SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 212


__ADS_3

✍️ Hai...hai..hai... Sampai juga kita di episodenya kang Wiro. Eh Wiro Sableng maksudnya! πŸ€­πŸ˜€


Hayo... Siapa nih yang dulu suka nonton Kapak 212?


Wiro, Wiro sableng!


Sinto, Sinto gendeng!


Kurang lebih seperti itulah lagunya, yaa...


Kalau kalian pernah nonton, bisa jadi kita seumuran nih 🀩πŸ₯°


By the way.... Author ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih, pada kalian semua yang bertahan sampai di season 2 ini.


Yang mana season 2 ini tentang anak - anak Sang Mafia! Atau bisa di bilang.... Generasi Mafia!


Tak terasa Michael Xavier Sebastian, yang dulu pertama kali di munculkan dengan usianya yang sudah 31 tahun, kini sudah kepala 5 ya guys? πŸ˜€


Dan Chania Renata, yang pertama kali muncul di usia 22 tahun, sekarang sudah.... Berapa ya πŸ€”


Yang jelas sudah kepala 4 loh! πŸ˜‰


Okay... Kita lanjut baca ceritanya ya guys...


Tapi sebelum itu, semoga kita semua selalu di berikan Alla kesehatan ya...


Author di berikan tubuh yang sehat dan ide - ide brilian untuk episode - episode selanjutnya.


Sedangkan pembaca di berikan tubuh sehat dan ide tepat untuk mengatur waktu. Antara membaca dan mengerjakan pekerjaan masing - masing.


Aamiin πŸ₯°πŸ₯°


Salam, Lovallena ❀️


πŸͺ΄πŸͺ΄πŸͺ΄πŸͺ΄


Dengan menggunakan celana putih, dan sweater berwarna pink, saat ini Virginia sudah menginjakkan kakinya di atas pasir pantai.


Dua langkah ke depan, maka kakinya akan menyentuh deburan ombak yang melukis di atas pasir pantai.


Sedangkan Jio baru keluar dari Vila tepi pantai yang ia sewa untuk mereka bermalam.


Vila berukuran seperti rumah mewah dengan ukuran mungil. Dua kamar tidur mewah dengan fasilitas lengkap ada di lantai 2. Sedangkan dapur kecil dan ruang tamu ada di lantai satu. Di lantai tiga, ada Rooftop yang akan membuat siapa saja merasa lebih dekat dengan langit.


Celana pendek berwarna putih, serta kaos lengan panjang berwarna biru tua membalut tubuhnya yang tinggi menjulang.


Langkah mulai mendekati gadis cantik yang tengah menikmati udara pantai malam. Gadis itu menghadap ke arah laut yang luas, dengan ombak yang teratur. Sedang kedua tangan mengunci di belakang tubuhnya. Mata lentik itu terpejam, di antara rambut pirang keemasan yang bergerak meliuk akibat terpaan angin malam yang membuat suhu tubuh terasa lebih dingin.


Wajah cantik pun ikut di terpa angin pantai. Bukannya takut, ia justru tersenyum manis. Semanis itulah menikmati pantai yang entah, kenapa malam itu sangat sepi. Nyaris bisa di sebut sebagai pantai pribadi.

__ADS_1


Hanya ada dirinya di area pantai. Dan Jio yang ia pikir masih berada di dalam Vila. Dan orang selain mereka yang ada di pantai hanyalah para penjaga yang bertebaran di pos - pos penjagaan pantai.


Langkah sang Tuan muda Xavier semakin dekat dengan Nona muda Brown. Tangan yang semula masuk ke dalam saku celana pendeknya, kini sudah ia keluarkan. Gunanya adalah untuk....


Jio membuka kuncian tangan Virginia di belakang tubuh gadis itu secara tiba - tiba. Tentu Virginia tersentak kaget. Karena terakhir ia membuka mata, hanya ada dirinya seorang di sana.


Saat ia hendak membalikkan tubuh, tubuhnya lebih dulu di kunci oleh lengan kekar yang masih menggenggam jemarinya. Dimana kini tangannya sudah berada di depan dada, dengan tangan sang lelaki yang melingkar pula di sana.


Membuat nafas seketika tak beraturan. Dada kembang kempis menahan debaran yang di timbulkan oleh punggungnya yang menempel sempurna di dada bidang sang lelaki.


Ini sungguh kali pertama sang gadis berada di posisi macam itu.


"Dingin?"


Suara lirih yang sangat ia kenali terdengar begitu dekat dengan telinga. Bahkan bibir sang lelaki hampir menyentuh daun telinga nya. Satu cm saja jarak yang di sisakan oleh Jio. Dan itu berhasil membuat jantung sang gadis semakin berdebar hebat.


"Hm.." hanya anggukan yang bisa ia berikan untuk menjawab pertanyaan Jio. Bibir bawah ia tarik ke dalam dan ia gigit. Guna menghindari senyum yang sangat sulit untuk di bantah.


"Kenapa tidak memakai jaket?"


"Em... Aku ingin menikmati angin malam di pantai..." jawab Virginia menatap lurus ke depan.


Tentu ia tak berani menoleh ke sisi kiri. Dimana kini bagian kiri wajah Jio menempel di pundak kirinya. Bertengger dengan nyamannya. Jika ia menoleh sedikit saja, maka bibir lelaki itu akan bertemu dengan salah satu titik di wajahnya. Entah itu pipi, hidung, atau bahkan... bibirnya.


Tidak! Virginia belum siap akan semua itu.


