!" puji Xiaoli tersenyum ramah.
__ADS_1
Jia melirik sekilas pada Xiaoli di sampingnya. Pemuda itu memang sangat tampan untuk kelas lelaki seumurannya. Sangat wajar jika Jia tidak keberatan meliriknya.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke kampus, aku yang menyetir?" tawar Jia berharap di setujui Xiaoli tentu saja.
"Maaf, Nona! Tidak bisa!" jawab Xiaoli cepat. "Saya tidak mau hal buruk terjadi! Karena kalau sampai itu terjadi, bisa - bisa leher saya yang menjadi penebusnya!" ujar Xiaoli.
"Ayolah, Xiaoli! Jangan bilang Daddy.... Please!" rengek Jia memohon agar bodyguard nya menuruti keinginannya.
"Tidak bisa, Nona!" jawab Xiaoli tegas. Bukan berarti ia melawan Nona Muda Xavier. Tapi itu adalah salah satu mandat dari sang Tuan Besar. Agar tidak selalu menuruti rengekan Jia yang pasti menginginkan lebih di hari pertama belajar. Hal itu sudah bisa di baca oleh Michael.
"Tch!" Jia berdecih kesal.
Xiaoli melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam menunjukkan waktu untuk berangkat kuliah.
"Sudah saatnya berangkat, Nona! Nona berhenti di depan."
"Tidak mau!" jawab Jia cepat menolak untuk berhenti dan berpindah posisi.
"Nona... sangat berbahaya mengemudikan mobil pertama kali di jalan raya."
"Aku pasti, Xiaoli!" seru Jia terus menekan pedal gas. "Jangan meremehkan aku!" ujar Jia tak ingin di bantah.
"Saya mohon, Nona! Saya masih ingin hidup! Nona tau seperti apa kejamnya Tuan Michael! Bisa - bisa kepala saya akan berlubang tidak lama lagi!" mohon Xiaoli menatap Jia dengan penuh memohon.
"Tidak mau!" seru Jia tidak peduli dengan perkataan Xiaoli. "Aku pasti bisa membawa mobil ini sampai ke kampus!"
"Nona! Saya mohon! Berhenti dan kita bertukar tempat!"
"Tidak mau!" sembur Jia menatap Xiaoli dengan setengah melotot.
Mobil yang di kemudikan Jia semakin mendekati jalan keluar komplek. Gapura besar dengan desain istimewa berhasil di lewati Jia.
Semakin paniklah sang bodyguard. Meski tidak terlalu ramai, jalan raya sangat berbahaya untuk mereka yang baru pertama kali bisa mengemudikan mobil.
"Nona, please..." Xiaoli mencoba memelas dengan sangat lembut. Namun Jia justru menggelengkan kepalanya santai, hingga mobil sampai di tepi jalan raya utama. Dimana beberapa mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Xiaoli menarik nafas dalam. Berpikir keras, akan apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman Michael.
...🪴 Happy Reading 🪴...