SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 241


__ADS_3

Hembusan angin malam di bukit Fields of Pealand yang terkenal sangat dingin, nyatanya tak membuat Jia yang hanya menggunakan gaun pesta dengan jaket kulit milik sang bodyguard, dan betis yang tak tertutup sehelai kain pun tak merasakan kedinginan sama sekali.


Tentu saja semua karena dekapan yang ia dapatkan dari sang bodyguard tampan dan muda dari Klan Black Hold. Dengan tubuhnya yang tinggi tegap, mampu membuat tubuh Jia yang kecil dan ramping terlindungi sempurna di dada bidangnya.


Perasaan yang secara tulus memancar dari sang bodyguard seolah menghalau hawa dingin yang menyeruak di sekitar mereka berdua.


Tatapan mata tampak masih sangat betah untuk beradu satu sama lain. Tampak sangat nyaman dengan apa yang sedang mereka lakukan. Berpelukan hangat dan berlanjut dengan sebuah kalimat ...


"Boleh kah aku mencium keningmu?" tanya Xiaoli dengan suara yang sangat berat. Berada sedemikian dekat dengan gadis yang ia puja selama ini tentu tidak mudah untuk bisa menahan diri agar tidak melakukan hal - hal yang intim. Hal - hal yang biasa di lakukan oleh setiap pasangan muda mudi di luaran sana.


Dengan wajah haru dan jantung yang semakin berdebar karena hendak di cium, Jia hanya bisa mengangguk lemah dan pasrah. Sesuatu yang belum pernah terjadi pada dirinya. Ia benar - benar tidak tau rasanya di cium oleh laki - laki selain Daddy nya, Jio dan Gerald.


Jantung semakin aktif berdetak, hingga Xiaoli dapat merasakan itu dengan jelas. Merasa dirinya juga merasakan hal yang sama, maka mendekat lah wajah Xiaoli pada wajah Jia. Mengikis setiap mili meter jarak yang tersisa, kemudian dengan sangat lembut, ia daratkan sebuah kecupan di kening sang gadis. Mencium dengan sangat dalam, dan penuh perasaan. Menyalurkan segala rasa cinta yang lama tersimpan di dalam dada.


Mencium kening sang gadis dengan sangat lembut dan dalam, juga di sertai dengan terpejamnya mata adalah bentuk pengungkapan rasa cinta melalui tindakan. Dan hasilnya sungguh membuat jantung sang wanita semakin berpacu, dan berakhir dengan perasaan nyaman dan bahagia.


Puas mencium kening yang harumnya tiada dua, Xiaoli menarik kembali wajahnya. Dan jarak kembali tercipta sekitar sepuluh senti meter. Xiaoli menatap lekat mata Jia yang terbuka secara perlahan setelah ia cium keningnya dengan sedemikian dalam.


Dua sorot mata kembali beradu dengan rasa cinta yang semakin membuncah di dalam dada. Hingga Xiaoli tak sanggup lagi menahan diri untuk tidak menatap dan mencium bibir merah muda sang gadis.


Tanpa berkata apapun, seolah tau apa yang akan di lakukan sang kekasih, Jia memejamkan matanya kembali ketika Xiaoli mengikis jarak bibir mereka. Dan untuk pertama kali bibir mereka bersentuhan dengan sangat lembut namun terasa begitu singkat. Karena Xiaoli hanya mengecup.

__ADS_1


Xiaoli kembali menarik wajahnya, ia tatap kembali wajah cantik Jia untuk melihat ekspresi sang gadis. Merasa Jia sangat tenang dan tidak menolak sekalipun, maka ia kembali mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Jia setelah pandangan mereka bertemu selama beberapa detik.


Memiringkan wajahnya, Xiaoli memberi ciuman pertama yang nyaman dan lembut untuk sang kekasih.


Sama sekali tidak menolak, Jia justru menyukai apa yang di lakukan oleh Xiaoli. Di mana dirinya merasa sedang sangat di cintai oleh seorang lelaki selain keluarganya.


Sama - sama pertama kali berciuman, sama - sama pertama kali merasakan debaran yang timbul akibat satu ciuman yang panas dan intim. Sama - sama baru merasai sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Dan ternyata rasanya.... menghanyutkan, hingga membuat jantung tak bisa berdetak dengan normal. Dan berakhir dengan isi kepala yang kosong. Hanya ada pikiran untuk kembali  mengulang momen ini suatu saat nanti.


Tidak ada ciuman yang dalam sampai lidah. Hanya bibir saja yang bergerak dan menggigit manja. Sungguh di antara mereka tidak ada yang tau jika rasanya akan seindah itu. Dimana sedikit gigitan bisa membuat aliran darah mereka terasa mengalir jauh lebih cepat.