Sunyi, hanya kesunyian tanpa suara apapun yang ada di antara keduanya saat ini. Namun jika di dengarkan menggunakan stetoskop, pasti ada suara jantung yang sedang berdetak kencang.


Pantaskah di sebut sahabat, jika hal semacam itu sudah terjadi.


Sementara Virginia hanyut dalam dekap hangat sang ... sahabat. Tangan yang melingkar di lengannya hingga mengunci tangannya di depan dada, begitu ampuh untuk mengusir dingin.


Lalu, kenapa harus sebutan sahabat lagi yang ada di antara mereka?


"Kenapa pantai ini sangat sepi?" tanya Virginia yangΒ  kehabisan bahan pembicaraan, namun ia ingin memecah keheningan malam. "Aku tidak melihat pengunjung lain yang datang sejak tadi."


Tersenyum tipis, "karena Tuhan sedang menurunkan bidadari yang tak boleh di lihat sembarang orang di pantai ini." jawab Jio. "Jadi aku harus membuat tempat ini steril." lanjutnya dengan enteng.


Virginia terkesiap, "what!" pekiknya kemudian.


Ia segera memberontak dari dekapan Jio. Hingga posisi keduanya kini berhadapan. Virginia menatap tajam dan penuh tanda tanya pada Jio yang terlihat santai - santai saja.


Rambut yang semula terbawa angin ke arah belakang tubuhnya, kini terbawa angin ke depan tubuhnya. Mengarah pada Jio yang masih menghadap ke arah pantai.


"Kamu menyewa pantai ini?" tanya Virginia dengan mata terbelalak. Mendengar jawaban Jio tadi, serta kenyataan yang ada membuat ia yakin jika pantai sedang di sewa secara private oleh sang Tuan muda.


Tersenyum hangat, sepasang mata Jio tak lepas dari wajah cantik Virginia.


"Ya!" jawab Jio kembali dengan sangat enteng dan singkat.

__ADS_1


Semakin terbelalaklah mata Virginia. Bahkan kini mulut pun ikut terbuka lebar. Menatap tak percaya dengan ekspresi Jio terlihat biasa saja. Seolah tidak berat sama sekali menyewa pantai seluas itu. Yang mana sudah bisa di perkirakan berapa puluh ribu dollar yang di keluarkan oleh Jio.


Mulut Virginia sedikit bergerak, seolah ingin berkata tapi tidak tau harus berkata apa.


"Untuk apa kamu menyewa pantai ini hanya untuk kita berdua, Jio?" tanyanya kemudian masih dengan tatapan tak percaya.


Jio menarik nafas panjang, menghelanya dengan perlahan. Ia lihat sekitarnya. Tak ada siapapun. Bahkan penjaga pos pun sudah pergi sejak ia keluar dari Vila. Karena sebenarnya mereka memang di tugaskan untuk menjaga Virginia, bukan pantai.


"Bisa aku bertanya?" tanya Jio.


"Apa?"


"Menurut kamu siapa aku?"


"Kamu?" tanya Virginia tak percaya akan mendapat pertanyaan yang sangat membuatnya bingung untuk menjawab.


"Iya..." jawab Jio, "siapa aku di mata kamu?"


"Kamu...."


Virginia tak sanggup menjawab. Ia menatap wajah Jio yang serius, kemudian melihat turun ke bawah sampai ujung kaki. Dan kembali menatap wajah tampan seorang Georgio Xavier.


"Katakan dengan jujur, Nia..." pinta Jio menatap lembut nan lekat sepasang mata lentik.


Sontak jantung yang shock kini kembali berdebar oleh tatapan sang Tuan muda Xavier.


"Kamu.. Adalah... Sesuatu..."


"Sesuatu apa?"


Virginia malu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia ragu untuk menjawab jujur tentang seperti apa arti seorang Jio di dalam dirinya.


"Sesuatu yang..."


Jio terus memperhatikan wajah cantik di depannya. Tak akan membiarkan wajah itu berpaling ke arah yang lain. Dan itu membuat sang gadis merasa semakin gugup.


Virginia membalikkan tubuhnya dengan sangat cepat, membelakangi Jio yang masih menanti jawaban darinya. Sedang dadanya masih kembang kempis, sembari menguatkan diri untuk berucap kata selanjutnya.


"Kamu adalah sesuatu yang tak bisa aku artikan, Jio!" jawab Virginia cepat. "Saat kamu jauh, aku selalu menantimu kembali! Saat dekat seperti ini, aku seolah tak sanggup untuk melihat matamu! Aku tidak tau kenapa harus seperti ini!" lanjut Virginia tanpa berani melihat Jio.


"Mungkin karena... karena aku bukan siapa - siapa untukmu!"


Lanjut Virginia dengan dada yang semakin berdebar. Nafas terengah hebat. Ia baru saja berkata sesuatu yang selama ini benar - benar ia rasakan.


"Aku tidak tau apa yang ada di antara kita, Jio! Apa yang kita alami sangat sulit untuk aku artikan!" lanjutnya dengan air mata yang tiba - tiba menetes begitu saja.


Ia cinta, tapi tak pernah sekalipun Jio mengatakan hal itu. Jika kali ini pernyataannya tak di anggap serius oleh Jio, dan menjadi sesuatu yang memalukan, maka dalam hati ia berjanji pada diri sendiri, akan menjauh dari kehidupan Jio.


Untuk selamanya...

__ADS_1


πŸ„ Bersambung....


...πŸͺ΄ Happy Reading πŸͺ΄...


__ADS_2