Semua gerakan reflek terjadi begitu saja. Seperti tangan Jia yang tiba - tiba bergerak dan mengunci di belakang leher Xiaoli. Tangan kananya meremas tangan kirinya, saking gugupnya dengan apa yang ia rasakan. Apalagi ketika tangan Xiaoli memeluk tubuhnya dengan posesif, dan secara perlahan semakin erat.


Ciuman pertama memang bukan suatu hal yang mudah untuk di lakukan. Seperti mengatur nafas misalnya. Dimana keduanya harus belajar untuk mengatur nafas supaya ciuman tetap nyaman dan bertahan lebih lama.


Nafas terengah, dan Jia menunduk guna menutupi rasa malu yang tak terkira. Pipi memerah akibat mencium keharuman yang khas dari tubuh seorang Xiaoli Chen. Bagaimana harumnya tubuh itu menusuk bukan hanya sampai hidungnya saja. Melainkan sampai menembus ulu hati terdalam, dan membekas untuk kemudian dapat di rasakan kembali jika keduanya tidak sedang bersama.


Sedangkan Xiaoli sendiri berangan, jika keharuman Nona Muda memang berbeda dengan keharuman tubuh gadis biasa. Namun semua itu bukan menjadi patokan untuk Xiaoli mencintai sosok Georgia Xavier. Melainkan cinta tulus yang tumbuh di hatinya tidak memandang embel - embel apapun yang melekat pada diri sang Nona Muda.


"Apa yang membuat kamu berani mengatakan bahwa kamu juga mencintai ku, Nona?" tanya Xiaoli menatap lekat dan lembut wajah cantik Jia, tanpa melepas tangannya yang memeluk tubuh ramping Jia. "Aku hanyalah seorang bodyguard yang tidak memiliki kedudukan apapun. Tidak sebanding dengan keluarga mu, Jia..."


Jia mendongak, membalas tatapan Xiaoli dengan tatapan yang lembut. Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Namun beberapa detik kemudian Jia menggelengkan kepalanya pelan. Ia memang tidak tau dan tidak memiliki alasan untuk bisa menautkan hatinya pada sang bodyguard. Yang ia tau, bahwa ia memiliki perasaan yang tak ia miliki untuk lelaki manapun juga. Bahkan sekelas Diego Maldini sekalipun. Yang katanya anak orang kaya raya.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak tau kenapa aku bisa mencintai kamu, Xiaoli...." lirih Jia menatap lekat wajah Xiaoli.


Xiaoli tersenyum tipis. Melihat senyum tipis di wajah sang bodyguard, tangan Jia reflek bergerak dan meraba rahang tegas sang bodyguard. Meraba dengan jemari lembut, hingga menimbulkan desiran yang begitu menusuk hati Xiaoli.


Xiaoli memejamkan matanya dalam, merasakan betapa nyaman jemari lembut itu ketika menyentuh wajahnya. Dan saat ibu jari Jia mengusap pipi putih Xiaoli, tangan Xiaoli menarik jemari lentik itu, mengusapnya lembut, kemudian ia kecup punggung tangan yang putih mulus tak bercelah itu.


Betapa keharuman punggung tangan Nona Muda sangat memabukkan jiwa sang bodyguard. Jia menatap lekat tangannya yang di cium oleh Xiaoli. Lagi - lagi jantung Jia bergetar oleh sikap lembut dan romantis Xiaoli.


Dan saat momen romantis itu berlangsung, tiba - tiba suara perut yang berbunyi membuat momen romantis menjadi beku untuk beberapa detik. Dan detik berikutnya keduanya sama - sama tertawa lepas. Jia memasukkan wajahnya di dada Xiaoli karena merasa malu. Perutnya berbunyi di waktu yang sangat tidak tepat.


"Aku tadi tidak makan saat di pesta..." ucap Jia menahan malu yang luar biasa.


Xiaoli tersenyum menawan, ia dekap lebih erat tubuh itu, "Di bawah sana ada restauran sederhana, mau makan di sana?" tanya Xiaoli.


"Mau!" jawab Jia tanpa pikir panjang.


"Okay!" jawab Xiaoli.


Keduanya pun mengakhiri momen romantis dan Xiaoli sigap membukakan pintu mobil bagian depan untuk Jia yang kini resmi menjadi kekasihnya. Kekasih diam - diam tentunya.


Kemudian mobil kembali melaju untuk mencari tempat yang bisa di gunakan untuk putar balik. Dan kembali turun ke bawah.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2